in ,

AISC Evaluasi Kebijakan Pajak Ekspor Baja RRT

AISC Evaluasi Kebijakan Pajak Ekspor Baja RRT
FOTO: IST

AISC Evaluasi Kebijakan Pajak Ekspor Baja RRT

Pajak.com, Malaysia – ASEAN Iron and Steel Council (AISC) evaluasi kembali kebijakan pengenaan pajak ekspor baja dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Seperti diketahui, Pemerintah RRT telah memutuskan untuk menghapus potongan/insentif pajak ekspor (tax rebate) sebesar 13 persen atau 10 persen atas 146 jenis produk baja mulai 1 Mei 2021. Dengan demikian, produsen baja di RRT harus meningkatkan harga produknya, yang akhirnya berimbas pada seluruh negara tujuan ekspor, termasuk Indonesia.

Hal itu ditegaskan oleh Presiden AISC Silmy Karim, dalam pertemuan ke-27 AISC, di Kuala Lumpur, Malaysia, (12/11). Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan asosiasi baja dari negara Vietnam, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Indonesia. Adapun AISC adalah dewan yang menangani permasalahan industri besi dan baja terkait kebijakan pemerintah, ekonomi, dan perdagangan. AISC dibentuk pada 1977 dengan didukung oleh Trade Industry Policy Development Committee.

“Pertemuan juga membahas terkait pengendalian permintaan dan pemenuhan kebutuhan baja dari RRT, membahas juga kenaikan jumlah ekspor baja, terutama setelah pandemi COVID-19,” jelas Silmy dalam keterangan tertulis yang dikutip Pajak.com (14/11).

Silmy yang juga Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyebutkan, hingga 2021, RRT melakukan eskpor sebanyak 70,1 juta ton atau meningkat 24,2 persen dari sebelumnya sebanyak 56,5 juta ton di tahun 2020. Khusus di wilayah ASEAN, RRT telah melakukan eskpor baja sebanyak 20,1 juta ton di tahun 2021 atau meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya yang berjumlah 18,3 juta ton baja.

Baca Juga  Akhir Januari, Penerimaan Pajak Tercatat Rp 68,5 Triliun

Berdasarkan data AISC, negara tujuan ekspor terbesar di ASEAN pada 2021 adalah Vietnam (5,6 juta ton), Filipina (3,9 juta ton), Thailand (3,8 juta ton), Indonesia (3 juta ton), dan Malaysia (1,4 juta ton). Produk baja terbanyak yang diekspor oleh RRT, diantaranya hot rolled coil (3,6 juta ton), galvanised sheet (3,3 juta ton), welded pipe (2,1 juta ton), color coated sheets (1,8 juta ton), dan wire rod (1,4 juta ton).

“Produk baja paduan hot rolled coil masih menjadi produk dominan yang masuk ke negara-negara ASEAN dari RRT, baik dalam bentuk gulungan, canai, maupun lembaran. Hingga saat ini masih konsisten melakukan ekspor di kisaran 30-35 juta ton sejak tahun 2016,” jelas Silmy.

AISC juga mencatat, jumlah ekspor baja dari RRT di dunia mengalami kenaikan dari 40,5 juta ton (Januari-September 2021) menjadi 42,8 juta ton (Januari-September 2022).

“Naiknya ekspor RRT, salah satunya karena terjadinya perlambatan ekonomi di RRT. Namun, berita terbaru dari pemerintah RRT, mereka berkomitmen untuk mengurangi volume ekspor, sebenarnya (ekspor) baja mentah pada tahun 2021 sudah mulai turun sebesar 3 persen atau turun sebanyak 31,4 juta ton. RRT menargetkan di tahun 2022 ini akan kembali terjadi penurunan,” ungkap Silmy.

Dengan demikian, masih tingginya ekspor baja RRT menjadi dasar bagi ASEAN untuk mendorong diadakannya diskusi langsung dengan China Iron and Steel Association (CISA) yang direncanakan akan dilakukan pada 2023.

Baca Juga  Pemprov Gorontalo Bebaskan Denda PKB

“Namun, secara keseluruhan anggota AISC optimistis bahwa setelah pandemi COVID-19 berakhir, industri baja di ASEAN dapat menguat kembali dan melanjutkan pemulihan kinerjanya,” kata Silmy.

Para anggota AISC juga membahas terkait potensi ekspor impor baja maupun bahan baku baja dari negara Rusia dan Ukraina. Selain dapat menjadi tantangan yang harus dihadapi, jumlah ekspor impor dari Rusia dan Ukraina dapat dijadikan peluang untuk pemenuhan kebutuhan baja dari negara-negara yang melarang masuknya impor baja dari Rusia dan Ukraina, seperti misalnya Uni Eropa dan Turki.

Berdasarkan catatan AISC, Rusia memproduksi baja mentah sebanyak 76 juta ton di 2021, meningkat 6,1 persen dari sebelumnya sebesar 71,6 juta ton di 2020. Sedangkan, Ukraina memproduksi baja mentah sebanyak 21,4 juta ton di 2021, meningkat 3,6 persen dari sebelumnya sebanyak 20,6 juta ton di 2020.

“Dengan jumlah produksi yang cukup besar, Rusia merupakan negara ke-dua terbanyak yang mengekspor baja, setelah RRT dengan total ekspor sebesar 41,6 juta ton di 2021 dibandingkan dengan RRT yang sebanyak 56,5 juta ton. Sedangkan Ukraina mengekspor 19,7 juta ton baja di tahun 2021. Ini adalah sesuatu yang harus kita waspadai dan juga peluang,” ujar Silmy.

Pada kesempatan ini AISC juga mengajak keseluruhan anggotanya di ASEAN untuk berkontribusi dalam penghematan energi dan pelestarian lingkungan melalui teknologi baja yang ramah lingkungan. Teknologi itu sudah mulai diterapkan di beberapa negara, seperti di Jepang.

“Beberapa negara di dunia saat ini pun mengevaluasi kembali penyesuaian pembatasan jumlah karbon terutama negara-negara di UE (Uni Eropa) yang saat ini sudah memulai proses pengesahannya. Penerapan ISO14030-3 juga diajukan untuk terciptanya green steel industry di Uni Eropa, yang saat ini masih dalam tahap evaluasi oleh EU Emission Trading System. Kami sebagai bagian dari asosiasi baja dunia terus berupaya mewujudkan konservasi energi dan penggunaan teknologi ramah lingkungan pada pabrik baja demi tercapainya SDGs (Sustainable Development Goals) pada industri baja,” kata Silmy.

Baca Juga  Kemen ESDM: Pajak Karbon Tak Picu Kenaikan Tarif Listrik

Di momentum berbeda, Silmy mengungkapkan, Indonesia sejatinya mampu memproduksi sekitar 80 persen kebutuhan baja di tanah air. Namun, produk baja impor dari RRT dan Vietnam masih mendominasi bahan baku industri nasional.

“Ada beberapa produk baja yang seharusnya bisa dipenuhi oleh buatan dalam negeri. Tapi sayangnya impor dari RRT cukup signifikan mempengaruhi pasar baja di Indonesia. Konsumsi baja Indonesia sekitar 20 juta ton dalam setahun. Saat ini, Indonesia baru mampu memproduksi long product dan flat produk yang jika dikalkulasi sekitar 7-8 juta ton setahun,” kata Silmy.

Selain itu, konsumsi baja dalam negeri masih rendah, yaitu berada di bawah 100 kilogram per kapita per tahun. Sisi positifnya, pertumbuhan konsumsi baja di Indonesia ke depan diproyeksi semakin tinggi seirama dengan pemulihan ekonomi nasional.

“Indonesia masih perlu menyiapkan industri enam hingga delapan kali lipat. Prospeknya memang bagus, namun yang menikmati hanya produk impor,” ujar Silmy.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings