in ,

Mengenal “Luxury Tax” ala Liga Basket NBA

Mengenal “Luxury Tax”
FOTO: IST

Mengenal “Luxury Tax” ala Liga Basket NBA

Pajak.com, New York – Amerika Serikat (AS) terbilang unik untuk urusan pengelolaan pendapatan di sektor olahraga—terutama bola basket. Salah satu yang kerap diperbincangkan media AS adalah luxury tax, sebagai skema yang diaplikasikan oleh liga basket utama di AS yakni The National Basketball Association (NBA). Mari mengenal luxury tax dan penjelasannya berikut ini.

Apa itu Luxury Tax?

luxury tax sejatinya adalah denda yang harus dibayar oleh tim yang melewati ambang batas payroll (salary cap) yang sudah ditentukanSesuai kesepakatan, nominal luxury tax biasanya 20–22 persen lebih besar dari salary cap.

Berbeda dengan liga-liga sepak bola di Eropa yang didominasi tim-tim dengan pemasukan besar, sistem olahraga profesional di Amerika Serikat menetapkan salary cap. Ini adalah ambang batas jumlah total uang yang boleh dibayarkan oleh tim kepada pemain mereka, yang bertujuan untuk mengangkat kesetaraan ekonomi seluruh tim agar persaingan jadi lebih kompetitif.

Berdasarkan ketentuan National Basketball Players Association (NBPA), salary cap terbagi dalam dua kategori yakni hard cap dan soft cap. Jika sebuah liga menetapkan skema soft cap seperti yang dilakukan NBA, maka gaji yang didapatkan oleh satu tim boleh melebihi batas atas, karena adanya beberapa pengecualian siginifikan yang dianggap penting oleh tim.

Baca Juga  Kemendagri: Pemda Selesaikan Perda Pajak dan Retribusi

Hal ini dilakukan untuk memungkinkan tim mempertahankan pemain mereka sendiri, yang secara teori bisa mendorong dukungan penggemar di setiap kota. Namun, skema soft cap membawa konsekuensi tertentu, salah satunya harus membayar pungutan yang disebut pajak barang mewah atau luxury tax.

Pada musim ini atau periode 2022–2023, salary cap untuk masing-masing tim NBA memiliki ambang batas sebesar 123,655 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,92 triliun; dan ambang pajak mewah (luxury tax) mencapai 150,267 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,33 triliun. NBA menggunakan luxury tax yang menetapkan ambang batas terpisah di atas batas gaji, dan menerapkan sistem pembayaran bertahap untuk setiap dollar AS di atasnya—saat ini berada di antara 1,50 dollar AS dan 4,75 per dollar AS di atas ambang batas.

Dari semua uang yang terkumpul, setengahnya akan dimanfaatkan untuk mendanai pembagian pendapatan dan setengah lainnya akan didistribusikan ke semua tim NBA yang berada di bawah ambang batas pajak dalam pembagian yang sama. Dalam sistem seperti itu, pihak yang lebih kecil akan mendapat untung dari pengeluaran berlebihan dari tim yang lebih besar.

Baca Juga  Menkeu Optimis Penerimaan Perpajakan Lampaui Target

Dalam sistem yang berlaku saat ini, tim dapat merekrut pemain mereka sendiri dan menambahkan gaji di masa-masa pertukaran pemain (free agency) untuk melebihi batas gaji—dengan beberapa pengecualian. Namun, perubahan sistem yang diusulkan NBA ke depan akan mengakhiri pembayaran pajak barang mewah.

Sebanyak 20 dari 30 tim NBA saat ini berada di bawah ambang batas pajak barang mewah—dengan 10 tim lainnya diproyeksikan membayar denda pajak barang mewah dengan rekor liga sebesar 697 juta dollar AS pada musim 2022–2023. Di antara mereka, 61 persen dibagi di antara Warriors (176,5 juta dollar AS), Clippers (145 juta dollar AS) dan Nets (108,9 juta dollar AS).

Ketiga tim tersebut juga menyumbang 73 persen denda pajak barang mewah pada 2021–2022. Untuk itu, usulan yang masih secara intensif dibahas dengan NBPA ini diharapkan dapat menemukan mekanisme untuk mendorong pemain top berpartisipasi dalam lebih banyak pertandingan musim reguler.

Di sisi lain, hard cap berlaku sebaliknyaLiga yang memilih skema hard cap berarti gaji tim tidak boleh melebihi batas dalam kondisi apa pun. Mayoritas liga di AS seperti NFL, NHL, dan MLS menggunakan skema hard cap, yang berarti tidak ada tim yang dapat melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh liga.

Pembayar terbesar “luxury tax”
Baca Juga  Demi Pajak, Jepang Dorong Anak Muda Konsumsi Alkohol

Saat ini, ada tujuh tim yang berada di zona merah dalam pembukuan pajak barang mewah NBA. Golden State Warriors berada di puncak klasemen dengan pajak barang mewah sebesar 170,331 juta dollar AS yang harus dibayar setelah melewati batas lebih dari 39 juta dollar AS.

Sementara Brooklyn Nets mengikuti di belakang mereka dengan pajak 97,686 juta dollar AS atas pengeluaran 32 juta dollar AS. Los Angeles Clippers telah menghabiskan 29,4 juta dollar AS lebih dari uang saku mereka dan akan membayar 82,462 juta dollar AS untuk hak istimewa, dan Milwaukee Bucks akan berutang 58,359 juta dollar AS dengan kelebihan 23,5 juta dollar AS.

Selanjutnya ada Los Angeles Lakers, Utah Jazz, dan Philadelphia 76ers melengkapi klub-klub yang melanggar dengan pengeluaran lebih dari masing-masing 19,6 juta dollar AS, 11 juta dollar AS, dan 9,5 juta dollar AS. Pajak barang mewah mereka akan menjadi 43,726 juta dollar AS untuk Lakers, 18,831 juta dollar AS untuk Jazz, dan 15,418 juta dollar AS untuk 76ers.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings