in ,

4 Strategi SCG dalam Mengembangkan Bisnis

4 Strategi SCG dalam
FOTO: IST

Pajak.com, Jakarta – Siam Cement Group (SCG) mengumumkan, kinerja perusahaan pada periode kuartal 1 (Q1/2022) meningkat. Perusahaan multinasional yang memulai operasi bisnis di Indonesia sejak 1995 ini fokus pada bisnis perdagangan dan mengembangkan investasinya pada industri cement-building materials, chemicals, dan packaging. Pada kuartal pertama tahun ini, pendapatan dari penjualan mencapai sebesar Rp 66,31 triliun (4,61 miliar dollar AS), meningkat 7 persen dibandingkan kuartal pertama tahun lalu (qoq). Sementara laba periode berjalan mencapai Rp 3,84 triliun atau 268 juta dollar AS, meningkat 6 persen secara kuartalan. Ada 4 strategi  SCG dalam mengembangkan bisnisnya untuk bisa bersaing di pasar global. Chief Executive Officer (CEO) SCG Roongrote Rangsiyopash mengungkapkan, laba periode berjalan yang meningkat 6 persen (qoq) sebagian besar berasal dari peningkatan kinerja bisnis semen dan bahan bangunan dan pendapatan ekuitas non-kimia yang lebih tinggi (bisnis alat pertanian).

Baca Juga  Neraca Perdagangan Kelautan dan Perikanan Surplus

“Secara year on year (yoy), pendapatan dari penjualan meningkat 25 persen. Total aset konsolidasi SCG per 31 Maret 2022 adalah sebesar Rp 386,76 triliun, di mana 45 persen merupakan aset di ASEAN,” kata Rangsiyopash dalam keterangan tertulis Rabu (11/5/22).

Rangsiyopash juga melaporkan, berdasarkan laporan Q1/2022, total aset SCG di Indonesia adalah Rp 51,18 triliun, meningkat 14 persen (yoy). Aset itu terutama dari investasi bisnis kimia di PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP). Sementara pendapatan dari penjualan Q1/2022 SCG Indonesia tercatat sebesar Rp 6,21 triliun, meningkat 18 persen (yoy). Pendapatan ini diperolah dari unit bisnis kemasan atau SCGP (yang didominasi oleh Fajar Paper dan Intan Group) dan penjualan ekspor dari Thailand.

Baca Juga  Indonesia Berpeluang Tingkatkan Ekspor Kabel ke Ukraina

Adapun empat strategi yang dijalankan SCG meliputi, pertama, manajemen bisnis yang proaktif. Sejumlah pendekatan yang dilakukan antara lain dengan terus memantau biaya energi dan memasuki kontrak berjangka dengan hati-hati (hedging), mengelola persediaan untuk mencukupi permintaan, dan meningkatkan penggunaan energi alternatif untuk mengurangi biaya.

Kedua, peluncuran inovasi di waktu yang tepat. Seiring dibukanya kembali batas negara dan pemulihan ekonomi, SCG menawarkan high value-added product and service (HVA) untuk merespons gaya hidup ramah lingkungan.

Ketiga, investasi yang didorong oleh strategi pertumbuhan. Unit bisnis SCGC baru-baru ini merampungkan akuisisi 70 persen saham di Sirplaste, pendaur ulang plastik terkemuka di Portugal.

Keempat, percepatan Environmental, Social, dan Governance (ESG) dengan ESG 4 Plus (net-zero, go green, reduce inequality, dan embrace collaboration) dan didukung dengan tata kelola perusahaan yang baik. SCG bertujuan mencapai nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050 dan setidaknya pengurangan 20 persen pada tahun 2030.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0