in ,

INI dan Pinggao Bangun Smelter di Luwu Timur

Smelter di Luwu Timur
FOTO : IST

INI dan Pinggao Bangun Smelter di Luwu Timur

Pajak.com, Jakarta – Pemerintah terus mendorong progam hilirisasi industri pertambangan dalam upaya mewujudkan kemandirian di bidang industri. Untuk merealisasikan imbauan pemerintah itu, PT Indo Nickel Industri bekerja sama dengan Pinggao Group Company Limited, menandatangani pembangunan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Nickel Smelter Project Indonesia–Engineering Procurement and Construction Contract. Hal ini untuk pembangunan proyek smelter nikel di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.

Direktur Utama PT Indo Nickel Industri (INI) Helmut Hermawan mengatakan, penandatanganan kerja sama itu mengawali rangkaian pembangunan proyek kerja sama pembangunan RKEF smelter nikel senilai lebih dari 50 juta dollar AS, untuk merealisasikan program hilirisasi dengan kapasitas 1 x 36 ribu kilo volt ampere (KVA) atau setara 36 mega volt ampere (MVA).

Helmut menyampaikan. setelah penandatanganan akan segera dilakukan proses peletakan batu pertama (ground breaking) proyek, yang akan dilakukan di bulan Desember ini, atau selambat-lambatnya pada Januari 2023. Diharapkan proses konstruksi pembangunan smelter akan berlangsung selama 18 bulan setelahnya.

Baca Juga  PNBP Skema Pascaproduksi untuk Kesejahteraan Nelayan

“Dalam upaya mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah, kami tidak hanya membuka tambang nikel di Malili, Luwu Timur saja, tetapi saat ini kami membangun smelter menggandeng kerja sama dengan pihak investor Pinggao Co. Ltd. yang telah berpengalaman di bidang industri elektrik sejak tahun 1970,” kata Helmut.

Dengan menggandeng Pinggao Group selaku perusahaan kontraktor Engineering Procurement and Construction (EPC), ke depan bijih nikel (nickel ore) yang selama ini ditambang di Malili akan langsung diolah menjadi feronikel dengan kadar nikel (Ni) 10-12 persen dengan kapasitas 64 ribu ton feronikel setiap tahunnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pinggao Group Cao Mingxiang menyampaikan terima kasih dan penghargaannya kepada PT Indo Nickel Industri, pemerintah setempat dan pusat yang sudah mendukung pembangunan smelter.

Sebagai informasi, Pinggao Group merupakan anak perusahaan China Electric Equipment Group yang didirikan tahun 1970. Salah satu anak perusahaannya yang telah terdaftar di bursa dan menjadi perusahaan terbuka (listed company) adalah Pinggao Electric. Selain menjadi perusahaan perlengkapan elektrik terkemuka di Tiongkok, di dunia perusahaan tersebut memimpin dalam penguasaan riset dan pengembangan (litbang/R&D), serta pemimpin industri dalam penyediaan sistem solusi integrasi energi.

Baca Juga  Lima Tip Meningkatkan Kompetensi SDM di Perusahaan

Pinggao Group International Engineering Co. Ltd, sebagai bagian utama Pinggao Group, telah membawa bisnisnya ke luar negeri selama beberapa tahun terakhir. Sejak 2013, perusahaan telah mengimplementasikan inisiatif “One Belt, One Road,” dan telah menuntaskan total pekerjaan EPC dan kontrak ekspor senilai lebih dari 2.770 juta dollar AS.

Mesin-mesin Pinggao dan perlengkapannya diekspor ke lebih dari 60 negara, termasuk Italia, Spanyol, Brasil, Bangladesh, Vietnam, dan Thailand. Proyek EPC terutama didistribusikan di Polandia, Nepal, Laos, Pakistan, Kamboja, dan Ethiopia. Tahun 2017 Pinggao menduduki peringkat ke-220, dan termasuk dalam kategori 250 kontraktor terbesar di dunia.

Mingxiang menjelaskan, di Indonesia, Pinggao menjadi mitra selama 20 tahun terakhir, terutama untuk suplai peralatan pembangkit listrik di Indonesia.

Baca Juga  BI: “Holding” Ultra Mikro, Kredit UMKM Bertambah

“Selama beberapa tahun terakhir, kami telah memenuhi banyak kebutuhan peralatan pembangkit listrik industri nikel di Indonesia. Keandalan produk-produk kami berjalan secara stabil,” jelas Mingxiang.

Dalam kerja sama kontrak itu, Pinggao menjadi investor terbesar pembangunan RKEF smelter sekaligus akan melakukan proses alih teknologi dalam bentuk riset dan pengembangan (research and development). Sedangkan jumlah tenaga kerja lokal yang akan diserap dalam proyek smelter ini antara 300 sampai 400 orang secara langsung yang berasal dari daerah Malili dan sekitarnya, di luar tenaga kerja tidak langsung yang akan mampu membangkitkan ekonomi sekitar di wilayah tersebut.

Bupati Luwu Timur Budiman Hakim yang menyaksikan MoU tersebut berharap sumber daya alam dan mineral di Luwu Timur seperti nikel dapat dikelola secara baik, ekonomis, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pembangunan smelter akan bisa berdampak baik secara ekonomi maupun lingkungan, dan membawa kemaslahatan masyarakat di Kabupaten Luwu Timur.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *