in ,

“Family Office”, Menavigasi Keberlanjutan Bisnis Keluarga

“Family Office”
FOTO: Tiga Dimensi

“Family Office”, Menavigasi Keberlanjutan Bisnis Keluarga

Pajak.com, Jakarta – TheTitan.Asia mencatat, sekitar 95 persen bisnis di Indonesia merupakan milik pribadi atau keluarga, namun hanya sekitar 13 persen dari bisnis keluarga yang bertahan sampai generasi ketiga. Family Office Advisor TheTitan.Asia Dede Sulaiman Al-Mufidiansyah berpandangan, fenomena itu terjadi karena banyak family business di Indonesia masih mengelola bisnis secara tradisional atau belum memisahkan pengurusan keluarga dan bisnis. Family office dipercaya akan mampu menavigasi sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis dan keluarga dalam jangka panjang dengan tata kelola yang akuntabel, efisien, dan presisi.

Dalam skala global, 70 persen keluarga kaya di seluruh dunia kehilangan kekayaan pada generasi kedua dan 90 persen kehilangannya pada generasi ketiga (Kleindhandler D, 2018). Riset inilah yang membuat konsep family office lahir dan berkembang di Eropa dan Amerika Serikat. Terlebih, di negara maju banyak high wealth individual dan high wealth families yang memiliki banyak aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari bagaimana berinovasi mengembangkan bisnis termasuk menghadapi urusan perpajakan, hingga soal pengurusan warisan dan perencanaan suksesi bisnis.

“Seperti pajak perusahaan sendiripun mereka sudah kewalahan, kalau mereka sendiri yang urus. Belum masalah internal keluarga, belum berpikir bagaimana bisnis saya ini kalau mau diteruskan ke keturunan nanti, mereka sudah dapat dipastikan pasti pusing sekali. Di sinilah peran family office ada. Jadi, kami akan masuk untuk membantu dari berbagai macam permasalahan. Tidak hanya dari bisnisnya saja, tapi bagaimana keluarga ini tetap kita persatukan. Memang pada intinya family office memudahkan anggota-anggota keluarga menjalankan kehidupan,” ujar Dede kepada Pajak.comdi Kantor TheTitan.Asia, Mega Kuningan, (12/5).

Baca Juga  Catat! Ini Tarif Baru PBB 2024 di Jakarta

Lebih lanjut ia menjelaskan, nantinya akan dibentuk entitas bisnis khusus dan tersendiri pada family office. Dede memberi contoh, misalnya, keluarga Tuan Tono memiliki family office bernama Tono Family Office. Artinya, Tono Family Office telah menjadi entitas yang terpisah dan tersendiri dari keluarga Tono.

“Jadi, memang sengaja dipisahkan supaya cenderung netral dan tidak bias, tapi tidak menutup kemungkinan family office itu isinya anggota keluarganya. Namun, secara garis besar, family office ini entitasnya dipisahkan dan orang-orangnya hanya bekerja untuk kepentingan terbaik di keluarganya itu,” kata Dede.

Dengan demikian, secara harfiah, family office merupakan entitas tersendiri yang memang mengurusi segala hal dalam keluarga. Di dalamnya, memungkinkan adanya konsultan hukum, konsultan pajak, akuntan, dan lainnya.

“Jadi, memang mereka dikumpulkan di suatu entitas untuk memang dikhususkan bekerja untuk keluarga itu,” tambah Dede.

Kendati begitu, langkah pertama yang dilakukan TheTitan.Asia dalam membantu mendirikan family office adalah menganalisis keadaan/situasi keluarga saat itu, hubungan antar-anggota keluarga, dan bagaimana pembagian peran serta hak & kewajiban antar anggota keluarga yang sudah ada.

“Kita mencoba yang terbaik untuk membuat suatu sistem yang ibaratnya bullet proof untuk mereka. Bagaimana kita mengakomodir setiap anggota keluarga sekiranya bisa cocok atau tidak. Karena jika kita berkoordinasi ke keluarga bisnis generasi pertama masih keluarga kecil, mungkin hanya ada orang tua dan anak. Beda dengan bisnis keluarga yang sudah berpuluh-puluh tahun, mungkin yang pegang sudah generasi ketiga, yaitu cucu-cucunya yang mungkin juga sudah memiliki keluarga nya masing-masing. Nah, disitu terlihat kompleksitas tiap keluarga berbeda-beda salah satu nya tergantung di fase mana bisnis keluarga itu sedang berada,” sambung Dede.

Baca Juga  Berpotensi Inflasi Umum, Prabowo – Gibran Tetap Naikkan Tarif PPN 12 Persen? 

Ia memastikan, TheTitan.Asia akan memberikan holistic services sesuai kebutuhan masing-masing keluarga. Tidak hanya memberi sesuatu yang template, namun bagaimana menyediakan services yang bisa di customize sesuai dengan kebutuhan.

Hal senada juga ditekankan oleh Family Office Advisor TheTitan.Asia Nadia Ambar Shofiya. Ia menjelaskan, TheTitan.Asia akan membantu memberi masukan mengenai struktur organisasi family office yang tengah dibangun. Menganalisis secara komprehensif dan seksama setiap anggota keluarga berdasarkan latarbelakang pengalaman, pendidikan, hingga karakteristik individu serta perannya dalam keluarga.

“Nanti kita examine dari keluarganya, apa bisnis yang mereka running, apa saja asetnya, dan siapa yang cocok mengetuai badan-badan di dalam keluarga ini. Jadi, di family office itu ada yang namanya director’s board—orang-orang yang memiliki posisi di perusahaan. Lalu, ada family council, bedanya dengan director’s board, di badan ini diisi anggota keluarga yang terbiasa menerima konsultasi dari semua anggota keluarga. Jadi posisi mereka lumayan netral di keluarga. Ada juga owner’s board yang dikhususkan untuk anggota keluarga yang memegang kepemilikan. Dan family office juga termasuk ke dalam salah satu badan ini. Peran  family office disini selayaknya office pada umumnya. Berbagai pekerjaan manajemen dan administrasi dilaksanakan disini.  Nanti kalau keluarganya ada aset yang butuh pengawasan ekstra, ada komite tersendiri untuk itu sendiri, ada komite charity dan lainnya, sesuai dengan keluarga itu berbisnis di bidang apa,” urai Nadia.

Baca Juga  Tingkatkan Kesepahaman dan Kepatuhan Pajak, ALFI Dorong Pembentukan Tim Kerja dengan DJP 

Sementara, apabila family office sudah terbentuk dan tata kelolanya sudah baik, TheTitan.Asia dapat memberikan formalized structure atau legalisasiSebab TheTitan.Asia tidak mengubah tata kelola yang sudah mapan.

“Kita akan bantu simplify kalau mereka ada family office, karena pada umumnya mereka mempercayakan urusan administrasi ke satu orang. Untuk itu, kita akan bantu pakai tools agar lebih efektifBanyak kita temukan case di mana orang affluent dan bisnisnya besar, tapi dia kewalahan sendiri dengan asetnya, banyak aset yang dia lupa,” ujar Nadia.

Kelanggengan bisnis keluarga ini merupakan bagian penting dari perekonomian nasional dan memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *