in ,

Apakah Hadiah Giveaway Kena Pajak?

Apakah Hadiah Giveaway Kena Pajak?
FOTO: IST

Apakah Hadiah Giveaway Kena Pajak?

Semakin marak perkembangan media sosial, semakin banyak pula giveaway yang diberikan di berbagai platform media sosial. Diadakannya giveaway tentunya memiliki tujuan tersendiri bagi pihak yang menyelenggarakan. Ada yang bertujuan untuk mempromosikan produk, meningkatkan penjualan, menguatkan brand awareness, meningkatkan popularitas atau followers dan tujuan lainnya. Hadiah giveaway yang diberikan pun beranekaragam mulai dari uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah, kendaraan seperti sepeda dan motor, handphone, laptop, logam mulia dan barang lainnya.

Hal penting yang harus dipahami adalah seperti hadiah lainnya. Lalu, apakah hadiah giveaway kena pajak? Berapa besarnya tarif pajak atas hadiah giveaway? Siapa yang harus menyetorkan pajak tersebut? Dan siapa pula yang harus melaporkannya? Mari kita bahas satu per satu pertanyaan tersebut.

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 atau UU PPh Pasal 4 Ayat 2 huruf b, penghasilan berupa hadiah undian dikenakan pajak bersifat final. Dasar hukum lainnya yang menjelaskan hadiah giveaway secara rinci yaitu pada Peraturan Pemerintah Nomor 132 Tahun 2000. Pasal 1 dalam peraturan tersebut dijelaskan atas penghasilan berupa hadiah undian dengan nama dan dalam bentuk apapun dipotong atau dipungut Pajak Penghasilan yang bersifat final, dengan begitu giveaway masuk dalam kategori hadiah undian sehingga dikenakan pajak final.

Baca Juga  Laju Sektor Retail Positif, Penerimaan Pajak Kanwil DJP Jakpus Tumbuh 10,63 Persen

Selanjutnya, Pasal 2 dijelaskan terkait tarif pajak atas hadiah giveaway sebesar 25% dari jumlah bruto hadiah undian atau giveaway. Apabila hadiah giveaway dalam bentuk barang misalnya motor, maka jumlah bruto dihitung berdasarkan nilai pasar atas barang tersebut.

Kemudian pada pasal 3 dijelaskan penyelenggara undian wajib memotong atau memungut pajak final atas hadiah giveaway tersebut. Artinya setelah memotong dan memungut, pihak penyelenggara lah yang berkewajiban untuk menyetorkan pajak tersebut kepada kantor pos atau bank persepsi dengan ketentuan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Sebagai informasi, penyelenggara undian dapat berupa orang pribadi, badan, kepanitiaan, organisasi (termasuk organisasi internasional) atau penyelenggara lainnya termasuk pengusaha yang menjual barang atau jasa yang memberikan hadiah dengan cara diundi.

Selain wajib memungut dan menyetorkan pajak tersebut, pihak penyelenggara pun wajib melaporkan pajak final atas hadiah giveaway pada SPT masa PPh paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. Peraturan terkait jangka waktu penyetoran dan pelaporan PPh Final atas hadiah giveaway diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK.04/1994.

Contoh ilustrasi penghitungan, pemotongan atau pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPh Final atas hadiah giveaway. Misalnya pada tanggal 15 Juni 2023 Cantika seorang influencer menyelenggarakan giveaway di sosial media miliknya sebesar Rp1.000.000 dengan tujuan untuk mempromosikan produk. Giveaway tersebut diikuti oleh banyak followersnya dan ketika diundi, salah satu followersnya yang bernama Lestari dinyatakan sebagai pemenang.

Baca Juga  Mulai 1 Juli, 7 Layanan Administrasi Perpajakan Ini Bisa Diakses NIK

Dari ilustrasi tersebut maka PPh final yang harus dipotong oleh Cantika sebagai penyelenggara giveaway yaitu sebesar Rp250.000, hasil perkalian antara tarif PPh Final dengan jumlah bruto hadian giveaway (25% x Rp1.000.000). Sehingga nantinya Lestari menerima hadiah giveaway sebesar Rp750.000, karena sebesar Rp250.000 berupa PPh Final yang harus dibayarkan kepada negara melalui pemotongan oleh Cantika.

Selain memotong PPh Final atas hadiah undian, Cantika juga wajib menyetorkan PPh Final tersebut kepada kantor pos atau bank persepsi paling lambat tanggal 10 Juli 2023 dan melaporkannya paling lambat tanggal 20 Juli 2023.

Perhitungan dan aturan tersebut juga berlaku apabila hadiah yang diberikan bukan berupa uang tetapi barang, misalnya motor. Maka PPh Final yang dikenakan dilihat pada harga pasar motor tersebut. Misalnya dengan tokoh yang sama seperti ilustrasi di atas, Lestari mendapatkan hadiah giveaway berupa motor. Harga pasar motor tersebut adalah Rp22.000.000. Maka Cantika sebagai penyelenggara giveaway harus memotong PPh Final sebesar Rp5.500.000 atas hadiah yang didapatkan oleh Lestari dan Lestari tetap menerima motor tersebut. Kemudian Cantika harus menyetorkan dan melaporkan PPh Final tersebut berdasarkan aturan yang berlaku.

Baca Juga  Portugal akan Terapkan lagi Tarif Khusus PPh 20 Persen Bagi WNA

Dengan ketentuan-ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa kewajiban membayar PPh Final atas hadiah undian ditanggung pemenang, namun dipotong oleh pihak penyelenggara. Berarti penerima hadiah giveaway memiliki hak menerima hadiah dan hadiah tersebut dipotong pajaknya oleh penyelenggara. Sedangkan bagi penyelenggara giveaway memiliki kewajiban untuk memotong atau memungut, menyetorkan, dan melaporkan pajak atas hadiah giveaway tersebut. Bagi penyelenggara undian tentunya jangan lupa dan harus mematuhi kewajiban setor dan lapor pajak giveaway yang diberikan sebagai bentuk cinta kepada negara.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *