in ,

Transaksi Digital untuk Milenial, Kemajuan atau Ancaman?

Transaksi Digital untuk Milenial, Kemajuan atau Ancaman?
FOTO: IST

Transaksi digital merupakan suatu perjanjian jual beli sama dengan jual beli konvensional yang biasa dilakukan masyarakat pada umumnya. Perbedaan jual beli konvensial dan e-commerce terletak pada media yang digunakan, pada transaksi konvensional media yang digunakan berupa kertas (paper based transaction) sedangkan pada transaksi e-commerce, transaksi dilaksanakan secara paperless transaction menggunakan dokumen digital (digital document). Transaksi digital tidak hanya memvirtualkan dokumen transaksi, tetapi juga soal fasilitas dan penetrasi jaringan internet. Selain itu juga soal kemampuan masyarakat dalam menggunakan media digital.

Transaksi e-commerce atau transaksi digital menjadi alternatif yang kian membias di tengah merebanya virus corona. Pandemi ini menuntut semua lembaga, tanpa pengecualian untuk menggunakan sarana media digital dalam keseharianya, dengan tujuan untuk mengurangi mobilitas masyarakat. Para StartUp digital berlomba-lomba mentransmisikan sistem transaksi konvensional yang selama ini digunakan di indonesia menjadi transaksi digital. Perkembangan teknologi ang kian canggih mengakomodasi dan memobilisasi sistem transaksi di Indonesia ini.

Akan tetapi, ada saja kerentanan dalam penerapan sistem transaksi digital di Indonesia. Beberapa fenomena menunjukkan masih rendahnya tingkat keamanan digital di indonesia. Data dari Veritrans and Daily Social yang dipublikasi tahun 2016 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat tertinggi dalam daftar 10 negara yang paling riskan terhadap keamanan digital. Menurut data treat exposure rate (TER) yang merupakan parameter untuk mengukur persentase komputer yang terkena malware, Indonesia memiliki persentase keterserangan malware sebesar 23,54%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan China (21,36%) maupun Thailand 20,78%.

Baca Juga  KEMUDAHAN TRANSAKSI DALAM PEMBAYARAN PAJAK DI ERA EKONOMI DIGITAL

Selain itu, masih rendahnya awareness pengguna di Indonesia terhadap cyber security yang berdampak pada kerentanan keamanan cyber Indonesia akan serangan peretas dunia. Menurut data yang dirilis International Telecommunication Union (ITU) mengenai Indeks Keamanaan Siber Dunia Tahun 2017, keamanan cyber Indonesia berada pada peringkat 70 (Ayuwuragil, 2017). Untuk kawasan Asia Pasifik, Indonesia masih berada dibawah Singapura, Malaysia dan Australia dalam urusan user awareness dengan salah satu indikasinya yaitu intensitas mengganti password surat elektronik untuk meminimalisasi security breach.

Dari waktu ke waktu, industri digital di berbagai negara semakin memperlihatkan perkembangannya termasuk di Indonesia. Hal ini cukup berdampak besar pada perkembangan digital payment Indonesia yang semakin beragam. Perkembangan digital payment di Indonesia diawali dengan penerbitan payment cards. Payment cards ini berbentuk seperti kartu kredit untuk digunakan sebagai alat pembayaran. Kartu pembayaran ini sudah populer sejak tahun 1980-an dan dihadirkan untuk menggantikan pembayaran tunai. Setelah kehadiran payment cards, digital payment di Indonesia mengalami perubahan dengan hadirnya m-banking atau e-banking. Dimulai pada tahun 2001, BCA (Bank Central Asia) mengoperasikan e-banking secara masif via situs Klik BCA. Dan pada 2021 banyak e-wallet dan e-banking yang bermunculan di Indonesia untuk mendukung transaksi digital di indonesia.

Transaksi digital menawarkan banyak keuntungan yang ditawarkan pada penggunanya. Keuntungan berupa pembayaran yang praktis, berbagai promo yang tersedia, kemudahan dalam mengatur pengeluaran, fleksibel waktu dan tempat, dan tentunya masih banyak lagi keuntungan dari transaksi digital. Berdasarkan data dari Google, Temasek, dan Bain (2021), tercatat bahwa ekonomi digital di Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 49 persen di tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah ini diperkirakan akan semakin meningkat dengan akselerasi adopsi internet dan sarana digital. Sementara itu, beberapa subsektor yang berkembang pesat dalam ekonomi digital antara lain adalah e-commerce, transportasi, dan keuangan. Layanan pendidikan dan kesehatan digital juga mengalami peningkatan pengguna yang cukup pesat selama pandemi. Di sisi lain, riset dari Kearney mencatat investasi pada sektor ekonomi digital di Indonesia pada 2020 mencapai 4,4 miliar dolar AS dua kali lipat lebih besar dari tahun sebelumnya.

Baca Juga  Pemerintah Kaji Pengenaan Bea Meterai di e-Commerce

E-commerce di Indonesia memang mengalami perkembangan yang pesat. Namun, pesatnya itu seolah-olah hanya di lingkup Pulau Jawa dan kota-kota besar saja. Salah satu permasalahan utama adalah masih kurangnya insfrastrukur yang ada dan belum merata kepelosok Indonesia. Seperti yang kita ketahui, jantung dari e-commerce sendiri adalah teknologi internet. Sedangkan di tempat-tempat terpencil di Indonesia, jaringan internet masih terbatas. Permasalahan penting selanjutnya yaitu tentang keamanan data pribadi. Sering kita dimintai data pribadi untuk diinput di marketplace atau situs e-commerce lainnya. Diperlukan regulasi yang lebih ketat untuk mengatur agar marketplace bisa lebih bertanggung jawab terhadap data pribadi konsumen, jangan sampai disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Keamanan transaksi jual beli online juga masih menjadi masalah utama. Masih banyak transaksi palsu dan penipuan belanja online yang membuat masyarakat menjadi ragu untuk transaksi online. Kemudian Masalah Logistik, Masalah Pajak, dan tentunya masih banyak PR yang belum terselesaikan untuk menuju transformasi digital di Indonesia.

Baca Juga  BI Dorong Pembahasan Mata Uang Digital di G20

Hemat penulis, sistem transaksi digital merupakan sebuah kemajuan sekaligus ancaman. Mengapa demikian? Dapat dikatakan kemajuan karena transaksi digital memberikan banyak dampak positif yang kita rasakan. Transaksi digital membuat kita bisa bertransaksi kapanpun dan dimanapun. Kemudahan dan fleksibelitas dari transaksi digital adalah sebuah kemajuan teknologi dari transaksi konvensional yang mengharuskan kita face to face juga memerlukan tenaga dan waktu ekstra untuk sekali transaksi, berkebalikan dengan transaksi digital yang lebih fleksibel. Sementara di lain sisi, dapat dikatakan sebagai ancaman karena belum meratanya jaringan internet di indonesia yang akan membuat daerah tertinggal semakin tertinggal jika tidak segera diatasi. Tidak hanya itu, kerentanan data pada transaksi digital juga perlu diperhatikan, masih banyak terjadi kasus kasus kebocoran data yang terjadi di Indonesia. Dengan banyak pembenahan yang dilakukan, Indonesia diharapkan mampu mengatasi semua kekurangan dari transaksi digital pada saat ini, sehingga transaksi digital di Indonesia berjalan dengan lancar seperti apa yang diharapkan.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

15 Points
Upvote Downvote

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *