in ,

Penerimaan Positif, Modal Hadapi Ketidakpastian Global

Sri Mulyani memastikan, pemerintah akan terus menjaga daya tahan ekonomi Indonesia, termasuk dengan menggunakan instrumen fiskal dari APBN, terutama subsidi dan kompensasi yang menjadi shock absorber dari gejolak harga-harga global terutama di bidang pangan dan energi akibat konflik Ukraina-Rusia.

“Pemerintah akan terus berupaya mengendalikan inflasi dan melindungi daya beli masyarakat serta menjaga momentum pemulihan ekonomi. Pada saat yang sama, perbaikan kondisi APBN juga ditujukan untuk terus menjaga kesehatan dan sustainabilitas fiskal dalam jangka menengah panjang. Pemerintah juga akan terus menjaga stabilitas pasar SBN (Surat Berharga Negara) dengan menjaga disiplin APBN dan menjaga kredibilitas APBN dan dengan menerapkan strategi pembiayaan yang fleksibel, oportunis, namun tetap hati-hati atau prudent,” ungkapnya.

Baca Juga  DJP Optimalkan Pengawasan Pajak di Beberapa Sektor

KSSK menilai, inflasi pada Juli 2022 masih terkendali, yakni sebesar 4,94 persen. Sri Mulyani menuturkan, inflasi pada Juli 2022 didorong oleh komponen volatile food dan administered price.

“Komponen inflasi inti masih tetap terjaga rendah. Inflasi inti tetap terjaga pada tingkat 2,86 persen dibandingkan tahun lalu di periode yang sama. Hal ini didukung oleh konsistensi kebijakan BI (Bank Indonesia) dalam menjaga ekspektasi inflasi,” ujar Sri Mulyani.

Ia mengutip, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi komponen volatile food tercatat mencapai 11,47 persen, yang dipengaruhi kenaikan harga pangan global serta gangguan pasokan pangan domestik akibat cuaca buruk dan faktor musiman. Sementara, inflasi komponen administered price melonjak 6,51 persen, yang dipengaruhi kenaikan harga tiket pesawat.

Baca Juga  DPRD Jatim: Bapenda Tingkatkan PAD pada APBD

“Bukan karena harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Karena harga BBM dan listrik tetap terjaga karena masih ada subsidi. Dengan sejumlah kebijakan pemerintah, inflasi Indonesia masih terjaga dan tercatat moderat bila dibandingkan dengan inflasi Filipina yang mencapai 6,1 persen dan Thailand yang mencapai 7,7 persen,” ujar Sri Mulyani.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengatakan, inflasi Indonesia masih terjaga, sehingga BI masih akan tetap mempertahankan besaran suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate. Kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed, juga tidak serta-merta menaikkan suku bunga acuan BI.

“Dasar utama suku bunga adalah bagaimana perkiraan inflasi inti ke depan dan keseimbangan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, tidak otomatis kalau negara lain naik, maka Bank Indonesia juga naik,” jelas Perry.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *