in ,

Inflasi Pengaruhi Budaya Konsumsi Masyarakat

Inflasi Pengaruhi Budaya Konsumsi
FOTO: IST

Inflasi Pengaruhi Budaya Konsumsi Masyarakat

Pajak.com, Jakarta – Sebuah survei yang dilakukan DBS Group Research menemukan bahwa inflasi pengaruhi budaya konsumsi masyarakat Indonesia pada tahun 2023 -2024 mendatang. Setengah dari total responden yang disurvei mengatakan, naiknya harga bahan pokok menambah pengeluaran mereka sebanyak lebih dari 10 persen.

Rata-rata konsumsi per kapita di Indonesia terus meningkat secara stabil setiap tahunnya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat kenaikan sebesar 3,6 persen dari Rp 1,28 juta per bulan pada September 2021, menjadi Rp 1,33 juta pada Maret 2022.

DBS Group Research melakukan survei kepada lebih dari 700 responden Indonesia dari berbagai kelas pemasukan pada November 2022. Hasilnya, peningkatan konsumsi masyarakat terhadap produk makanan menjadi 50,1 persen pada 2022 dari yang sebelumnya 49,2 persen pada 2020. Kenaikan tersebut ditengarai berkat adanya imbauan masyarakat untuk stay at home demi mencegah penyebaran COVID-19.

Ekonom DBS Group Research Radhika Rao mengatakan, riset ini meneliti bagaimana inflasi dan ancaman resesi mengubah pola pengeluaran dan konsumsi masyarakat, tidak hanya pada saat pandemi dari 2020-2022, tetapi juga pada saat inflasi 2013-2015 silam.

Baca Juga  Jokowi Lantik 3 Wakil Menteri Baru, APINDO: Langkah Memuluskan Transisi Pemerintahan 

“Peningkatan inflasi 8 persen pada Juli 2013 dan Desember 2014 dipicu oleh kenaikan harga premium dan diesel pada Juni 2013 dan November 2014. Ini disertai dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga dari 5,75 persen pada Januari 2013 menjadi 7,5 persen pada Desember 2015. Akibatnya, pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia menurun dari 5,7 persen pada awal 2013 menjadi 4,9 persen pada akhir 2015. Setelah itu, pola konsumsi bergeser ke produk nonmakanan yang meningkat masing-masing menjadi 50 persen dan 52,5 persen pada 2014 dan 2015, dari 49,3 persen di 2013. Hal ini terjadi karena tingginya pengeluaran untuk perabotan rumah tangga,” kata Rao dalam keterangan tertulis dikutip Pajak.com Sabtu (25/2/23).

Menurut DBS Group Research, pola konsumsi Indonesia pada 2023 dan 2024 pun akan berubah. Menurut riset DBS, ekonomi makro Indonesia masih tergolong kuat di tengah tingginya angka inflasi. Namun, konsumsi akan melambat di 2023 karena meningkatnya angka inflasi. Prediksi ini mengacu dari pola inflasi pada 2013-2015 dan hasil survei konsumen Bank DBS Indonesia.

Baca Juga  Airlangga Ungkap 3 Bukti Fundamental Perekonomian Indonesia Masih Terjaga

Rao memprediksi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2023 akan bertahan di 5 persen, lebih rendah dari 5,4 persen pada 2022 lalu.

Riset juga menemukan bahwa konsumen masih memiliki kekhawatiran terkait inflasi walaupun sudah menurun. Kekhawatiran tersebut didasari atas ketakutan akan meningkatnya harga barang dan jasa, terutama harga BBM dan bahan pokok rumah tangga. Walaupun angka inflasi sudah turun menjadi 5,42 persen secara tahunan pada November (dari 5,95 persen dan 5,71 persen secara tahunan pada bulan September dan Oktober), setengah dari responden mengatakan bahwa kenaikan harga menambah pengeluaran mereka sebanyak lebih dari 10 persen.

Rao memaparkan, mayoritas responden merasa tren inflasi akan berlangsung sampai enam bulan ke depan bahkan lebih. Menyikapi hal itu, masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan pengeluaran mereka dengan kondisi ini. Untuk menjawab efek dari naiknya angka inflasi, kebanyakan dari responden lebih memilih untuk lebih banyak menabung atau mengurangi pengeluaran (save more, spend less) dan mencari alternatif barang yang lebih murah.

Baca Juga  Pilih Rasio Utang Jadi 50 Persen atau Defisit Fiskal 0 Persen? Ini Analisis APINDO

“Apabila hal ini terjadi, kita akan melihat perlambatan konsumsi rumah tangga pada 2023,” kata Rao.

Rao menyebut, dalam mengubah pola konsumsinya, mayoritas responden memiliki kecenderungan untuk mendahulukan pengeluaran harian seperti belanja bulanan dan BBM, juga keperluan rumah tangga dibanding berlibur atau membeli baju. Selain itu, responden memilih alternatif produk yang lebih murah dalam kategori pengeluaran harian dan mengurangi frekuensi konsumsi pengeluaran non-pokok seperti rekreasi, makan di luar, dan pakaian.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *