in ,

SMF Cetak Laba Bersih Rp432 Miliar, Naik 3 Persen hingga September 2025

FOTO : IST

SMF Cetak Laba Bersih Rp432 Miliar, Naik 3 Persen hingga September 2025

Pajak.com, Surakarta – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF mencatatkan kinerja positif sepanjang Januari hingga September 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp432 miliar, menegaskan perannya sebagai fiscal tools Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam menjaga stabilitas pembiayaan perumahan nasional.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF Bonai Subiakto menjelaskan bahwa di tengah tantangan ekonomi global SMF tetap berhasil menjaga kinerja keuangan. Hingga kuartal III-2025, SMF meraih pendapatan Rp2,42 triliun.

Kinerja tersebut turut ditopang oleh pertumbuhan aset yang mencapai Rp53,6 triliun, naik 6,7 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Angka ini mendekati posisi aset akhir 2024 yang berada pada Rp58,13 triliun.

“Peningkatan aset didukung likuiditas yang terus tumbuh, sebagian besar dari penerbitan surat utang di pasar,” jelas Bonai dalam konferensi pers di Surakarta, dikutip Pajak.com pada Minggu (16/11/25).

Dari sisi ekuitas, SMF mencatatkan peningkatan menjadi Rp20,905 triliun dari sebelumnya Rp20,580 triliun pada 2024. Bonai menambahkan bahwa proyeksi pendapatan hingga tutup tahun diperkirakan tetap melanjutkan tren peningkatan.

“Dalam tiga bulan ini kita terus bekerja keras untuk mencapai target yang telah kita tetapkan,” ujarnya.

Bonai mengakui bahwa ekspansi aset diikuti dengan kenaikan beban biaya bunga. Namun demikian, perseroan tetap mampu menumbuhkan laba bersih 3 persen menjadi Rp432 miliar dan optimistis performa 2025 dapat melampaui hasil tahun 2024 yang tercatat Rp540 miliar.

Menurut Bonai, pertumbuhan laba bersih tersebut mencerminkan ketahanan bisnis SMF di tengah tantangan ekonomi yang tumbuh berkelanjutan.

Indikator kesehatan keuangan SMF juga berada pada level yang solid. Return on Assets (ROA) tercatat 1,07 persen, return on equity (ROE) sebesar 2,82 persen, dan profit margin mencapai 17,68 persen. Adapun tingkat kredit bermasalah atau NPL gross berada pada angka sangat rendah, yaitu 0,003 persen.

“Kalau kita tidak bisa menjaga kualitas NPL, itu sangat berpengaruh terhadap angka-angka di atas karena margin kami sangat terbatas,” jelas Bonai.

Adapun, SMF pada bulan April 2025 lalu telah memperoleh rating internasional BBB dari lembaga pemeringkat global. Dengan capaian tersebut, SMF menegaskan posisinya sebagai tulang punggung pembiayaan sekunder perumahan yang dipercaya pemerintah untuk memperluas akses hunian layak bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *