in ,

Investasi Digital Sebagai Solusi Finansial Milenial di Masa Depan

FOTO: IST

Masyarakat milenial merupakan masyarakat yang mengedepankan penggunaan teknologi dan internet dalam kesehariannya. Era digital telah mengubah gaya hidup masyarakat. Berbagai survei menunjukkan generasi milenial berusaha terlihat menarik di media sosial, baik itu dengan berkunjung ke tempat wisata, hangout di kafe, maupun membeli berbagai barang tanpa memperhatikan antara kebutuhan dan keinginan.

Tanpa disadari, gaya hidup konsumtif seperti ini justru membuat generasi milenial terjebak dalam situasi keuangan yang sulit akibat pengeluaran sering kali lebih besar dibandingkan dengan pemasukan. Gaya hidup yang dinamis ditambah minimnya pengetahuan pengelolaan keuangan membuat mereka merasa sulit untuk mengatur keuangan. Sebagian milenial juga masih sulit mengatur keuangannya sesuai skala prioritas.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pengeluaran konsumsi rumah tangga (RT) masyarakat Indonesia mencapai 8.269,8 triliun di tahun 2018 (Badan Pusat statistik, 2018). Di tahun yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masyarakat tercatat sebesar 122,7. Pada tahun 2019 terjadi peningkatan IKK masyarakat sebesar 1,22% menjadi 124,2. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat, konsumsi rumah tangga atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp 1468,8 triliun pada kuartal II-2021. Nilai tersebut tumbuh 5,93% jika dibandingkan pada kuartal II-2020 (year on year/yoy). Jika ditinjau berdasarkan usia, IKK mayarakat dikelompokkan menjadi usia 20- 30 tahun, usia 31-40 tahun, usia 41-50 tahun, usia 51-60 dan usia lebih dari 60 tahun (Bank Indonesia, 2019). Data IKK tertinggi yaitu 128,8 dimiliki oleh kelompok usia 20- 30 tahun yang termasuk dalam kategori generasi milenial. Pengklasifikasian individu sebagai generasi milenial dapat menggunakan acuan tahun lahir yaitu individu yang lahir antara tahun 1990 – 2000.

Baca Juga  Milenial sebagai Pelaku Transaksi Digital dan Investasi Digital

Apabila perilaku konsumtif pada generasi milenial berjalan terus-menerus tanpa kesadaran untuk menabung atau berinvestasi, mereka akan kesulitan menghadapi masalah keuangan di masa depan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan di masa depan, salah satu yang dapat dilakukan generasi milenial adalah dengan menjadi investor muda. Investasi yang merupakan penanaman modal dalam jangka panjang, maka berarti investor melakukan penundaan konsumsi pada masa sekarang  dengan menanamkannya pada aset produktif sehingga memperoleh peluang konsumsi yang lebih besar di masa mendatang.

Berdasarkan hasil penelitian (Setyorini & Indriasari, 2020) penyesuaian yang dilakukan dibidang teknologi keuangan (financial technology/fintech) memudahkan generasi milenial untuk menjadi investor muda dengan memanfaatkan smartphone mereka sendiri.

Saat ini banyak sekali platform digital yang bisa digunakan untuk berinvestasi secara online mulai dari reksa dana, saham maupun obligasi. Melalui aplikasi mobile semua informasi dapat dilihat secara transparan dan bisa pula dilakukan crosscheck secara langsung dengan regulator. Tentu ini menjadi sebuah kemudahan bagi para investor untuk memulai berinvestasi.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan investor muda mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya terutama dalam sektor pasar modal.  Data Bursa Efek Indonesia, sampai dengan akhir tahun 2020, investor pasar modal telah meningkat 56% dari tahun 2019 menjadi 3,88 juta investor. Sementara itu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor pasar modal tumbuh 71,42% sepanjang tahun 2021. Hal itu terlihat dari single investor identification (SID) yang mencapai 6,65 juta per 19 Oktober 2021, naik dari posisi akhir tahun 2020 yang sebanyak 3,88 juta.

Baca Juga  Regulator Perbankan Bersinergi Ekosistem Bank Digital

Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo menuturkan, total jumlah investor pasar modal terdiri dari investor saham sebanyak 3,04 juta, investor reksa dana sebanyak 6 juta, dan investor surat berharga negara (SBN) sebanyak 583.000.

Dari sisi demografi, data KSEI per 19 Oktober 2021 menunjukkan bahwa investor pasar modal Indonesia masih didominasi oleh usia di bawah 30 tahun dan 30-40 tahun dengan porsi 81,02%. Ini sejalan dengan tingkat pendidikan para investor yang didominasi oleh lulusan SMU dengan jumlah 56,54%. Dari sisi pekerjaan, 29,61% investor merupakan pegawai, disusul dengan pelajar sebesar 27,21%.

Nilai aset yang tercatat di salah satu sistem utama KSEI yaitu sistem C-BEST untuk produk investasi efek hingga 19 Oktober 2021 mengalami peningkatan 23,41% dari Rp 4.390,44 triliun menjadi Rp 5.418,05 triliun. Angka ini setara 66,35% dari kapitalisasi pasar.

Bila dilihat dari sisi demografi, investor dari generasi muda di bawah 30 tahun mendominasi, yakni sebanyak 81,02% dengan jumlah aset disimpan di C-BEST Rp 5.418,05  triliun. Adapun rerata penghasilannya paling banyak di kisaran Rp 10 juta sampai dengan Rp 100 juta. Sehingga jika investasi ini terus dioptimalkan maka generasi milenial akan mendapat peluang konsumsi yang lebih besar di masa mendatang.

Tidak asal berinvestasi, milenial juga harus paham mengenai Literasi keuangan yaitu berkaitan dengan memiliki pengetahuan produk dan konsep keuangan (financial knowledge), memiliki kemampuan dalam mengatur perencanaan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang (financial attitude) serta memiliki kemampuan mengambil keputusan pengelolaan keuangan (financial behavior) (Garg and Singh, 2018).

Baca Juga  RUU P2SK Momentum Reformasi Sektor Keuangan

Investasi sebagai salah satu aktivitas keuangan, memerlukan pengetahuan dan kemampuan menilai tingkat pengembalian (return) dan risiko aset investasi sehingga akan mendorong para investor untuk lebih memahami dalam mengambil keputusan yang tepat.

Di Indonesia, pengetahuan dan kemampuan investasi masyarakat menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan yang kemudian melakukan survei literasi keuangan. Survei literasi diklasifikasikan dalam kategori: baik (well literate), cukup baik (sufficient literate), kurang baik (less literate), dan tidak baik (not literate). Perhatian Otoritas Jasa Keuangan ini dikarenakan keputusan keuangan individu berperan penting dalam keputusan lembaga keuangan yang pada gilirannya akan berdampak pada stabilitas keuangan negara (Singh, 2014).

Oleh sebab itu, dalam hal ini generasi milenial hendaknya terus meningkatkan pemahaman dalam mengatur dan mengelola keuangan. Tidak hanya sekedar mengikuti tren keuangan atau ajakan investasi namun perlu pengetahuan dasar penilaian investasi, tingkat risikonya dan tingkat pengembalian (return) investasi digital sebelum memulai. Sehingga investasi digital ini bisa menjadi solusi serta menghadirkan kondisi finansial yang sehat dimasa mendatang.

Referensi: Ahmad Rasyid dkk.”Investasi Sebagai Solusi Mengurangi Perilaku Konsumtif Milenial Masa Pandemi Covid-19”. Jurnal Ekonomi dan Manajemen, Vol,4(2021).126.

https://market.bisnis.com/read/20210223/7/1359977/pecah-rekor-jumlah-investor-muda-tertinggi-sepanjang-sejarah-bursa

https://investasi.kontan.co.id/news/tumbuh-signifikan-jumlah-investor-pasar-modal-capai-665-juta

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *