in ,

LPEM FEB UI: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 6,7 Persen

Kemudian, alumnus Universitas Warwick Inggris ini mengatakan, surplus transaksi berjalan diperkirakan masih berada di wilayah negatif atau tidak jauh dari kinerja pada kuartal I-2021. Sebab, surplus perdagangan barang lebih kecil dan defisit perdagangan jasa masih berlanjut.

“Indonesia terus mencatatkan surplus perdagangan selama 13 bulan berturut-turut sejak Mei tahun lalu. Namun, Indonesia tidak lagi menikmati surplus sejak awal 2021 dengan berlanjutnya defisit transaksi berjalan sebesar 0,36 persen dari PDB pada kuartal I-2021,” kata Riefky.

Di sisi lain, LPEM FEB UI mencatat, impor barang mentah dan barang modal akan mulai pulih pada kuartal II-2021. Artinya, jauh berbeda dengan kinerja impor tahun lalu yang melemah. Hal ini menandakan ekspansi industri yang tercermin dari angka purchasing manager’s index (PMI) di atas 50.

Baca Juga  APBN 2022 Ekspansif dan Dukung Pemulihan Ekonomi

“Impor barang modal masih menjadi penyumbang utama total impor terutama yang terdiri dari produk mesin dan elektronika mencakup sekitar 25 persen dari total impor. Selain itu, impor produk kimia industri juga meningkat seiring tingginya permintaan,” jelas Riefky.

Dari sisi ekspor, komoditas mentah masih mendominasi, antara lain dari sumber daya mineral, lemak nabati, dan logam mulia. Beberapa faktor pendorongnya adalah kenaikan harga komoditas yang cukup signifikan seiring permintaan yang mulai bangkit dari pandemi.

Riefky menekankan, eskalasi dari Covid-19 varian delta ini terbukti sangat berdampak pada perekonomian Indonesia maupun global. Bahkan untuk negara yang sebelumnya mampu menangani pandemi, seperti Vietnam, tidak kebal dari potensi musibah yang dapat ditimbulkan oleh varian ini. Artinya, tidak ada negara yang pernah siap menghadapi pandemi.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *