in ,

7 Kesalahan Berinvestasi Bagi Pemula

Kesalahan Berinvestasi Bagi Pemula
FOTO: IST

7 Kesalahan Berinvestasi Bagi Pemula

Pajak.comJakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, realisasi jumlah investor di pasar modal mencapai 10,3 juta atau tumbuh 37,53 persen dibandingkan tahun 2022. Pertumbuhan ini merupakan kabar baik bagi Indonesia karena semakin banyak masyarakat yang telah melek saham.

Apalagi, dari jumlah penanam modal tersebut didominasi oleh masyarakat yang berusia di bawah 30 tahun alias generasi milenial. Artinya, prospek pasar saham Indonesia ke depan masih sangat menjanjikan karena diisi para investor usia produktif.

Nah, apabila Anda di tahun ini juga tengah memikirkan untuk terjun ke dunia saham, pastikan terlebih dahulu memahami produk investasi dan menghindarkan dari kesalahan berinvestasi bagi investor pemula. Agar tak terjerembap, tak ada salahnya Anda memahami 7 kesalahan berinvestasi yang biasanya dilakukan oleh pemula.

1. Tujuan investasi tidak jelas

Investor pemula mungkin tidak memiliki rencana dan tujuan yang jelas saat memulai investasi. Bahkan jika memiliki rencana, mereka mungkin lebih cenderung menyimpang dari rencana yang telah ditentukan daripada investor berpengalaman.

Sebagian yang lain hanya ikut-ikutan tanpa memahami instrumen yang digunakan untuk berinvestasi. Jadi, pastikan Anda telah menentukan apa yang ingin dicapai dari berinvestasi dan masuklah ke perdagangan dengan rencana yang jelas.

Selain itu, ketahui persis titik masuk dan keluar, jumlah modal yang diinvestasikan dalam instrumen investasi, dan kerugian maksimum yang bersedia diambil. Misalnya, mengumpulkan Rp 100 juta untuk dana pendidikan perguruan tinggi anak atau Rp 500 juta untuk pensiun pada usia 60 adalah contoh sasaran yang tepat.

2. Mudah tergiur keuntungan 

Dalam dunia investasi, prinsip yang patut diingat yaitu risiko selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan hasil investasi. Artinya, semakin besar uang yang Anda tanamkan maka semakin besar juga risiko yang dihadapi.

Baca Juga  Pahami Definisi, Jenis, dan Cara Ketahui Notasi Khusus Saham

Masalahnya, banyak investor pemula yang tergiur dengan tingkat keuntungan yang tidak wajar, ditambah lagi apabila risiko yang ditawarkan minim. Dalam berinvestasi, Anda perlu mengedepankan logika dan realistis dalam menginvestasikan modal.

Risiko dan perkembangan dapat diibaratkan seperti logam mata uang yang saling melengkapi dan tidak terpisahkan. Jadi, jangan sampai Anda cepat tergiur dengan janji keuntungan yang tidak wajar.

Apabila sebuah jenis investasi menawarkan keuntungan yang menarik, pertimbangkan juga risiko yang ada di baliknya. Pastikan juga institusi yang menawarkan investasi telah memiliki izin salah satu lembaga yang berwenang seperti Bank Indonesia (BI), OJK, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), serta Kementerian Koperasi dan UKM.

3. Kurang analisa

Untuk investor jangka panjang, salah satu hal yang paling penting tetapi sering diabaikan adalah analisis kualitatif atau melihat gambaran besarnya. Investasi dapat dilakukan menggunakan berbagai instrumen yang tersedia, tetapi tidak seluruh instrumen cocok bagi semua orang.

Sebelum memutuskan berinvestasi, Anda dituntut untuk melakukan analisa sebelum menempatkan dana dalam jumlah yang cukup besar pada suatu instrumen. Sebab, banyak investor yang akhirnya merugi karena tidak mempertimbangkan hal-hal inti dan menjadikannya sebagai sebuah riset. Alokasikan waktu Anda untuk meriset dan menganalisa dengan matang kemungkinan keuntungan yang diperoleh dalam suatu periode, beserta risiko yang mungkin terjadi.

Riset akan membantu Anda untuk memahami instrumen atau produk investasi yang diminati serta segala risiko yang berkaitan dengannya. Tidak melakukan riset sebelum berinvestasi, sama saja seperti tidak mempersiapkan senjata saat pergi ke medan tempur.

Sebagai contoh, jika Anda berniat berinvestasi di pasar saham, lakukan riset mendalam terhadap data perusahaan yang ditargetkan, bagaimana perencanaan bisnisnya, hingga tingkat pasarnya. Atau, jika berinvestasi di peer-to-peer lending, lakukan riset terhadap pinjaman lewat lembar fakta berisikan informasi dan data yang menyampaikan profil usaha penerima dana berupa perusahaan, produk, jasa yang disajikan dalam bentuk dokumen yang bisa diunduh.

Baca Juga  Gaji Pegawai Dipotong 3 Persen untuk Tapera! Simak Aturan dan Manfaatnya

4. Fokus ke Jangka Pendek

Periode berinvestasi yang dipilih bisa beragam dari jangka pendek, menengah hingga panjang. Umumnya, berinvestasi dalam jangka panjang akan lebih menguntungkan, tetapi tentu diperlukan kesabaran lebih karena waktu yang dibutuhkan relatif lama.

Penantian Anda akan terbayarkan ketika kelak mendapatkan keuntungan tak terduga. Realitanya, banyak investor pemula yang hanya fokus untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek, padahal cakrawala waktu (time horizon) suatu instrumen bergantung pada jenis investasi dan berapa lama investasi tersebut berjalan.

Tentukan berapa lama—cakrawala waktu—Anda harus menabung untuk masa pensiun, uang muka rumah, atau pendidikan perguruan tinggi untuk anak Anda. Jika Anda berencana mengumpulkan uang untuk membeli rumah, kerangka waktu yang dipililih bisa jangka menengah.

Namun, jika Anda berinvestasi untuk membiayai pendidikan perguruan tinggi anak, maka pilihlah investasi jangka panjang. Intinya, setelah memahami cakrawala waktunya, Anda dapat menemukan investasi yang cocok dengan profil dan tujuan tersebut.

5. Tidak mendiversifikasi investasi

Terpenting, pastikan untuk tidak menempatkan seluruh uang yang dimiliki pada satu instrumen investasi. Pasalnya, ketika instrumen tersebut mengalami kebangkrutan, maka risiko yang ditanggung akan semakin besar.

Oleh karena itu, kesalahan investasi ini seharusnya bisa dihindari. Solusinya, Anda perlu melakukan diversifikasi di berbagai aset yang dimiliki dan membagi risiko ke berbagai instrumen.

Diversifikasi sangat penting untuk dilakukan apapun instrumen investasi yang dituju. Selain membagi tingkat risiko yang harus ditanggung oleh dana investasi, diversifikasi juga memperluas peluang untuk mendapatkan keuntungan.

6. Terlalu percaya diri

Baca Juga  Resmi Jadi Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono Fokus Selesaikan 2 Masalah Ini 

Berinvestasi terutama di pasar saham adalah pekerjaan yang sangat menuntut, tetapi keberuntungan pemula (beginner’s luck) yang dialami oleh beberapa investor pemula bisa saja membuat mereka percaya bahwa bermain saham adalah jalan menuju kekayaan yang cepat. Nah, over confident  atau terlalu percaya diri dapat berbahaya karena menimbulkan rasa puas diri dan mendorong pengambilan risiko yang berlebihan, hingga berujung pada bencana perdagangan.

7. Terlalu cepat mengambil keputusan

Hal ini merupakan kesalahan umum yang sering dilakukan oleh investor pemula dan masih bertalian dengan poin sebelumnya, terlalu percaya diri. Kepercayaan diri yang berlebihan menimbulkan semangat yang terlalu tinggi tanpa melakukan pertimbangan yang matang, menjadikan Anda salah dalam memutuskan dan menggagalkan kesempatan untuk mendapatkan imbal hasil yang tinggi.

Untuk menghindari masalah-masalah yang menyebabkan kegagalan berinvestasi tersebut, tak ada salahnya Anda bertanya kepada investor yang lebih berpengalaman. Tidak lupa juga untuk menerapkan prinsip-prinsip investasi yang baik.

Pertama, persiapkan kondisi keuangan yang sehat dan pengelolaan keuangan yang baik. Kedua, pahami risiko, nikmati manfaat. Ketiga, memilih produk pasar modal sesuai dengan kebutuhan jangka waktu investasi. Ingat, tidak ada satu pun instrumen investasi yang cocok untuk semua orang. Setiap investor perlu mengenali profil risiko masing-masing sebelum melakukan investasi, sehingga dapat memilih instrumen investasi yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *