in ,

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Paling Solid

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Paling Solid
FOTO: IST

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Paling Solid

Pajak.com, Jakarta – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai salah satu yang paling solid di tengah perlambatan global. Dalam laporan World Economic Outlook Edisi April 2023, IMF merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 5 persen (2023) dan semakin baik menjadi level 5,1 persen (2024).

Di sisi lain, IMF memperkirakan perekonomian global melambat menjadi 2,8 persen pada tahun 2023, kemudian membaik ke level 3 persen di 2024. IMF menganalisis, momentum penguatan pemulihan yang sempat terjadi di awal tahun, kini meredup seiring terjadinya gejolak sektor keuangan di Amerika Serikat dan Eropa serta tekanan inflasi yang persisten tinggi. Proyeksi inflasi global 2023-2024 naik menjadi 7 persen (2023) dan 4,9 persen (2024).

“Kegagalan sistem perbankan Amerika Serikat dan Eropa menambah ketidakpastian terhadap outlook kedua kawasan yang sudah mendapat tekanan berat dari inflasi dan pengetatan moneter yang agresif,” tulis IMF, dikutip Pajak.com, (16/4).

Sementara itu, India diproyeksikan tumbuh 5,9 persen (2023) dan 6,3 persen (2024), kemudian Tiongkok diprediksi tumbuh 5,2 persen (2023) dan 4,5 persen (2024). Pembukaan kembali Tiongkok memberi daya dorong pemulihan ekonomi domestiknya di tahun 2023, tetapi tekanan struktural termasuk krisis sektor properti masih membayangi prospek Tiongkok di tahun-tahun berikutnya.

Baca Juga  Defisit APBN 2024 Diproyeksi Bertambah Rp 86,9 T dari PDB, Sri Mulyani Beberkan Penyebabnya

Ke depan, IMF melihat pelbagai risiko perekonomian global masih dominan dengan potensi hard landing—apabila risiko semakin eskalatif. Risiko utama berasal dari tekanan sektor keuangan, tekanan utang, eskalasi perang di Ukraina yang dapat memicu kenaikan harga komoditas, tingkat inflasi inti yang persisten tinggi, serta fragmentasi geoekonomi.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menilai, kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh IMF menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu bright spot di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

“Sejalan dengan proyeksi IMF, perekonomian Indonesia terus menunjukkan resiliensi dan penguatan. Sampai dengan Maret 2023, PMI Manufaktur Indonesia konsisten berada di level ekspansif selama 19 bulan berturut-turut, di saat PMI Manufaktur global masih di zona kontraktif. Di sisi konsumsi, indeks penjualan ritel dan keyakinan konsumen masih tinggi, dengan inflasi yang relatif moderat di tingkat 5 persen secara tahunan,” jelas Febrio.

Baca Juga  Pertumbuhan Ekonomi 2025 Diproyeksi 5,5 Persen, Ini Rincian Asumsi Dasar Makro

Secara simultan, posisi eksternal Indonesia juga tetap sehat karena didukung neraca perdagangan yang membukukan surplus dalam 35 bulan berturut-turut. Sejalan dengan perputaran roda ekonomi yang positif, penerimaan negara tumbuh baik dibarengi dengan belanja negara yang lebih berkualitas.

BKF Kemenkeu memastikan, pemerintah terus berupaya menjaga momentum pemulihan dan stabilitas perekonomian nasional. Dengan kontribusi permintaan domestik yang besar, berbagai upaya untuk mengendalikan inflasi agar tetap berada pada level moderat. Hal ini menjadi sangat krusial untuk terus menjaga momentum pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat.

“Dalam menghadapi berbagai ketidakpastian, Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang tinggi untuk melanjutkan berbagai kebijakan yang pruden namun tetap suportif dalam penguatan pondasi ekonomi. Di tahun 2022, defisit fiskal Indonesia telah kembali ke level di bawah 3 persen terhadap PDB, satu tahun lebih cepat dibanding rencana awal. Ini menunjukkan sikap kehati-hatian dan kredibilitas di tengah peningkatan risiko global,” kata Febrio.

Baca Juga  PDNS Diserang Siber, Wamenkominfo: Pemulihan Dilakukan Secepatnya

Di sisi lain, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) masih tetap memberi perhatian utama pada area vital, seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan perlindungan sosial, akselerasi infrastruktur, peningkatan efektivitas desentralisasi fiskal, serta reformasi birokrasi.

“Ke depan, Pemerintah Indonesia akan terus menjalankan kebijakan yang antisipatif dalam menghadapi turbulensi perekonomian global dengan tetap mengawal rencana pembangunan jangka menengah-panjang antara lain melalui reformasi struktural,” tambah Febrio.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *