in ,

Maya Watono, Direktur Marketing InJourney

Maya mengemukakan, InJourney merupakan konsep holding yang sangat menarik karena tidak pernah ada di Indonesia dan menjadi holding pariwisata terbesar di Asia Tenggara. Karenanya, dia optimistis Holding BUMN Pariwisata mampu menggerakkan ekosistem pariwisata di dalam negeri sama seperti Superholding Singapura, Temasek.

“Kita kalau tahu, di Singapura ada holding seperti Temasek, di mana bisa memaksimalkan ekosistem pariwisata singapura yang menjadi hub Pariwisata yang luar biasa,” imbuh Maya.

Tak hanya itu, Maya juga yakin InJourney bisa berkontribusi mencapai 4,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Target itu sejalan dengan penetapan InJourney sebagai Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung.

“Saya rasa 4,5 persen GDP itu tidak terlalu besar dibandingkan negara lain kalau dari sisi pariwisata, tapi memang itu effort yang cukup besar karena GDP pariwisata pada saat pandemi ini turun di bawah 4 persen,” kata Maya.

Baca Juga  Jasa Marga Raih Laba Bersih di Tengah Pandemi Covid-19

Dia menyebut, ekspektasi pemerintah terhadap pendirian InJourney cukup besar. Harapannya, holding baru ini mampu menciptakan ekosistem yang terintegrasi antara sektor pariwisata, aviasi, dan sektor terkait lainnya.

Pemerintah memandang, penggabungan ini akan membuat industri pariwisata memiliki ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir, baik dari sisi infrastruktur maupun kegiatan turunan pariwisata. Sehingga, InJourney bisa fokus membangun dan menciptakan potensi pariwisata domestik yang memiliki potensi besar tapi kurang terintegrasi.

Bukan itu saja, meski holding difokuskan pada penguatan ekosistem pariwisata domestik, pemerintah sebagai pemegang saham juga menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 17 juta orang per tahun. Sementara, wisatawan nusantara berada di kisaran 30 juta orang per tahun.

Baca Juga  Jamkrindo Targetkan Volume Penjaminan Rp 246 T di 2022

Selain itu, InJourney juga ditargetkan mampu menyerap 13 juta lapangan kerja baru di Indonesia. Target-target yang ditetapkan tersebut bertujuan memulihkan pariwisata yang sempat terpuruk sepanjang pandemi Covid-19. Terakhir, dengan beragam penataan, inovasi, dan integrasi yang dilakukan InJourney, pemerintah juga berharap total aset holding BUMN pariwisata ini akan mencapai Rp 260 triliun di tahun 2024 dengan potensi penjualan yang terus meningkat.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0