in ,

BKF: PPN Sembako Premium Berlandaskan Keadilan

BKF Usulan PPN Sembako Premium Berlandaskan Keadilan
FOTO: IST

Pajak.com, Jakarta – Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali memastikan, usulan pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) sembako premium merupakan upaya pemerintah mewujudkan sistem perpajakan yang berkeadilan.

Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Pendapatan Negara BKF Kemenkeu Rustam Effendi menuturkan, selama ini pemerintah telah memberikan beragam insentif perpajakan untuk sembilan bahan pokok alias sembako. Semua jenis sembako di pasar tradisional hingga modern tidak dikenakan PPN.

“Selama ini cenderung tidak ingin membebani rakyat sampai buah-buahan impor pun yang mahal-mahal, ada yang sekilo Rp 6 juta tetap mendapat insentif PPN. Nah, ini menimbulkan ketidakadilan,” jelas Rustam dalam diskusi virtual bertajuk “Bicara Bukti, Sudah Adil dan Optimalkah PPN?”, pada Jumat (25/6).

Baca Juga  Kurs Pajak 21 Desember 2022

BKF mencatat, peran rumah tangga kelas menengah dalam konsumsi mengalami peningkatan secara konsisten terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada 2002, kontribusi kelas menengah terhadap konsumsi tercatat hanya sebesar 21 persen, lalu meningkat menjadi 47 persen. Berdasarkan catatan Bank Dunia, konsumsi dari rumah tangga kelas menengah tercatat tumbuh 12 persen setiap tahunnya—terhitung sejak 2002.

Kendati konsumsi rumah tangga terus mengalami pertumbuhan, aturan PPN belum mampu menangkap potensi pajak secara optimal. Oleh karena itu, Rustam menilai, sudah sepatutnya sembako premium dikenakan PPN dan diusulkanlah dalam Rancangan Undang Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU) KUP. Upaya ini sekaligus sebagai alternatif bagi otoritas untuk memperluas basis pajak dan mereformasi sistem perpajakan, sehingga mampu menjadi sumber penerimaan pajak baru di tengah defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) yang masih menghantui. Seperti diketahui, APBN 2020 terpaksa mematok defisit di atas 3 persen.

Baca Juga  Kemen ESDM: Pajak Karbon Tak Picu Kenaikan Tarif Listrik

“Jangan sampai nanti misalnya kalau ada krisis berikutnya, kita pakai opsi melebarkan defisit. Nah (krisis) ini juga pengalaman yang luar biasa menurut saya,” tambahnya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *