in ,

Ketentuan PPh 21 Setahun dan Disetahunkan

Ketentuan PPh 21 Setahun dan Disetahunkan
FOTO: IST

Ketentuan PPh 21 Setahun dan Disetahunkan

Ketentuan PPh 21 Setahun dan Disetahunkan. Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 menjadi salah satu perhitungan PPh yang paling panjang. Demi menemukan PPh pasal 21 terutang dari Wajib Pajak, terdapat variasi perhitungan yang harus dilakukan untuk setiap kasus. Komponen penghitungan PPh pasal 21 pun relatif tak sedikit, tergantung dari bagaimana penghasilan yang diterima oleh pemberi kerja.

Salah satu variasi perhitungan PPh pasal 21 adalah penentuan PPh pasal 21 setahun atau disetahunkan untuk pegawai atau karyawan. Perbedaan penggunaan kedua variasi penghitungan ini tergantung dari bagaimana kewajiban pajak subyektif pegawai. Untuk dapat mengetahui lebih lanjut, kita perlu mengetahui bagaimana ketentuan kewajiban pajak subyektif seseorang. Berikut ketentuan PPh 21 setahun dan disetahunkan.

Persyaratan Kewajiban Subyektif Pajak Penghasilan di Indonesia

Ketentuan kewajiban pajak subyektif orang pribadi di Indonesia diatur pada pasal 2A ayat (1) UU PPh. Pada pasal tersebut diatur bahwa kewajiban pajak subyektif dimulai saat orang pribadi tersebut dilahirkan, berada, atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia dan berakhir pada saat meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia selama lamanya.

Kemudian ditarik kembali ke pasal 2 ayat (3) UU PPh, subyek pajak dalam negeri (SPDN) orang pribadi adalah warga negara Indonesia (WNI) ataupun warga negara asing (WNA) yang:

– Bertempat tinggal di Indonesia;

– Berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan; atau

– Dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat bertempat tinggal di Indonesia.

Dari kewajiban subyektif ini kita dapat membedakan bagaimana penghitungan PPh 21 setahun dan disetahunkan. Bagaimana bedanya?

A. PPh 21 Setahun

Perhitungan PPh 21 setahun digunakan untuk pegawai yang kewajiban pajak subyektifnya sudah ada sejak awal tahun kalender dan tidak berakhir di pertengahan tahun. Artinya, pegawai bersangkutan tidak mengalami perubahan status sebagai SPDN. Atas pegawai dengan kondisi ini, perhitungan PPh pasal 21 dihitung secara jumlah riil bulan ia memperoleh penghasilan dari pemberi kerja bersangkutan.

Contoh soal dan perhitungannya:

Siddiq merupakan WNI berumur 25 tahun dan selama ini tinggal di Indonesia. Pada tahun 2020, ia mulai bekerja pada PT. A sebagai pegawai tetap dimulai dari 1 Juli. Selama sebulan ia menerima gaji sebesar Rp8.000.000 dan Siddiq belum menikah serta tidak memiliki tanggungan. Bagaimana perhitungan PPh pasal 21 untuk bulan Juli?

Baca Juga  JENIS-JENIS BEA MASUK DAN PAJAK 2021

1) Gaji sebulan                                                                          Rp8.000.000

2) Pengurang:

– Biaya jabatan

5% x Rp8.000.000                              Rp400.000

(Rp400.000)

3) Penghasilan neto sebulan                                                    Rp7.600.000

4) Penghasilan neto setahun

6 x Rp7.500.000                                                                     Rp45.600.000

5) PTKP setahun

– Untuk Wajib Pajak sendiri                                                     (Rp54.000.000)

6) Penghasilan kena pajak setahun                                                   –

7) PPh Pasal 21 terutang                                                                   –

–> Karena Siddiq merupakan SPDN sejak awal tahun kalender dan ia mulai bekerja pada pertengahan tahun, maka perhitungan penghasilan hanya dikalikan dengan sisa bulan dalam tahun kalender tersebut, yakni 6 bulan. Akibatnya dengan perhitungan ini dan keadaan Siddiq, maka ia tidak dikenai pemotongan PPh pasal 21 penghasilan kena pajaknya masih di bawah PTKP.

B. PPh 21 Disetahunkan

Selanjutnya, perhitungan PPh 21 disetahunkan digunakan untuk pegawai yang kewajiban pajaknya subyektifnya tidak dimulai dari awal tahun kalender dan/atau berakhir di pertengahan tahun. Penentuan mulai dan berakhirnya kewajiban subyektif ini mengikut ketentuan pasal 2 ayat (3) UU PPh sebagaimana disebut diatas.

Bagaimana menghitungnya? Sesuai dengan pasal 14 ayat (6) peraturan dirjen pajak nomor PER-16/PJ/2016, apabila  kewajiban pajak subyektif pegawai tetap hanya meliputi sebagian dari tahun pajak, maka perhitungan PPh pasal 21 untuk bagian tersebut adalah berdasarkan penghasilan kena pajak yang disetahunkan, yakni sebanding dengan jumlah bulan dalam bagian tahun pajak bersangkutan. Misalnya apabila ia bekerja 6 bulan, maka formulanya adalah 12/6 dikalikan penghasilan kena pajak sesungguhnya.

Baca Juga  Insentif Fiskal Belum Dimanfaatkan Industri Manufaktur

Seorang WNA yang datang ke Indonesia untuk bekerja pada suatu perusahaan dimulai pada pertengahan tahun dan kemudian memenuhi salah 1 persyaratan subyektif SPDN, maka perhitungan pajaknya atas penghasilan yang diterima oleh pemberi kerja pada tahun bersangkutan adalah dengan disetahunkan. Perhitungan PPh 21 disetahunkan juga digunakan untuk pegawai SPDN yang kemudian pada pertengahan tahun hilang kewajiban subyektifnya, yang disebabkan oleh pegawai tersebut:

– Meninggal dunia; atau

– Berhenti bekerja dan kemudian meninggalkan Indonesia selama – lamanya;

Contoh soal dan perhitungannya:

Mr. Joe merupakan WNA, datang ke Indonesia pada 1 Juli 2020 dan meneken kontrak pada PT. A untuk bekerja sebagai pegawai tetap selama 5 tahun bertempat di Jakarta. Ia kemudian langsung bekerja pada tanggal 1 Juli tersebut dan selama sebulan ia menerima gaji sebesar Rp8.000.000. Mr. Joe belum menikah dan tidak memiliki tanggungan. Bagaimana perhitungan PPh pasal 21 untuk bulan Juli?

1) Gaji sebulan                                                                        Rp8.000.000

2) Pengurang:

– Biaya jabatan

5% x Rp8.000.000                              Rp400.000

(Rp400.000)

3) Penghasilan neto sebulan                                                  Rp7.600.000

4) Penghasilan neto setahun

6 x Rp7.600.000                               Rp45.600.000

5) Penghasilan neto disetahunkan

12/6 x Rp45.600.000                                                              Rp71.200.000

6) PTKP setahun

– Untuk Wajib Pajak sendiri                                                   (Rp54.000.000)

Baca Juga  Air Tanah sebagai Objek Pajak

7) Penghasilan kena pajak setahun                                       Rp17.200.000

8) PPh Pasal 21 terutang

5% x Rp 17.200.000                                                               Rp860.000

9) PPh Pasal 21 terutang untuk tahun 2020

6/12 x Rp860.000                                                                   Rp430.000

10) PPh Pasal 21 terutang sebulan

1/6 x Rp430.000                                                                     Rp71.666,67

–> Pada kasus ini Mr. Joe yang awalnya WNA mendapatkan status SPDN karena meneken kontrak 5 tahun sebagai pegawai tetap di PT. A. Hal ini tentu membuat ia harus tinggal di Indonesia atau setidaknya memiliki niat tinggal di Indonesia berdasarkan kontrak tersebut. Sehingga meskipun ia bekerja hanya selama 6 bulan di tahun 2020 sama seperti kasus Siddiq pada contoh sebelumnya, perhitungan penghasilan neto untuk Tn. A disetahunkan, sehingga penghasilan kena pajaknya berada di atas PTKP dan terutang PPh.

Kemudian tambahan kasus yang penghitungan PPh 21 disetahunkan, yakni bagi pegawai yang mutasi dari pusat ke cabang atau antarcabang dalam satu perusahaan yang sama pada tahun berjalan. Sesaat sebelum berpindah, kantor harus membuat bukti potong 1721-A1 untuk periode ia bekerja pada kantor tersebut.

Nah, bukti potong ini harus menggunakan penghitungan PPh 21 disetahunkan karena mengasumsikan bahwa pegawai akan terus bekerja pada perusahaan terkait selama setahun. Kantor selanjutnya mencantumkan informasi perhitungan PPh 21 yang telah dibuat di kantor sebelumnya, dan apabila ia akan berpindah kantor lagi, maka perhitungan PPh 21 untuk kantor kedua ini juga disetahunkan, begitu seterusnya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *