in ,

Mal Sudah Dibuka, Kenapa Orang Masih Enggan Belanja?

Alphonzus mengakui, tidak mudah untuk meningkatkan kunjungan pelanggan ke mal dalam waktu singkat. Masyarakat perlu waktu penyesuaian untuk kembali melakukan aktivitas ekonomi, termasuk kegiatan berbelanja di pusat perbelanjaan.

“Berdasarkan pengalaman selama masa pandemi ini, hanya untuk menaikkan tingkat kunjungan yang hanya 10-20 persen saja diperlukan waktu tidak kurang dari tiga bulan,” kata Alphonzus.

Di Jawa Timur pun kondisi masih serupa. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim, Sutandi Purnomosidi mengatakan, kebijakan wajib vaksin bagi pengunjung mal menyebabkan recovery ekonomi di pusat belanja berjalan lambat. Selain itu, larangan kepada anak-anak berkunjung ke mal juga membuat okupansi masih di bawah 50 persen. Sutandi berharap, pemerintah segera membolehkan anak-anak masuk ke mal. Pasalnya, mal merupakan hiburan alternatif keluarga. Terlebih lagi, di Jawa Timur khususnya Surabaya yang sudah masuk level 2.

Baca Juga  Pemerintah Cabut Aturan Pembatasan Barang Bawaan Pekerja Migran

Sepinya tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan ritel tentu menjadi tantangan bagi upaya pemulihan ekonomi. Padahal, konsumsi rumah tangga adalah penyumbang terbesar dalam perekonomian nasional. Sektor ini memberikan kontribusi lebih dari 50 persen dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 di kisaran 4-5,7 persen. Namun, dengan konsumsi rumah tangga yang masih lesu seperti ini, maka prospek pertumbuhan ekonomi itu semakin sulit diwujudkan. Sebab, pertumbuhan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai lebih dari 7 persen.

Ditulis oleh

Baca Juga  Sri Mulyani dan Presiden ADB Bahas Kerja Sama Pemensiunan Dini Pembangkit Listrik Batu Bara

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *