in ,

Sandiaga Uno: Jangan Nyaman di “Comfort Zone”

Sandiaga Uno: Jangan Nyaman di “Comfort Zone”
FOTO: Sandiaga Salahuddin Uno

Pajak.com, Jakarta – Bak tersambar petir di siang bolong, ketika Sandiaga Salahuddin Uno harus menerima nasib kena PHK (pemutusan hubungan kerja) di perusahaan swasta di Kanada akibat krisis finansial sekitar tahun 1997. Bagi Sandi, fase itu merupakan titik terendah dalam hidupnya. Namun, sejak saat itu juga ia menyadari, bahwa jangan terlalu merasa aman di zona nyaman, selalu rencanakan hidup jauh ke depan.

“Zona nyaman itu adalah fatamorgana yang membawa hidup kita merana. Jangan pernah terlalu nyaman di comfort zone. Tapi kita terus gali motivasi dan semangat kita untuk terus memberikan kontribusi yang terbaik,” kata Sandi, dalam podcast di saluran YouTube Basuki Surodjo.

Baca Juga  Kiprah Abdee Slank, Komisaris Independen Baru Telkom

Jadi Pengusaha

Setelah kejadian itu, dia pulang ke tanah air untuk mencari pekerjaan. Namun, keberuntungan belum berpihak padanya. Indonesia juga tengah mengalami krisis moneter dan reformasi, banyak perusahaan yang tidak menerima pegawai baru. Ia pun bangkit untuk mulai berbisnis.

Mulainya Sandi mendirikan perusahaan konsultan keuangan bernama PT Recapital Advisors pada 1997. Perusahaan itu didirikan bersama teman semasa sekolah menengah atas (SMA), Rosan Perkasa Roeslani.

Tidak berpuas diri, Sandiaga Uno bersama Edwin Soeryadjaya mendirikan perusahaan bernama Saratoga Capital pada tahun 1998. Perusahaan ini bergerak dalam bidang infrastruktur dan sumber daya alam. Peraih beasiswa di George Washington University (Amerika Serikat) ini juga dipercaya menjadi pimpinan di beberapa perusahaan lain, diantaranya perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, yaitu PT Adaro Tbk.

Baca Juga  Pandu Patria Sjahrir Terpilih sebagai Ketua Umum Aftech

Sandi kembali mengepakkan sayapnya dengan membeli 51 persen saham Mandala Airlines. Jam terbangnya dalam dunia bisnis membawa Sandi menerima sebuah anugerah sebagai Indonesian Entrepreneur of the Year pada ajang Anterprise Asia dan masuk dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia versi Majalah Forbes.