in ,

KSSK Jaga Stabilitas Keuangan Hadapi “Taper Tantrum”

“Di samping itu, pemerintah AS juga tengah menyusun tambahan stimulus senilai 2,2 triliun dollar AS. Ini pun akan berpengaruh besar terhadap akselerasi ekonomi AS. Ini risiko yang perlu kita lihat ke depan,” kata Perry dalam rapat kerja dengan komisi XI DPR RI, Rabu (2/6/2021).

Untuk itu, Sekretariat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yakni BI bersama pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan memastikan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga meski nantinya dihantam berbagai risiko. Untuk menghadapi risiko ketidakpastian pasar keuangan global itu, strategi yang dilakukan pemerintah antara lain dengan mematok asumsi suku bunga (yield) Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun 2022 di kisaran 6,32 persen sampai 7,27 persen. Selain itu, KSSK juga bersinergi untuk pendalaman dan pengembangan pasar keuangan. Pemerintah sepakat, bahwa pasar keuangan domestik yang dalam, aktif, dan likuid sangat diperlukan dalam meningkatkan stabilitas pasar. Hal ini akan meminimalkan dampak risiko volatilitas  aliran modal investor asing terhadap yield SUN.

Baca Juga  Bagaimana Prospek IHSG Pekan Ini?

Sebagai informasi, taper tantrum adalah sebutan dari efek pengumuman kebijakan moneter the Fed pada tahun 2013 silam. Saat itu rencana kebijakan mengurangi stimulus QE itu langsung memukul kurs sejumlah negara berkembang. Padahal, saat itu ekonomi Indonesia sedang di atas angin, tumbuh pada rata-rata di atas 6 persen dan rupiah berada di level 8.000 per dolar AS, serta neraca transaksi berjalan surplus dan terjadi lonjakan harga komoditas. Namun, mendadak pasar keuangan terguncang hebat saat The Fed memulai pengurangan pembelian obligasi.

Taper tantrum juga disebut demikian karena efek itu langsung muncul walaupun tindakan kebijakan moneter belum dilakukan. Sat itu The Fed mengumumkan akan mengurangi laju pembelian obligasi AS atau US Treasury untuk mengurangi jumlah uang yang diberikannya ke ekonomi. Taper tantrum juga terjadi akibat meningkatnya imbal hasil obligasi sebagai reaksi atas pengumuman itu.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0