in ,

Pertamina Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik

Pertamina Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik
FOTO: IST

Pertamina Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik

Pajak.com, Swiss – PT Pertamina (Persero) siap kembangkan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle di Indonesia. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan, Pertamina memiliki infrastruktur yang bisa dioptimalkan untuk penetrasi kendaraan listrik serta memiliki data segmentasi karakteristik, mobilitas, dan kemampuan membeli.

“Pertamina mempercepat penggunaan energi berkelanjutan, menargetkan efisiensi energi dengan elektrifikasi menjadi faktor penentu keberhasilan. Kami yakin dengan cadangan nikel di Indonesia, kami bisa memproduksi baterai dan meningkatkan penetrasi baterai electric vehicle,” ungkap Nicke di acara World Economic Forum (WEF), di Swiss, dikutip Pajak.com, (24/1).

Kesiapan perseroan juga karena Pertamina memiliki lebih dari 7.400 Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU), 6.100 Pertashop, dan 63.000 outlet liquified petroleum gas (LPG). Perseroan siap berkolaborasi dengan pihak lain dari pelbagai negara untuk mengembangkan baterai kendaraan listrik dan mengoptimalkan infrastruktur yang dimiliki.

“Namun, Pertamina menyoroti perlunya pembiayaan, terutama dari negara maju, mengingat transisi energi ke energi terbarukan membutuhkan investasi modal yang sangat besar, sehingga diperlukan dukungan investasi dari negara maju,” ujar Nicke.

Baca Juga  Indonesia Usul Agenda Kesehatan Global di Presidensi G20

Selain itu, Pertamina memandang perlunya rekomendasi kebijakan untuk memastikan transisi yang adil dan terjangkau. Pertamina mendorong persiapan energi transisi yang berkeadilan dari sektor yang terdampak.

“Perlunya memastikan praktik berkelanjutan dalam akses mineral untuk membangun infrastruktur energi baru yang bersih dan rendah karbon, termasuk kendaraan listrik. Kami membutuhkan kerangka kerja dan regulasi seperti insentif untuk mempromosikan dan mengakselerasi ekosistem electric vehicle,” jelas Nicke.

Komitmen Pertamina itu seirama dengan rekomendasi yang diajukan oleh Gugus Tugas Energi, Keberlanjutan dan Iklim B20 (Business 20-Task Force Energy, Sustainability, and Climate/B20-TF ESC), salah satunya mengajukan rekomendasi kebijakan untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

“Kami mengusulkan beberapa rekomendasi kebijakan dan aksi kebijakan, terutama bagaimana mempercepat penetrasi electric vehicle di setiap negara,” kata Nicke yang juga menjabat sebagai Ketua B20-TF ESC sepanjang Forum G20 tahun 2022.

Baca Juga  Pemerintah Alokasikan Anggaran PEN 2022 Rp 414 T

Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia sudah dimulai dengan melibatkan perusahaan asing dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk Pertamina. Setidaknya, ada empat perusahaan yang memiliki rencana investasi di Indonesia untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, yakni LG, CATL, Foxconn, dan BritishVolt.

“Pemerintah menyambut baik investor yang serius datang ke Indonesia dengan memberikan kemudahan fasilitas perizinan dan insentif pajak,” kata Bahlil.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meyakini, Indonesia akan menjadi satu dari tiga besar produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia pada 2027. Keyakinan itu juga didukung oleh telah ditandatanganinya perjanjian kerja sama pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik antara holding BUMN MIND ID dengan produsen baterai kendaraan listrik asal China Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL).

“Nanti tahun 2027 kita mungkin salah satu dari tiga besar dunia yang akan memproduksi baterai kendaraan listrik, juga termasuk mobil listrik. Kita sudah siap memasuki satu era baru membangun ekosistem lithium battery dan juga mobil kendaraan listrik dan ini kalau berjalan semua sesuai rencana, maka baterai pertama litium juga akan bisa kita produksi pada tahun 2025,” kata Luhut dalam Rakornas Kepala Daerah dan Forkopimda 2023, (17/1).

Baca Juga  BI dan BNM Perluas Kerja Sama QRIS Antarnegara

Secara simultan, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan hilirisasi nikel beserta turunannya sejak beberapa tahun belakangan. Hasilnya, ekspor turunan nikel Indonesia mengalami kenaikan dari sekitar 8,1 miliar dollar AS menjadi 33,8 miliar dollar AS pada 2022.

“Kelihatan ekspor kita sangat naik dengan baik pada tahun ini, hampir 11 miliar dollar AS, tambah dari kenaikan down stream industry atau hilirisasi dari hanya nickel ore (bijih nikel). Jadi, kalau nanti kita sampai pada lithium battery, angka ini saya kira akan jauh lebih besar,” kata Luhut.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *