in ,

LPI Menjadi Angin Segar Kinerja ADHI Karya

LPI Menjadi Angin Segar Kinerja ADHI Karya
FOTO: IST

Pajak.com, Jakarta – Dibentuknya Lembaga Pengelola Investasi (LPI), atau dana abadi Sovereign Wealth Fund (SWF) bernama Indonesia Investment Authority (INA) menjadi salah satu faktor meningkatkan saham-saham industri konstruksi. SWF merupakan salah satu lembaga pengelola untuk mengurangi defisit APBN dan pengeluaran modal BUMN untuk investasi di sektor infrastruktur yang lahir setelah adanya Undang-Undang Cipta Kerja.

Ada beberapa saham perusahaan konstruksi yang belakangan ini direkomendasikan oleh pengamat investasi. Salah satunya saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Mengacu data BEI pada penutupan perdagangan sesi I pada hari ini, Rabu (17/2/2021), saham ADHI ditutup minus 2,30 persen di level Rp 1.490 per saham dengan koreksi sebulan 14,12 persen.

Analis Samuel Sekuritas Selvi Ocktaviani memaparkan, INA dapat berkontribusi dalam pendanaan proyek strategis yang sedang dikerjakan Adhi Karya seperti MRT Fase II, LRT Jabodebek tahap II, hingga jalan tol strategis. Peningkatan perolehan kontrak baru ADHI sepanjang 2020 ditambah percepatan pembentukan LPI atau SWF itu diprediksi bakal berdampak besar bagi penguatan kinerja keuangan perseroan pada 2021, setelah tahun lalu kinerja BUMN konstruksi itu turun tajam.

Baca Juga  Indonesia dan Rusia Kerja Sama Pengembangan EBT

“Keberadaan lembaga SWF menjadi katalis positif pendanaan proyek strategis,” kata Selvi dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg.

Terlepas dari rekomendasi itu, saat ini PT Adhi Karya Tbk telah menyiapkan sejumlah rencana untuk bakal ekspansi bisnis tahun 2021. Di antaranya dengan melepas saham anak usaha ADHI ke pasar modal. Emiten dengan kode saham ADHI ini meyakini, bisnis infrastruktur di tahun 2021 akan mengalami pemulihan seiring dengan upaya pemerintah dalam melakukan percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Parwanto Noegroho menjelaskan, fokus ADHI tahun ini akan tetap menjadikan bisnis infrastruktur sebagai penopang bisnis dengan melihat anggaran infrastruktur yang cukup besar dan beroperasinya lembaga pengelola INA. Adanya SWF atau LPI menurut Noegroho menjadi angin segar bagi sektor infrastruktur, termasuk ADHI.

Baca Juga  Insentif Pajak untuk Lembaga Pengelola Investasi

Noegroho menjelaskan, dalam waktu dekat ADHI juga akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yakni untuk Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II Tahap I Tahun 2017 senilai Rp 2,99 triliun yang jatuh tempo pada 22 Juni 2022, PUB II Tahap II Tahun 2019 Seri A senilai Rp  556 miliar yang jatuh tempo pada 25 Juni 2022 dan  Seri B senilai Rp 473,5 miliar yang jatuh tempo pada 25 Juni 2024.

Selain itu, tahun ini ADHI akan melancarkan aksi korporasi yaitu mengantar anak usahanya PT Adhi Commuter Properti untuk initial public offering (IPO) setelah sempat tertunda di tahun lalu. Noegroho menargetkan pelepasan saham perdana anak usaha ADHI ini paling lambat akan dilaksanakan pada kuartal III-2021. Adhi Commuter Properti menargetkan perolehan dana IPO sekitar Rp 1,5 triliun. Perolehan dana IPO itu akan digunakan Adhi Commuter Properti untuk pembelian lahan di sekitar Jabodetabek. Selain itu, dana itu juga akan digunakan untuk pendanaan proyek berulang (recurring).  Adapun saat ini nilai aset yang dimiliki Adhi Commuter Properti per akhir 2020 sebesar Rp 4,7 triliun.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0