in ,

Dampak Krisis dan Konflik Geopolitik Bagi Komoditi

Dampak Krisis dan Konflik Geopolitik
FOTO: IST

Dampak Krisis dan Konflik Geopolitik Bagi Komoditi

Pajak.com, Jakarta – Krisis energi, kesehatan dan konfilik geopolitik global telah menciptakan tantangan berat bagi semua negara. Dampak yang paling terlihat adalah perlambatan paling tajam dalam kegiatan ekonomi dalam 80 tahun, meningkatnya inflasi, semakin cepatnya krisis pangan, konflik geopolitik yang lebih luas, hingga kemiskinan yang memburuk. Berikut inipenjabaran dampak krisis kesehatan, energi dan geopolitik itu terhadap komoditas.

Menurut Research & Development ICDX Girta Yoga, sepanjang kuartal III-2022, harga pangan dan inflasi Indonesia mengalami kenaikan. Harga pangan naik sebesar 12,14 year of year (yoy) dan inflasi Indonesia naik sebesar 230,79 persen yoy. Meski demikian menurut Yoga, Indonesia masih cukup membanggakan.

“Meskipun pertumbuhan inflasi sangat drastis, Indonesia memiliki keuntungan yaitu dengan diseimbangi oleh pertumbuhan GDP yang positif. Sehingga isu-isu harga naik dan daya tarik beli yang menurun saat inflasi dapat diminimalisasi,” tutur Yoga dalamketerangan tertulis Rabu (26/10/22).

Baca Juga  Menkeu: Tiga Sektor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi

Yoga mengatakan, sejak munculnya konflik geopolitik Rusia-Ukraina, Indonesia memang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan harga beberapa komoditas di tingkat global lebih rendah dibandingkan beberapa bulan terakhir.

Harga minyak kelapa sawit turun cukup dalam pada periode Juni sampai dengan September 2022. Hal ini sesuai dengan tim Research and Development ICDX, yang mencatat pada kuartal 3 (Q3) lalu Crude Palm Oil (CPO) turun harga sebesar 15,55 persen.

“Proyeksi komoditas energi pada Q4 2022 diperkirakan harga minyak berpotensi berpotensi menemui resistance pada kisaran harga 110-120 dollar AS per barel, dan untuk potensi support berada pada kisaran harga 85-75 dollar AS per barel. Sedangkan gas alam, potensi harganya ada di angka USD7.50-8.50 sedangkan nilai supportnya diperkirakan ada di 5.50-4.50 dollar AS. Lalu untuk harga batubara, pada Q4 akan berada di kisaran harga 475-500 dollar AS per ton, smeentara untuk support-nya di proyeksikan akan menyentuh 350-325 dollar AS per ton,” tambah Yoga.

Baca Juga  Jokowi Minta Harga Tes PCR Turun dan Berlaku 3x24 Jam

Selain krisis energi, inflasi yang tinggi juga menjadi salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi global. Berdasarkan Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah sangat kuatnya Dollar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sementara itu, nilai tukar rupiah sampai dengan 19 Oktober 2022 terdepresiasi 8,03 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021. Ini relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya.

Depresiasi tersebut sejalan dengan menguatnya Dollar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara, terutama AS untuk merespons tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global, di tengah persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif.

Baca Juga  Jamkrindo Targetkan Volume Penjaminan Rp 246 T di 2022

Research & Development ICDX Taufan Dimas Hareva menambahkan, inflasi di tingkat global masih membayangi, terlebih ke depan negara negara subtropis akan mengalami musim dingin, sehingga energi akan berperan besar dalam aktivitas ekonomi rumah tangga.

“Pasti ke depannya jika harga energi semakin mahal dan semakin sulit didapatkan, maka akan mempengaruhi aktivitas ekonomi di berbagai negara dan akan berdampak langsung pada harga mata uang asing lainnya,” ujar Taufan.

Perkembangan harga komoditas emas juga masih menjadi salah satu yang menarik untuk dibahas. Inflasi global yang terjadi, keagresifan The Fed dalam membuat kebijakan untuk menekan inflasi, dan konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang belum berakhir masih menjadi penyumbang gejolak harga emas. Pada 2022 ini, meskipun sempat mengalami penguatan, harga emas cenderung turun hingga akhir kuartal III.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *