in ,

Kemenperin Tingkatkan Kinerja Manufaktur

Kemenperin Tingkatkan Kinerja Industri Manufaktur
FOTO: Dok.Kemenperin.go.id 

Kemenperin Tingkatkan Kinerja Manufaktur

Pajak.com, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) fokus untuk terus tingkatkan kinerja sektor industri manufaktur karena menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Melihat hal tersebut, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa salah satu kebijakan strategis yang tetap dijalankan adalah hilirisasi industri.

“Sesuai arahan Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi), kita perlu memperkuat hilirisasi sektor industri manufaktur. Kami optimistis, hal ini dapat kita lakukan, karena selama ini telah terbukti sebagai prime mover bagi perekonomian nasional,” ungkapnya dalam keterangan resmi, dikutip Pajak.com pada Sabtu (24/12).

Ia menambahkan, multiplier effect atau dampak berganda dari aktivitas hilirisasi industri yang telah terbukti nyata, antara lain adalah meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, menarik investasi masuk ke tanah air, menghasilkan devisa besar dari ekspor, dan menambah jumlah serapan tenaga kerja.

“Guna mencapai sasaran tersebut, pemerintah bertekad menciptakan iklim usaha yang kondusif agar bisnis bisa berjalan baik. Selain itu, perlunya sinergi dan koordinasi antara pemerintah dengan dunia usaha. Kami akan selalu mendengar aspirasi dari para pelaku usaha,” tambahnya.

Agus melanjutkan, pihaknya sedang fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri di tiga sektor, yakni industri berbasis agro, berbasis bahan tambang dan mineral, serta berbasis migas dan batu bara.

Baca Juga  Luno dan MPC Joint Venture Perkuat Ekosistem Kripto

“Seperti yang ditegaskan oleh Bapak Presiden, kita secara bertahap akan menyetop bahan baku mentah, seperti minerba. Kita sudah stop ekspor nikel, dan selanjutnya setop ekspor bauksit,” imbuhnya.

Terkait pengembangan industri berbasis tambang dan mineral, Kemenperin tengah berupaya memacu nilai tambah pada lima komoditas ini, yaitu bijih tembaga, bijih besi dan pasir besi, bijih nikel, bauksit, serta logam tanah jarang.

“Perkembangan dari hilirisasi di sektor ini telah menghasilkan sebanyak 27 smelter yang telah beroperasi, meliputi pyrometallurgy dan hydrometallurgy nickel, kemudian 32 yang dalam tahap konstruksi, dan enam masih tahap feasibility study,” ujarnya.

Kedepannya, Menperin berharap, smelter nikel tidak hanya melakukan ekspor dalam bentuk NPI maupun bahan baku baterai, tetapi dalam bentuk produk lebih hilir seperti produk hilir berbahan baku stainless steel dan baterai listrik.

“Kemampuan hilirisasi sektor ini juga akan menghasilkan produk-produk di hilir atau produk jadi seperti peralatan kesehatan, dapur, kedirgantaraan dan kendaraan listrik. Peningkatan nilai tambah dari bijih nikel bisa mencapai 340-400 kali lipat,” terangnya.

Baca Juga  Pemerintah dan Pelaku Wisata Optimistis Pariwisata Pulih

Selain itu, dampak positif dari hilirisasi sektor tambang dan mineral ini telah menunjukkan peningkatan signifikan pada capaian nilai ekspor nasional. Hingga Oktober 2022, nilai ekspor dari industri ini menembus 36,4 miliar dollar AS, naik 40 persen dibanding tahun lalu.

“Kami menargetkan, pertumbuhan di sektor ini pada tahun 2022 mencapai dua digit, di angka 10-11 persen,” terangnya.

Sementara itu, untuk hilisasi industri berbasis agro, Kemenperin sedang melakukan peningkatan nilai tambah pada komoditas kelapa sawit menjadi oleofood complex (pangan dan nutrisi), oleochemical and biomaterial complex (bahan kimia dan pembersih), dan bahan bakar nabati berbasis sawit (seperti biodiesel, greendiesel, greenfuel, dan biomass). Bahkan, Hingga September 2022, ekspor produk industri berbasis kelapa sawit telah mencapai 29 miliar dollar AS.

“Hilirisasi minyak sawit yang diolah menjadi berbagai produk turunan dapat menghasilkan nilai tambah sampai dengan empat kali lipat,” jelasnya.

Kemenperin juga mendorong hilirisasi di industri petrokimia. Upaya ini dinilai strategis karena dapat menghasilkan bahan baku primer untuk menopang banyak industri manufaktur hilir penting seperti tekstil, otomotif, mesin, elektronika, dan konstruksi. Hingga Oktober 2022, kinerja ekspor dari industri kimia juga menunjukkan capaian yang gemilang, yakni sebesar 18,5 miliar dollar AS atau naik 20 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Baca Juga  CORE: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2,5-3,5 Persen

“Kami perkirakan pada tahun 2022 ini akan mencapai 21-23 miliar dollar AS, dan pada tahun 2023 ditargetkan bisa di angka 25 miliar dollar AS,” sebutnya.

Tidak hanya itu saja, Kemenperin terus membangun ekosistem circular ekonomi melalui implementasi industri hijau karena hilirilisasi energi hijau juga menjadi kunci untuk menopang perekonomian nasional ke depannya

“Industri hijau adalah upaya kita bersama dalam membangun industri nasional yang tangguh namun selaras dan harmonis antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan serta kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

Ia pun menyampaikan bahwa terdapat beberapa tantangan saat ini yang perlu mendapat perhatian agar kebijakan hilirisasi industri bisa berjalan baik, antara lain adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, perluasan kerja sama internasional untuk mengisi pasar ekspor baru seperti Eropa dan Afrika, pemberian fasilitas insentif, serta memperkuat kemampuan negosiasi dan posisi dalam upaya menghadapi tekanan dari perdagangan dan diplomasi internasional.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *