in ,

Indonesia Bidik Investasi Rp 8.200 T dari Hilirisasi

Indonesia Bidik Investasi Rp 8.200 T dari Hilirisasi
Foto: Kemenves/BKPM

Indonesia Bidik Investasi Rp 8.200 T dari Hilirisasi

Pajak.com, Swiss – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, Pemerintah Indonesia membidik investasi senilai 545,3 miliar dollar AS (setara Rp 8.200 triliun dengan kurs Rp 15.200 per dollar AS) dari hilirisasi pada delapan sektor prioritas di tahun 2023, yakni dari sektor mineral, batu bara, minyak bumi, gas bumi, perkebunan, kelautan, perikanan, dan kehutanan.

“Total investasinya yang kalau kita bisa capai ke depan itu sebesar 545,3 miliar dollar AS. Ini angka yang tidak sedikit, ini angka fantastis, tapi ini adalah salah satu syarat untuk negara kita bisa lepas dari negara berkembang menjadi negara maju. Belajar dari negara-negara yang (dulu) termasuk negara berkembang, sekarang menjadi negara maju, contohnya Inggris. Pada abad ke-16, dia (Inggris) itu melarang ekspor bahan baku untuk tekstil agar industri ini dikuasai, menjadi pemain dunia terbesar. Itulah yang membuat pendapatannya bagus. Amerika Serikat pada abad 19-20, mempergunakan pajak progresif 40 persen terhadap impor, karena ingin industri dia betul-betul berdaulat dalam negerinya,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers bertajuk Hilirisasi Kunci Investasi dan Tantangan Investasi 2023, di sela-sela acara World Economic Forum (WEF) 2023, di Davos, Swiss, (17/1).

Baca Juga  Keminves Dukung Kerja Sama PT KAI dan Pertamina RPP

Untuk itu, ia ingin Indonesia melakukan hilirisasi pada delapan sektor priortitas di tahun 2023. Potensi investasi hilirisasi di sektor mineral dan batu bara sebesar 427,1 miliar dollar AS; minyak dan gas bumi sebesar 67,6 miliar dollar AS; serta perkebunan, perikanan, kelautan, dan kehutanan sebesar 50,6 miliar dollar AS.

“Hal ini perlu kami sampaikan bahwa selama ini hilirisasi kita cuma berbicara tentang nikel. Saya pikir kita tidak lagi hanya fokus pada satu komoditas. Memang, hilirisasi nikel mencatatkan peningkatan kinerja ekspor yang bagus, karena sepanjang 2017-2018, ekspor nikel hanya sekitar 3,3 miliar dollar AS. Tapi setelah (hilirisasi) itu naik dia jadi 20,9 miliar dollar AS (tahun 2021). Itu baru satu komoditas, maka kemudian itu berdampak pada peningkatan pajak, pada peningkatan competitiveness kita dan neraca perdagangan,” ungkap Bahlil.

Baca Juga  Menparekraf-Menves Sepakat Perkuat Investasi Parekraf

Dengan demikian, ia menegaskan, investasi di bidang hilirisasi merupakan jalan bagi negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Indonesia harus bisa keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah. Secara simultan, potensi investasi dari hilirisasi di sektor strategis itu akan menciptakan lapangan kerja yang masif dan meningkatkan upah yang berkualitas.

“Kami tidak ingin berakhir di nikel, karena apa? Sumber daya alam kita banyak. Maka kita sebenarnya sudah breakdown dengan peluang-peluang peta investasi yang ada, kita breakdown ke dalam 21 komoditas, biar apa? Kita tidak jadi negara berpenghasilan menengah terus. Pendapatan per kapita kita sekarang cuma 4.500 dollar AS. Untuk jadi negara maju minimal harus 10 ribu dollar AS. Kita tidak bisa lagi dengan cara tenaga kerja upahnya cuma Rp 5 juta-Rp 6 juta. Di sisi lain, skill kita, anak muda kita, harus ditingkatkan,” kata Bahlil.

Baca Juga  BKPM Resmikan Perluasan Pabrik PT Indorama Synthetics

Secara lengkap, 21 komoditas yang ditetapkan Pemerintah Indonesia untuk dilakukan hilirisasi, yaitu:

  1. Batu bara
  2. Nikel
  3. Timah
  4. Tembaga
  5. Bauksit
  6. Besi Baja
  7. Emas Perak
  8. Aspal
  9. Minyak Bumi
  10. Gas
  11. Sawit
  12. Kelapa
  13. Karet
  14. Biofuel
  15. Kayu Log
  16. Getah Pinus
  17. Udang
  18. Perikanan
  19. Kepiting
  20. Rumput Laut
  21. Garam

Dengan melakukan hilirisasi, Bahlil optimistis target investasi tahun 2023 sebesar Rp 1.400 triliun dapat tercapai. Adapun realisasi investasi di tahun 2022 melampaui target, yaitu sebesar Rp 1.207 triliun. Sepanjang tahun lalu, investasi juga telah menciptakan sebanyak 1,3 juta lapangan kerja.

“Ingat, di 2023 tahun yang berat, tidak sebaik tahun 2022. Perang Ukraina dan Rusia yang kita tahu bersama melahirkan krisis energi dan pangan, belum berakhir. Kami di sini melihat, bahkan semakin gencar, serangan yang dilakukan terjadi lagi. Ketegangan politik di laut Cina dan Taiwan juga masih berlangsung, ” kata Bahlil.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *