in ,

Total Simpanan di Perbankan Rp 8.030 Triliun

Total Simpanan di Perbankan Rp 8.030 Triliun
FOTO: IST

Total Simpanan di Perbankan Rp 8.030 Triliun

Pajak.com, Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, total simpanan di perbankan mencapai sebesar Rp 8.030 triliun hingga akhir November 2022. Kategori saldo simpanan dengan nominal di atas Rp 5 miliar mengalami kenaikan.

Seperti diketahui, LPS mengategorisasikan simpanan di bank ke dalam tujuh tiering simpanan, mulai dari simpanan terkecil (Rp 100 juta ke bawah), hingga nominal simpanan terbesar (di atas Rp 5 miliar).

“Seluruh tiering simpanan mengalami kenaikan. Dengan kenaikan nominal simpanan terbesar terdapat pada tiering simpanan sampai Rp 100 juta sebesar 1,4 persen. Namun, secara distribusi, mayoritas simpanan di bank merupakan kelompok simpanan nominal besar di atas Rp 5 miliar yang menyerap 53,5 persen (dari jumlah nominal simpanan). Sebaliknya, kontribusi terkecil, yakni simpanan bernilai di atas Rp 100 juta – Rp 200 juta sebesar 5,1 persen, ” tulis LPS dalam laporannya, dkutip Pajak.com (27/12).

Berdasarkan jenisnya, kenaikan nominal simpanan paling banyak ada pada deposito dan tabungan. Sedangkan, simpanan berupa giro, deposit on call, dan sertifikat deposito mengalami penurunan. Berdasarkan distribusinya, 99 persen dari simpanan di bank berupa giro, tabungan, dan deposito. Adapun share terbesar ada pada deposito yang mencapai 36,5 persen.

Baca Juga  Wapres Dukung Bank Riau Kepri Jadi Bank Umum Syariah

“Kenaikan nominal simpanan terbesar terdapat pada jenis simpanan deposito sebesar 1,7 persen secara bulanan, sedangkan penurunan pertumbuhan nominal simpanan terdalam terdapat pada jenis simpanan sertifikat deposito sebesar -7,7 persen,” tulis kata LPS.

Sementara, berdasarkan valuta simpanan, sebanyak 84,8 persen merupakan simpanan dengan mata uang lokal rupiah, sisanya berupa valuta asing. Simpanan valas meningkat dalam sebulan 5,6 persen, sebaliknya simpanan rupiah turun 0,4 persen.

LPS juga mencatat, mayoritas simpanan itu dihimpun oleh kelompok bank modal inti (KBMI) 4 yang mencakup sebesar 51,4 persen. Namun, secara kinerja, kenaikan nominal simpanan tertinggi terjadi pada KBMI 3 sebesar 1,7 persen dalam bulanan.

“Walaupun nominal simpanan di bank naik, tetapi jumlah rekening di bank turun cukup tajam sebesar 3,2 persen dalam sebulan. Total rekening bank yang ada saat ini sebesar 489,1 juta,” kata LPS.

Baca Juga  BKF: Kebijakan Fiskal Kuat, Jalur Ekonomi Tepat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan, KBMI 1 adalah kelompok bank yang memiliki modal inti kurang dari Rp 6 triliun, KBMI 2 memiliki modal inti Rp 6 triliun-Rp 14 triliun, KBMI 3 untuk Rp 14 triliun-Rp70 triliun, dan KBMI 4 untuk lebih dari Rp 70 triliun. Saat ini, hanya ada empat bank yang tergolong KBMI 4, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Di bulan sebelumnya (Oktober 2022), posisi simpanan masyarakat di perbankan juga sudah mengalami peningkatan sebesar 3,7 persen menjadi Rp 7.996 triliun. Kenaikan masih ditopang oleh simpanan di atas Rp 5 miliar, sementara simpanan di bawah Rp 100 juta justru mengalami penurunan.

Ekonom PT Bank Central Asia David Sumual menegaskan, kenaikan nominal simpanan di perbankan itu bukan karena ketakutan masyarakat terhadap resesi.

Baca Juga  Enam Tahun Rugi, Bank Jago Cetak Laba Bersih Rp 14 M

“Kalau resesi terlalu hiperbola. Resesi di kawasan Eropa memang sudah pasti terjadi. Namun bagi Indonesia, situasi stagflasi dan inflasi yang tinggi justru menjadi keuntungan tersendiri karena perekonomian ditopang dari domestik. Ekonomi kita baik-baik saja dan posisi utang enggak seperti dulu. Exposure utang kita (dulu) mengkhawatirkan. Jadi sekarang, waspada boleh, jangan pesimis juga,” ungkap David, (8/12).

Berdasarkan kajiannya, belanja ritel justru terus mengalami peningkatan. Artinya, masyarakat sudah mulai melakukan aktivitas belanja secara masif. Terbukti dengan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,72 persen pada kuartal III-2022 dan penerimaan pajak melampaui target hingga 14 Desember 2022, yakni sebesar Rp 1.634,4 triliun atau 106 persen dari target.

“Banyak (masyarakat) berduit mulai realisasikan (belanja), banyak sektor bergerak dan durable goods, otomotif juga positif, mobil sudah double digit,” tambah David.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *