in ,

Indonesia Siap Topang Industri Kendaraan Listrik Dunia

Indonesia Siap Topang Industri Kendaraan Listrik Dunia
FOTO : IST

Indonesia Siap Topang Industri Kendaraan Listrik Dunia

Pajak.com, Jakarta – Indonesia telah menghentikan ekspor nikel mentah sejak tahun 2020 dan mengalihkan fokus terhadap ekspor produk olahan seperti baterai litium. Langkah ini telah memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam pasar kendaraan listrik di tingkat global yang mengandalkan baterai lithium-ion sebagai sumber tenaga. Karenanya, Indonesia dinilai telah siap topang industri kendaraan listrik di dunia.

Wholesale Banking Director UOB Indonesia Harapman Kasan mengatakan, lebih dari 10 juta kendaraan listrik telah digunakan di seluruh dunia. Data dari The International Energy Agency menyebutkan bahwa angka ini akan terus meningkat. Produsen mobil juga terus berupaya menarik lebih banyak masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik, termasuk sepeda motor listrik dan kendaraan sport (SUV).

Dalam hal kendaraan listrik, Indonesia memiliki rencana besar untuk menjadi pemain utama dan ingin terus memperkuat posisinya. Pemerintah Indonesia bahkan telah menetapkan target mengoperasikan 2,1 juta sepeda motor listrik dan 400 ribu mobil listrik pada tahun 2025. Tujuan ini tercapai dengan diluncurkannya peta jalan senilai 17 miliar dollar AS. Dari jumlah kendaraan listrik tersebut, 20 persen akan diproduksi di dalam negeri.

Untuk mendukung rencana tersebut, Pemerintah Indonesia telah meluncurkan sejumlah insentif fiskal dan nonfiskal untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, seperti insentif pajak dan infrastruktur pendukung.

Baca Juga  Sri Mulyani Bicara Potensi Ekonomi Kesetaraan Gender

“Pasar kendaraan listrik Indonesia memang masih dalam tahap perkembangan. Adapun 14,400 kendaraan listrik yang beroperasi hingga bulan November 2021 terdiri dari 12.464 sepeda motor dan 1.656 mobil listrik,” kata  Harapman dalam keterangan tertulis Senin (9/1/23).

Menurut Harapman, hal penting yang juga perlu dicatat, Indonesia kaya akan sumber daya mineral yang dibutuhkan industri kendaraan listrik seperti alumina, kobalt, mangan, dan nikel. Nikel sendiri merupakan komponen yang tak terpisahkan dalam produksi baterai lithium-ion. Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia sebesar 21 juta ton atau 22,3 persen dari cadangan nikel dunia. Adapun 25 hingga 40 persen dari biaya pembuatan sebuah kendaraan listrik adalah untuk baterai.

Pada tahun 2013, ekspor bijih nikel Indonesia mencapai 64 juta ton, atau 35 persen dari ekspor global. Namun, pada tahun berikutnya, Indonesia memberlakukan larangan ekspor mineral (termasuk nikel). Kebijakan ini untuk mendorong pengembangan fasilitas pemrosesan di dalam negeri dan menjaga cadangan nikel.

Sejak adanya larangan ekspor nikel, Indonesia telah mencatatkan peningkatan investasi dalam pembangunan smelter serta kegiatan pengolahan hilir lainnya. Dalam pengolahan ini, nikel mentah diolah menjadi produk akhir yang lebih bernilai tinggi seperti baterai litium dan paket baterai yang dibutuhkan untuk mobil listrik. Hingga bulan Agustus 2021, ada 13 smelter nikel yang beroperasi. Pemerintah memproyeksikan total 30 smelter nikel yang beroperasi pada tahun 2024.

Baca Juga  Pemerintah Bangun Listrik Tenaga Surya

Indonesia juga telah mengeluarkan omnibus law yang menyederhanakan peraturan dari 79 undang-undang menjadi satu undang-undang. Menurut omnibus law yang mulai berlaku pada bulan Februari 2021 ini, pengolahan nikel kini menjadi bagian dari sektor prioritas untuk investasi asing. Namun, perusahaan tambang asing wajib mendivestasikan saham yang dimiliki pemegang saham asing setelah 10 atau 15 tahun berproduksi sehingga pada tahun ke-15 berproduksi, 51 persen saham akan dipegang pemegang saham dalam negeri.

Sebagai kepanjangan tangan pemerintah, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM) juga telah memfasilitasi investasi LG yang berbasis di Korea Selatan dan CATL dari China di industri sel baterai kendaraan listrik masing-masing senilai 9,8 miliar dollar AS dan 5,2 miliar dollar AS. Kedua perusahaan itu ingin menjadi bagian dari rantai pasokan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia dari hulu ke hilir, yang terdiri dari pertambangan, peleburan, dan pemurnian serta industri prekursor dan katoda yang vital dalam produksi baterai kendaraan listrik.

Baca Juga  Lebih dari Rp 298 Triliun Disalurkan untuk Daerah Tertinggal

Upaya lain yang tengah digencarkan pemerintah adalah pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara yang berlokasi di Karawang New Industrial City di Jawa Barat. Upaya kolaboratif senilai 1,1 miliar dollar AS ini dijalin antara PT HKML Battery Indonesia milik konsorsium perusahaan Korea Selatan dan PT Industri Baterai Indonesia, anak perusahaan pertambangan milik negara. Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa investasi di pabrik tersebut menunjukkan kesediaan pemerintah untuk memanfaatkan cadangan nikel Indonesia yang kaya.

Harapman menilai, upaya Indonesia untuk menjadi pemain utama di dunia dalam rantai pasokan kendaraan listrik telah membuahkan hasil. Terbukti dengan semakin banyak produsen yang memilih negara-negara di Asia Tenggara sebagai lokasi alternatif selain China. Sebab,  Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah yang akan menopang pertumbuhan dan ambisi keberlanjutannya. Selain itu, kesiapan Indonesia untuk beralih kepada kendaraan listrik terbukti membawa dampak positif bagi untuk tujuan Indonesia untuk menjadi pemain global.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *