in ,

Jokowi Dorong Kemitraan ASEAN dan Kanada

Jokowi Dorong Kemitraan ASEAN
FOTO: IST

Jokowi Dorong Kemitraan ASEAN dan Kanada

Pajak.com, Kamboja – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dorong peningkatan kemitraan strategis Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan Kanada. Indonesia ingin ASEAN dan Kanada menghadirkan lebih banyak kerja sama konkret, salah satunya pada bidang ekonomi. Pasalnya, saat ini kemitraan antara ASEAN dan Kanada telah memasuki usia 45 tahun, namun hubungan keduanya masih dalam mekanisme mitra dialog.

“Kerja sama dalam konteks Indo-Pasifik dapat dijadikan salah satu kick-off project antara ASEAN dan Kanada. Isu keamanan di kawasan Indo-Pasifik tentu sangat penting, namun isu ekonomi dan pembangunan tidaklah kalah penting,” kata Jokowi pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan ASEAN-Kanada di Hotel Sokha, Phnom Penh, dalam keterangan tertulis yang diterima Pajak.com(13/11).

Ia menegaskan, ASEAN Outlook on The Indo-Pacific (AOIP) memiliki empat prioritas kerja sama, yaitu konektivitas, maritim, pencapaian agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), dan perdagangan investasi. Untuk itu, Kanada dapat secara konkret menjadi mitra ASEAN dalam pelaksanaan AOIP.

Baca Juga  Transformasi Ekonomi Demi Capai Visi Indonesia 2045

“Kami juga menyampaikan, ditengah dunia yang sedang tidak kondusif ini, justru menjadi lebih penting untuk mengisinya dengan kerja sama konkret yang saling menguntungkan,” jelas Jokowi.

Tahun depan, Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN dan menyelenggarakan Indo-Pacific Infrastructure Forum. Indonesia pun mengundang Kanada berpartisipasi dalam forum ini.

KTT ASEAN dihadiri pemimpin ASEAN dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Selain Jokowi, KTT Peringatan ASEAN-Kanada juga didampingi oleh, yaitu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD; Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto; Menteri Luar Negeri Retno Marsudi; dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Pada kesempatan berbeda di KTT ASEAN, Jokowi juga memaparkan tiga hal fokus utama ASEAN dalam menghadapi tantangan ekonomi kawasan, yaitu pertama, penguatan fiskal negara ASEAN. Indonesia mendorong agar ruang fiskal harus diciptakan demi stabilitas keuangan. Demikian pula dengan efisiensi belanja dan mengalokasikan ke program mitigasi dampak krisis harus menjadi prioritas termasuk jaring pengaman bagi rakyat kurang mampu.

“Meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi rata-rata masih terus positif, namun ke depannya, tantangan ekonomi kawasan akan makin berat apalagi dengan ancaman resesi. Untuk itu, saya ingin fokus pada tiga hal. Dukungan pada sektor yang memiliki dampak terhadap ekonomi kawasan juga harus diprioritaskan. ADB (Asian Development Bank) telah mengidentifikasinya, seperti pariwisata, agro-processing, dan tekstil. Sektor-sektor ini penting karena melibatkan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) yang wakili 90 persen dunia usaha ASEAN,” ungkap Jokowi pada acara ASEAN Global Dialogue Ke-2: Post Covid-19 Comprehensive Recovery, di Hotel Sokha, Phnom Penh, (13/11).

Baca Juga  DBS Indonesia Salurkan Rp 1 Triliun ke Nasabah Kredivo

Kedua, penguatan dukungan keuangan internasional. Ia menegaskan pentingnya peran lembaga keuangan internasional dalam merespons krisis dan meminimalisasi dampak yang diakibatkan melalui berbagai instrumen keuangan yang fleksibel.

“Ada instrumen yang sifatnya darurat sehingga bisa cepat digunakan saat krisis, dan lebih penting dari itu perlu ada instrumen yang berfungsi mencegah krisis. Dukungan ini penting bagi ASEAN untuk antisipasi memburuknya krisis ke depan, salah satunya dengan perkuat infrastruktur keuangan di kawasan, termasuk sinergi kebijakan finansial,” jelas Jokowi.

Ketiga, yaitu perdagangan dunia harus diatur dengan mempertimbangkan hak pembangunan negara berkembang. Jokowi menyoroti kesulitan yang dialami negara berkembang saat ingin melakukan hilirisasi.

“Apakah dengan mengeskpor bahan baku mentah negara berkembang dapatkan keuntungan yang memadai? Jawabannya tidak. Untuk itu, negara berkembang terus memperjuangkan hak untuk hilirisasi. Indonesia kembali menegaskan pentingnya berkolaborasi erat dan bekerja sama untuk menghadapi krisis yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Baca Juga  Pemerintah Siap Fasilitasi “Startup” Lokal dengan Korsel

Sebagai informasi, KTT ASEAN atau disebut juga sebagai ASEAN Summit merupakan konferensi yang rutin digelar setiap tahunnya di negara-negara anggota ASEAN, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Adapun ASEAN didirikan di Bangkok pada 8 Agustus 1967.

Pembentukannya diprakarsai oleh lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Tujuan awal pembentukan ASEAN adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan perkembangan kebudayaan di kawasan negara-negara Asia Tenggara.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *