in ,

Sri Mulyani: Pajak Daerah Tumbuh 120 Persen

Pajak Daerah Tumbuh 120 Persen
FOTO: KLI Kemenkeu

Sri Mulyani: Pajak Daerah Tumbuh 120 Persen

Pajak.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, pajak daerah tumbuh 120 persen di tahun 2022. Hal ini menunjukkan perekonomian nasional tumbuh merata sepanjang tahun lalu dan diharapkan berkelanjutan di 2023.

“Tingkat konsumsi masyarakat yang terus tumbuh secara kuat, peningkatan mobilitas (masyarakat) jelang akhir tahun. Beberapa sektor yang semula tumbang dihantam pandemi mulai menunjukkan kebangkitannya. Pajak daerah, (meliputi) pajak restoran, hotel, parkiran ini naiknya tidak 11 persen atau 12 persen tapi 60 persen dan 120 persen,” kata Sri Mulyani saat memberikan sambutan di acara Ikatan Bankir Indonesia bertajuk CEO Banking Forum, di Jakarta dan juga disiarkan secara virtual, (9/1).

Menilik laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kinerja dan Fakta (KiTa) Edisi Desember 2022, kinerja pajak daerah di seluruh Indonesia mencapai Rp 195,72 triliun hingga November 2022, sehingga menjadi kontributor utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kinerja pajak daerah yang tumbuh positif ditopang oleh lima jenis pajak konsumsi. Pertama, pajak hotel yang mencapai Rp 5,74 triliun hingga November 2022 atau tumbuh 110,1 persen dibandingkan dengan November 2021 sebesar Rp 2,73 triliun. Kedua, pajak hiburan tumbuh 88,2 persen dari Rp 750 miliar menjadi Rp 1,41 triliun. Ketiga, pajak restoran tumbuh 62 persen dari Rp 6,88 triliun menjadi Rp 11,14 triliun. Keempat, pajak parkir tumbuh 58,3 persen dari Rp 660 miliar menjadi Rp 1,04 triliun. Kelima, pajak bahan bakar kendaraan bermotor tumbuh 23,9 persen dari Rp 19,21 triliun menjadi Rp 23,79 triliun.

Baca Juga  Delapan Kebijakan Strategis OJK Tahun 2022

Sri Mulyani memastikan, pertumbuhan realisasi jenis pajak itu tidak hanya terjadi di Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta saja, melainkan di pelbagai daerah lainnya di Indonesia. Bahkan, pertumbuhan ekonomi di setiap pulau menunjukkan peningkatan. Hanya di Pulau Sumatera yang tingkat pertumbuhan ekonominya sekitar 4,7 persen.

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2022  mencapai 5,7 persen, sedangkan pada kuartal IV-2022 diprediksi kembali tumbuh di atas 5 persen.

“Selama tahun 2022, tingkat konsumsi masyarakat sudah kembali pulih. Terlihat dari DPK (dana pihak ketiga) di perbankan yang sudah turun ke level 9,5 persen dari sebelumnya di atas 10 persen. Artinya, kelompok menengah ini sudah mulai melakukan konsumsi dan ini mendukung ekonomi kita,” ungkap Sri Mulyani.

Baca Juga  Aplikasi KEK Permudah Investor Raih Layanan Perpajakan

Alhasil, pertumbuhan kredit di perbankan juga mengalami peningkatan, termasuk pertumbuhan investasi yang sudah di level 6 persen dan kinerja ekspor yang selama 31 bulan mengalami surplus.

“Kredit gross ini mudah-mudahan bisa tumbuh 2 digit dan bertahan. Artinya, Indonesia dengan tadi, setting global economy, di mana pemulihan dari COVID-19 tidak merata dan terjadi disruption, kita dalam kondisi spill over-nya justru positif,” ujar Sri Mulyani.

Ia pun mengajak para banker untuk bersama menjaga resiliensi perekonomian Indonesia tahun 2023. Banker diharapkan mampu menjaga ekonomi di bidang sektor keuangan.

“Naik dan turun, sehat tidak atau sehat ekonomi kita, sangat bergantung kepada perbankan hari ini 2023. Jadi, kalau saya juga menjaga APBN, tolong jaga bank Anda secara baik-baik. Sektor perbankan peranannya di sektor ini sangat dominan,” kata Sri Mulyani.

Baca Juga  Cara Bayar Setoran Masa Pajak di DKI Jakarta

Memasuki awal tahun 2023, banker dapat mengambil banyak pelajaran dari situasi yang dihadapi di tahun sebelumnya, seperti disrupsi kenaikan harga komoditas, inflasi, kenaikan suku bunga, dan meningkatnya cost of fund akibat kondisi geopolitik Rusia-Ukraina.

“Prediksi dari IMF (International Monetary Fund) mengenai pertumbuhan ekonomi dunia yang menurun di tahun 2023, yakni hanya 2,7 persen. Prediksi ini menjadi kewaspadaan keadaan dunia yang kurang menggembirakan dengan adanya kemungkinan inflasi dan resesi, juga masalah debt sustainability di berbagai negara. Saya berharap, Anda bukan orang yang kedandapan menghadapi 2023. Jadi, saya juga berharap Anda thinking ahead. Jangan salah arah, jangan salah kompas, jangan salah bersauh,” kata Sri Mulyani.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *