in ,

Ekspor CPO dan Turunannya Bebas Pajak Hingga Agustus

“Kalau dalam hal ini harga CPO rendah, maka tarifnya akan sangat rendah. Sedangkan kalau harganya naik, dia akan meningkat. Ini dengan tujuan bahwa kita, melalui BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit), mendapatkan pendanaan untuk mereka melakukan program stabilisasi harga, yaitu biodiesel dan dari sisi stabilisasi harga minyak goreng,” jelas Sri Mulyani.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, secara khusus ia telah berdisikusi dengan Sri Mulyani untuk menurunkan tarif pungutan ekspor CPO. Kebijakan ini perlu dilakukan demi mengurangi beban petani sawit.

“Kami mungkin akan menurunkan (pungutan ekspor sawit). Tadi malam saya bicara sama menteri keuangan bahwa tarif ekspor mungkin akan kami bawa sampai ke bawah, sehingga orang akan diberikan insentif untuk ekspor karena penurunan tarif ini akan membuat aktivitas ekspor semakin lancar. Mungkin pertengahan bulan, belasan, minggu depan akhir itu ekspor sudah mulai lancar. Kalau itu lancar, kami pastikan harga tandan buah segar bisa naik,” ungkap Luhut.

Baca Juga  Wamenkeu: Barang Kebutuhan Pokok ‘tak Kena PPN

Ketua Umum Dewan Pemimpin Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung menyatakan apresiasinya terhadap kebijakan penghapusan pungutan ekspor CPO beserta produk turunannya hingga 31 Agustus 2022 mendatang. Ia berharap, hal itu mampu mendongkrak harga tandan buah segar sawit. Di sisi lain, Gulat menilai bahwa pungutan pajak ekspor bukan merupakan faktor utama anjloknya harga tandan buah segar.

“Anjloknya harga tandan buah segar petani tidak semata tunggal karena pungutan ekspor, ada beberapa faktor lagi yang justru lebih menekan, terutama patokan harga CPO Indonesia,” ujarnya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *