in ,

Target Pendapatan Negara Rp 2.865,3 T di 2024

Pendapatan Negara Rp 2.865
FOTO: KLI Kemenkeu

Target Pendapatan Negara Rp 2.865,3 T di 2024

Pajak.com, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan pendapatan negara tahun 2024 berkisar Rp 2.719,1 triliun – Rp 2.865,3 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024. Angka pendapatan negara itu, terdiri atas proyeksi penerimaan perpajakan (pajak serta bea dan cukai) yang diproyeksi sebesar Rp 2.280,3 triliun – Rp 2.355,8 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 436,5 triliun – Rp 504,9 triliun, dan hibah Rp 2,3 triliun – Rp 4,6 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, target itu disusun berdasarkan analisis kondisi domestik, yakni aktivitas konsumsi yang diperkirakan akan menguat di tahun 2024 sejalan dengan terjaganya daya beli masyarakat, inflasi yang terkendali, dan meningkatnya penciptaan lapangan kerja. Penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak juga akan turut mendorong aktivitas perekonomian.

Di sisi lain, investasi pun diproyeksi meningkat, khususnya terkait sektor-sektor berbasis hilirisasi, baik mineral dan produk pertanian. Pembangunan smelter yang terus meningkat akan mendorong belanja modal korporasi pada sektor-sektor terkait. Percepatan pelaksanaan agenda reformasi struktural yang dilakukan pemerintah juga diproyeksi dapat terus memperbaiki iklim investasi dan bisnis di Indonesia, sehingga mampu mendorong daya tarik investasi yang lebih besar.

Baca Juga  PPMSE Resmi Berperan sebagai Importir, Apa Tanggung Jawabnya?

“Berdasarkan hal-hal tersebut, pemerintah memandang bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen – 5,7 persen dapat dicapai di tahun 2024. Kemudian, untuk mendukung percepatan transformasi ekonomi tersebut perlu penguatan reformasi fiskal secara holistik melalui optimalisasi pendapatan negara, penguatan spending better, serta mendorong pembiayaan yang inovatif, prudent, dan berkelanjutan. Hal ini terefleksi pada optimalisasi pendapatan negara mencapai 11,81 persen sampai dengan 12,38 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Ini postur awal (pendapatan) APBN 2024 sebesar berkisar Rp 2.719,1 triliun – Rp 2.865,3 triliun untuk kita finalkan. Nanti akan disampaikan presiden pada Agustus (2023),” ungkap Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna ke-25 bersama Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), di Gedung DPR, (30/5).

Baca Juga  Ketentuan Pembebasan Bea Masuk Barang Pindahan dari Luar Negeri

Sedangkan, belanja negara tahun 2024 ditargetkan mencapai Rp 3.215,7 triliun – Rp 3.476,2 triliun. Angka ini terdiri atas belanja pemerintah pusat dalam kisaran Rp 2.400,7 triliun – Rp 2.631,2 triliun dan transfer ke daerah dalam sekitar Rp 815 triliun – Rp 845 triliun.

“Belanja pemerintah pusat Rp 2.400,7 triliun sampai dengan Rp 2.631,2 triliun itu, termasuk untuk pemilu yang memang tahun depan cukup dominan—untuk pemilu, pilkada, dan pemilihan legislasi,” kata Sri Mulyani.

Dengan demikian, dari kegiatan pendapatan dan belanja ini, defisit tahun 2024 berada pada kisaran Rp 496,6 triliun – Rp 610,9 triliun atau 2,16 persen – 2,64 persen dari PDB. Pemerintah menargetkan rasio utang di kisaran 38,07 persen – 38,97 persen dari PDB, sedangkan keseimbangan primer (primary balance) berada 0,03 persen dari PDB.

Baca Juga  e-Faktur Desktop versi 4.0 Diluncukan 20 Juli 2024, Pengusaha Kena Pajak Perlu Persiapkan Ini

“Primary balance kita usahakan mendekati balance, sehingga memperkuat APBN. Keseimbangan primer menuju positif, defisit dikendalikan, serta rasio utang dijaga dalam batas manageable. Tren ini perlu kita jaga karena ketidakpastian ke depan akan membutuhkan APBN siap siaga menghadapi berbagai gejolak,” kata Sri Mulyani.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *