in ,

Shell Bayar Windfall Tax Setelah Lima Tahun Absen

shell bayar windfall tax
FOTO : IST

Shell Bayar Windfall Tax Setelah Lima Tahun Absen

Pajak.com, Inggris – Perusahaan minyak dan gas (migas) Shell akan membayar pajak atas keuntungan alias windfalll tax di Inggris untuk pertama kalinya sejak 2017 (lima tahun absen), setelah menghasilkan keuntungan global yang besar tahun lalu. Pembayaran pajak tersebut terjadi setelah Pemerintah Inggris menaikkan pajak atas keuntungan dari 25 persen menjadi 35 persen pada November 2022.

Kebijakan yang disebut Retribusi Keuntungan Energi atau windfall tax ini biasanya diperoleh perusahaan melalui penggalian minyak dan gas. Dalam keterangan resminya, keuntungan Shell dari kegiatan operasionalnya di Inggris dan Uni Eropa dalam tiga bulan terakhir (kuartal IV-2022) akan terdampak sekitar 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 31,214 triliun.

Jumlah tersebut merupakan kewajiban pajak tambahan yang ditanggung oleh perusahaan sebagai akibat dari pemberlakuan tarif pajak windfall tax baru di Uni Eropa dan Inggris. Di sisi lain, antara Juli dan September 2022, Shell melaporkan lonjakan laba yang sangat besar mencapai 9,5 miliar dollar AS dari seluruh bisnis globalnya.

Baca Juga  Pengertian dan Syarat Pengajuan NPPKP

Pendapatan perusahaan energi itu melonjak menyusul sanksi Barat yang memblokir akses pasokan migas ke Rusia. Namun, kala itu Shell mengklaim telah melakukan investasi besar di Inggris sehingga tidak menghasilkan keuntungan di negara tersebut, dan oleh karena itu tidak diharuskan membayar pajak.

“Dampak pendapatan kuartal IV tahun 2022 dari pajak tambahan yang baru diumumkan di UE (kontribusi solidaritas) dan dampak pajak tangguhan dari peningkatan Retribusi Keuntungan Energi Inggris, diperkirakan sekitar 2 miliar dollar AS,” kata perusahaan itu melalui keterangan resminya, dikutip Pajak.com, Sabtu (7/11).

Hingga berita ini diturunkan, Shell tidak mengungkapkan berapa banyak pajak yang akhirnya akan dibayarkan ke otoritas pajak Inggris. Pasalnya, jumlah pajak yang dibayarkan perusahaan migas di Inggris dapat dikurangi setelah memperhitungkan kerugian, investasi di bidang-bidang energi terbarukan, atau penonaktifan anjungan minyak Laut Utara.

Baca Juga  Tarif PPN Naik Jadi 11 Persen Mulai 1 April 2022

Shell juga tidak memerinci bagaimana penghasilannya yang mencapai 2 miliar dollar AS pada bulan-bulan terakhir tahun 2022 itu akan dibagi antara Inggris dan UE. Namun, yang pasti Pemerintah Inggris telah mengenakan pajak pada perusahaan energi untuk menangkap berkah dari keuntungan besar yang diperoleh perusahaan melalui harga minyak dan gas yang tinggi.

Menteri Keuangan Inggris Jeremy Hunt mengatakan, pungutan yang berakhir pada 31 Maret 2028 ini diperkirakan akan meningkat lebih dari 40 miliar dollar AS selama enam tahun ke depan. Meskipun, terdapat kekhawatiran adanya kelemahan dalam kebijakan tersebut.

Perusahaan energi dinilai mampu mengurangi jumlah pajak yang mereka bayarkan dengan memperhitungkan kerugian atau pengeluaran untuk hal-hal seperti penonaktifan anjungan minyak Laut Utara. Artinya, dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan seperti Shell telah membayar sedikit atau tidak sama sekali pajak di Inggris.

Baca Juga  Penerimaan Pajak Capai 18,6 persen pada Kuartal I

Namun, ada juga kekhawatiran bahwa pengenaan pajak yang lebih ketat pada perusahaan migas dapat membuat mereka berhenti berinvestasi di energi terbarukan Inggris. Meskipun harus membayar pajak yang lebih tinggi, Shell tetap meraih laba tahunan yang besar untuk tahun 2022 setelah melaporkan keuntungan senilai 30 miliar dollar AS dalam sembilan bulan pertama tahun lalu.

Mereka mengatakan akan membayar antara 4,3 miliar dollar AS dan 4,7 miliar dollar AS dalam pajak global selama tiga bulan terakhir tahun 2022. Shell pun menyatakan akan menerbitkan hasil lengkapnya untuk tahun keuangan 2022 pada 2 Februari mendatang.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *