in ,

Tiga Cara Antisipasi Volatilitas IHSG

Tiga Cara Antisipasi Volatilitas IHSG
FOTO : IST

Pajak.com, Jakarta – Indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot 2,97 persen ke level 6.011,46 sepanjang perdagangan pekan ini, dari posisi 6.195,56 pada akhir perdagangan pekan lalu. Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar menurun sebesar Rp 208,47 triliun, dari Rp 7.309,90 triliun menjadi Rp 7.101,43 triliun. Padahal, di awal maret lalu, IHSG mengalami peningkatan di level 6.281 dan kapitalisasi pasar pun meningkat. Founder dan CEO Emtrade Ellen May punya tiga cara dalam mengantisipasi volatilitas IHSG. Pertama, untuk mengantisipasi volatilitas IHSG jangan terlalu agresif membeli saham. Kecuali, jika Anda sudah memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai saham.

“Beda kasus, nih, kalau kamu investor yang menggunakan momen ini sebagai waktunya belanja saham diskon. Tentunya harus sesuai dengan money management yang tepat, ya,” kata Ellen May, melalui pesan singkat, Jumat petang (2/4).

Baca Juga  Ekonomi-Keuangan Syariah Indonesia Terbesar di Dunia

Kedua, melakukan cicil beli untuk investasi. “Tidak langsung all in saat harga turun pada saham-saham yang memiliki fundamental yang bagus untuk disimpan longterm investing, porsinya pun harus sesuai dengan budget, lho,” lanjut Ellen May.

Ketiga, money management ala Emtrade, yakni atur strategi dengan porsi 80 persen untuk investasi dan 20 persen untuk trading. Ia menyarankan, trading untuk lima sampai 10 saham. Akan tetapi, tergantung modal investasinya.

Ellen mengatakan, ke depan IHSG masih berpotensi menguat terbatas ke area resisten 6.060. Ada beberapa sentimen yang biasanya memengaruhi IHSG, seperti yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, pergerakan harga dollar, sentimen margin call, rilis data inflasi maupun purchasing managers index (PMI) manufaktur Indonesia.

Baca Juga  Arema FC Bersiap Melantai di Bursa Saham

Namun, sebenarnya pemerintah baru saja merilis PMI manufaktur Maret 2021 yang berada di level 53,2. Capaian ini meningkat 2,3 poin dari Februari 2021 yang sebesar 50,9. Bahkan, PMI manufaktur Maret 2021 menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi sepanjang Maret 2020 mengalami penurunan, yakni sebesar 0,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya.