in ,

IMF: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Turun

IMF: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Turun
FOTO: IST

Pajak.com, Jakarta – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022 menjadi 5,6 persen atau lebih rendah dari prediksi sebelumnya yang mencapai 5,9 persen.

“IMF memandang, masih ada beberapa risiko yang bisa menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi domestik pada tahun ini. Ada kemunculan varian COVID-19 yang lebih agresif mampu menekan sistem kesehatan dan bahkan berpotensi memunculkan restriksi mobilitas. Selain dari sisi kesehatan, risiko perekonomian Indonesia tahun ini juga muncul dari dampak kondisi keuangan global yang lebih ketat. Dengan risiko itu maka tindakan pemerintah dalam memberikan kebijakan yang berkaitan dengan penanganan COVID-19 masih sangat perlu diperlukan,” kata Assistant Director Western Hemisphere Department IMF Cheng Hoon Lim dalam Laporan World Economic Outlook (WEO) yang diterima Pajak.com(27/1).

Baca Juga  Kebijakan KSSK untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi

Kendati demikian, IMF masih melihat adanya faktor yang bisa memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022, yaitu peningkatan harga komoditas global yang diperkirakan akan berlangsung lebih lama. Seperti diketahui, pada tahun lalu Indonesia mendapat berkah dari peningkatan harga komoditas global terutama lewat ekspor yang bermuara pada tercapainya target penerimaan perpajakan.

“IMF memandang positif reformasi struktural yang dilakukan oleh Indonesia. Ini dipandang mampu mengobati luka yang telah ditorehkan pandemi. Pemulihan yang sedang berlangsung secara bertahap ini akan memulihkan prinsip utama kerangka kebijakan makro prapandemi dan memperkuat rekam jejak kebijakan Indonesia,” tambah Lim.

IMF optimistis akan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi domestik di tahun 2023 mampu mencapai 6 persen.

Baca Juga  Mengenal Istilah Pajak dan Perpajakan

“IMF memberikan beberapa rekomendasi penguatan kerangka kebijakan yang komprehensif untuk negara-negara, yaitu memperkuat kebijakan di sektor kesehatan, termasuk pemerataan vaksin, perubahan kebijakan moneter yang harus didukung dengan komunikasi yang efektif, memperkuat posisi dan kesinambungan fiskal, memperkuat kerja sama internasional, dan melanjutkan reformasi struktural dan kebijakan perubahan iklim,” kata Lim.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings