in ,

Burberry Desak Pemerintah Inggris Kembalikan Skema Belanja Bebas Pajak untuk Turis

FOTO : IST

Burberry Desak Pemerintah Inggris Kembalikan Skema Belanja Bebas Pajak untuk Turis

Pajak.com, London  Para petinggi Burberry menekan Pemerintah Inggris untuk menghidupkan kembali skema belanja bebas pajak (tax-free shopping) bagi wisatawan mancanegara. Desakan ini disampaikan kepada Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves, jelang penyusunan anggaran musim gugur yang akan diumumkan pada 26 November mendatang. Para petinggi Burberry menilai, fasilitas pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi turis diperlukan untuk memulihkan daya saing ritel mewah Inggris.

Skema pengembalian PPN bagi pengunjung asing sebenarnya pernah menjadi daya tarik utama London sebagai pusat belanja global. Namun, fasilitas itu dihapus pada akhir 2020. Kebijakan tersebut sempat dihidupkan kembali sesaat pada 2022 di era Liz Truss, tetapi dibatalkan kembali beberapa minggu kemudian oleh Rishi Sunak.

Pihak Burberry menilai dampaknya sangat terasa. Dalam beberapa tahun terakhir, turis asal Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan Asia lebih memilih berbelanja barang mewah di Paris dan Milan—dua kota yang tetap memberikan insentif pengembalian pajak bagi pelancong asing. Perusahaan fesyen mewah ternama ini menyebut Inggris telah kehilangan potensi transaksi bernilai tinggi, lantaran tidak lagi menawarkan keuntungan harga yang kompetitif.

Chief Executive Officer Burberry Joshua Schulman mengungkapkan, Reeves memiliki peluang untuk memperbaiki situasi tersebut. Ia juga menegaskan pentingnya dukungan kebijakan Pemerintah Inggris yang dapat memulihkan belanja turis.

Baca Juga  Menkeu Inggris Rachel Reeves Beri Sinyal Kenaikan PPh Orang Pribadi

“Kami ingin melihat kebijakan progresif yang menghidupkan kembali belanja pengunjung internasional, yang mendukung lapangan pekerjaan dan merangsang pertumbuhan di seluruh ekonomi pariwisata,” kata Schulman dalam panggilan media di kantor pusat Burberry, dikutip Pajak.com, Sabtu (15/11/2025).

Ia menambahkan, mengubah skema pengembalian PPN bakalan menempatkan ritel mewah setara dengan negara-negara Eropa lainnya.

“Kami tahu bahwa bisnis turis kami di London menurun sejak pengembalian itu dihapus,” imbuh Schulman.

Chief Financial Officer Burberry Kate Ferry menilai, dampak jangka panjangnya cukup signifikan. Menurutnya, penjualan di Inggris saat ini berkontribusi kurang dari 10 persen terhadap total pendapatan global. Namun, potensi peningkatannya cukup besar jika arus wisatawan kembali kuat.

“Jelas saat ini [penjualan Inggris] hanya 10 persen, tapi itu jelas bisa tumbuh jauh lebih besar daripada itu jika kami memiliki lebih banyak pariwisata di sini,” kata Ferry kepada media.

Di tengah desakan kebijakan, Burberry juga melaporkan perkembangan kinerja terbaru. Perusahaan asal Inggris ini mencatat pertumbuhan penjualan toko sebanding (comparable store sales) sebesar 2 persen pada kuartal kedua—pertumbuhan pertama dalam dua tahun. Kerugian perusahaan selama enam bulan hingga akhir September juga turun hampir setengahnya.

“Kami telah mulai melihat pelanggan kembali ke merek yang mereka cintai, menghasilkan pertumbuhan penjualan toko sebanding untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Walaupun ini masih tahap awal dan masih banyak yang harus dilakukan, kini kami memiliki bukti bahwa Burberry Forward adalah jalur strategis yang tepat untuk memulihkan relevansi merek dan menciptakan nilai,” tutur Schulman.

Namun, sambung Schulman, perusahaan masih dalam proses restrukturisasi besar yang diumumkan pada Mei, yang berpotensi memangkas sekitar 1.700 pekerjaan secara global hingga 2027. Termasuk di dalamnya adalah penutupan shift malam di pabrik mantel hujan Burberry di West Yorkshire.

“Pembenahan ini ditujukan untuk merampingkan biaya dan mengembalikan profitabilitas,” ujarnya.

Ferry melaporkan, Burberry masih menjalankan program restrukturisasi yang diumumkan pada Mei, yang diperkirakan berdampak pada sekitar 1.700 posisi secara global hingga 2027. Termasuk di dalamnya adalah rencana mengakhiri seluruh shift malam di pabrik mantel hujan Burberry di West Yorkshire. Langkah efisiensi ini, menurut Ferry, diperlukan untuk menekan biaya dan memperkuat margin.

Dalam laporan terbarunya, Burberry membukukan laba operasi yang disesuaikan sebesar 19 juta pound sterling untuk enam bulan hingga akhir September, berbalik dari kerugian 41 juta pound sterling tahun lalu. Namun, beban restrukturisasi sebesar 37 juta pound sterling membuat perusahaan yang bermarkas di London ini masih mencatat rugi bersih 48 juta pound sterling.

Ferry memastikan, angka ini tetap lebih baik dibandingkan rugi 80 juta pound sterling pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kami menjalankan program transformasi besar selama musim panas, dan ya, kami menghadapi beberapa pos luar biasa yang cukup besar tahun ini terkait hal tersebut. Tetapi saat kami memasuki tahun depan, saya dapat membayangkan situasi di mana kami menghasilkan laba yang kuat dan arus kas bebas yang baik,” papar Ferry.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *