in ,

Laba Bersih Adaro Tembus Rp 6 Triliun di Kuartal III-2021

Laba Bersih Adaro Tembus Rp 6 Triliun di Kuartal III-2021
FOTO: IST

Pajak.comJakarta – PT Adaro Energy Tbk. atau Adaro Energy membukukan laba bersih sebesar 420,9 juta dollar AS atau sekitar Rp 6 triliun pada kuartal III-2021. Perolehan laba bersih Adaro Energy tersebut naik 284,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 109,37 juta dollar AS.

Sementara di sepanjang tahun hingga September lalu, pendapatan emiten ADRO ini naik 31 persen year on year (yoy) menjadi 2,56 miliar dollar AS dari sebelumnya sebesar 1,95 miliar dollar AS. Petumbuhan di sepanjang 9 bulan pertama 2021 ini seiring dengan melonjaknya harga jual batu bara.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Adaro Energy Tbk. Garibaldi Thohir mengatakan, peningkatan pendapatan perseroan terutama berasal dari peningkatan rata-rata harga jual batu bara (ASP) sebesar 42 persen yoy.

Baca Juga  Pertamina Stop Fasilitas Kartu Kredit Korporat

“Pada periode ini, pendapatan usaha dari pertambangan dan perdagangan batu bara masih berkontribusi paling dominan ke pendapatan ADRO yakni senilai 2,47 miliar dollar AS atau tumbuh 35 persen yoy. Diikuti dari sektor jasa pertambangan 67 juta dollar AS dan segmen lainnya 32 juta dollar AS,” katanya dalam keterangan resmi terkait laporan keuangan konsolidasi untuk sembilan bulan pertama tahun 2021, serta laporan operasional 3Q21, pada Rabu (1/12).

Sepanjang periode Januari—September 2021, Adaro Energy tercatat memproduksi batu bara hampir 40 juta ton, atau turun 4 persen yoy dan mencatat penjualan batu bara sebesar 38,86 juta ton atau turun 5 persen yoy. Sementara untuk kinerja perusahaan pada pengupasan lapisan penutup mencapai 173,03 Mbcm atau naik 8 persen yoy, dan nisbah kupas periode ini mencapai 4,36x. Menurutnya, cuaca yang kurang baik memperlambat aktivitas pengupasan penutup, sehingga di periode ini pula beban pokok pendapatan Adaro Energy naik 7 persen yoy menjadi 1,59 miliar dollar AS.

Baca Juga  Indonesia Ajak WTFI dan ASEAN Pulihkan Pariwisata

Hal ini terjadi terutama karena kenaikan nisbah kupas maupun biaya penambangan, dengan adanya peningkatan harga bahan bakar dan pembayaran royalti yang disebabkan oleh kenaikan harga jual rata-rata.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0