in ,

SMF Catat “Backlog” Kepemilikan Rumah di Indonesia Tembus 9,87 Juta pada 2024

FOTO : IST

SMF Catat “Backlog” Kepemilikan Rumah di Indonesia Tembus 9,87 Juta pada 2024

Pajak.com, Surakarta – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF mengungkap kondisi backlog kepemilikan rumah di Indonesia yang masih menjadi tantangan besar pemerintah. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, jumlah backlog kepemilikan rumah di Indonesia mencapai 9,87 juta rumah tangga.

Sementara backlog Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) tercatat sebesar 25,3 juta unit. Dari jumlah tersebut, sekitar 9,08 juta rumah dihuni oleh masyarakat pada desil 1 sampai 3 sehingga menunjukkan urgensi pemenuhan hunian layak bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Direktur Bisnis SMF Heliantopo menjelaskan bahwa angka tersebut menjadi alasan pentingnya Program 3 Juta Rumah yang dicanangkan pemerintah. Ia menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya membangun rumah baru, melainkan juga memperbaiki kualitas hunian yang masuk kategori tidak layak.

“Berkaitan program 3 juta rumah. Karena kita juga menunggu sama-sama sebenarnya roadmap-nya 3 juta rumah itu seperti apa. Yang kita tahu memang bukan hanya membangun rumah, kalau bicara 3 juta rumah baru rasanya sih sangat-sangat luar biasa ya,” ujar Heliantopo dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Minggu (16/11/25).

Ia menambahkan bahwa terdapat dua jenis backlog yang perlu diatasi, yakni backlog kepemilikan yang saat ini hampir mencapai 9,9 juta dan backlog kelayakan hunian yang jumlahnya bahkan mencapai 21 juta unit. “Oleh karena itu kalau kita menjalankan 3 juta per tahun ya mungkin bicaranya termasuk di dalamnya kelayakan hunian,” jelasnya.

Sebagai fiscal tools Kementerian Keuangan (Kemenkeu) SMF terus memperkuat kontribusinya melalui dua instrumen utama, yaitu pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) dan pembiayaan mikro Griya Tunas. Pada skema KPR FLPP, SMF menyediakan pembiayaan sebesar 25 persen dari total program untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) memperoleh rumah dengan suku bunga tetap 5 persen dan tenor 20 tahun.

Sepanjang Januari hingga September 2025, SMF telah menyalurkan Rp3,59 triliun dengan total 87.164 unit rumah tervalidasi. Secara akumulatif, sejak program bergulir, SMF telah menyalurkan dana FLPP sebesar Rp29,92 triliun dengan dana leveraging Rp17,87 triliun sehingga menghasilkan 797.120 unit rumah tervalidasi.

Selain itu, pembiayaan mikro Griya Tunas yang diluncurkan sejak 2021 juga menjadi instrumen penting dalam mendukung peningkatan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan tidak tetap, termasuk pekerja informal. Melalui plafon pembiayaan hingga Rp50 juta dan tenor lima tahun, program ini memungkinkan penerima manfaat melakukan renovasi rumah agar lebih layak huni. Hingga September 2025, realisasi program ini mencapai 36.545 unit rumah tervalidasi.

Dengan berbagai langkah tersebut, SMF menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh pemenuhan target Program 3 Juta Rumah, baik dalam bentuk pembangunan rumah baru maupun peningkatan kualitas RTLH. Upaya ini turut memperkuat misi pemerintah dalam menyediakan akses hunian layak yang berkelanjutan serta mempercepat pengurangan backlog kepemilikan dan kelayakan hunian di Indonesia.

SMF memastikan bahwa seluruh program pembiayaan terus diarahkan untuk menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan sehingga percepatan penyelesaian permasalahan perumahan dapat berjalan lebih efektif.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *