in ,

Investor Asal Singapura Suntik Modal ke Klinik Pintar

Investor Asal Singapura Suntik Modal ke Klinik Pintar
FOTO: IST

Pajak.com, Jakarta – Investor asal Singapura, Golden Gate Ventures (GGV) memimpin pendanaan seri A sebesar 4,15 juta dollar AS atau sekitar Rp 58 miliar ke startup kesehatan (telehealth) bernama Klinik Pintar. Selain Investor SIngapura Investasi seri A Klinik Pintar juga dilakukan oleh modal ventura lain, yakni PT Bundamedik Tbk (BMHS), Skystar Capital, dan Sequis Life.

Chief Executive Officer (CEO) Klinik Pintar Harya Bimo menjelaskan, fase pendanaan ini memantapkan langkah perusahaan membangun ekosistem kesehatan yang terhubung berbasis digital. Startup asal Indonesia ini akan fokus mengembangkan bisnis kesehatan di dalam negeri.

“Pendanaan seri A yang oversubscribed ini menandakan sinyal positif dari investor terkait roadmap Klinik Pintar untuk ekspansi jaringan,” kata Harya dikutip Pajak.com, pada Senin (22/11).

Baca Juga  SWI Rilis 26 Perusahaan Investasi Ilegal

Ia mengatakan, Klinik Pintar kini memiliki lebih dari 120 klinik di 60 kota dari Aceh sampai Papua. Klinik Pintar menargetkan 400 lebih klinik dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Untuk itu, Harya mengungkapkan, pendanaan seri A akan digunakan untuk menambah portofolio layanan baru, khususnya untuk ibu dan anak. Secara simultan, Klinik Pintar juga konsisten memperkuat dukungan rantai pasok (supply chain) untuk setiap kemitraan.

“Tambahan modal akan dipakai untuk menghubungkan jaringan klinik dalam ekosistem kesehatan yang terintegrasi dengan mitra pendukung, seperti rumah sakit, laboratorium, dan lainnya. Hal ini guna meningkatkan interoperabilitas jaringan. Rencana strategis yang kami siapkan diharapkan akan mempermudah klinik untuk mengembangkan usaha dan terus meningkatkan kualitas layanan,” kata Harya.

Baca Juga  Tip Pentingnya Mempersiapkan Dana Pensiun Sejak Dini

Secara teknis, Klinik Pintar tengah mengembangkan platform digital yang disebut Klinik OS (operating system). Ia menjelaskan, Klinik OS berperan mendigitalisasi operasional dan memberdayakan klinik melalui teknologi digital.

“OS meliputi pelayanan end-to-end secara online maupun offline, SOP (Standard Operating Procedure) menyeluruh, pengelolaan inventaris dan manajerial, dan menghubungkan secara digital antara sesama klinik di jaringan maupun dengan mitra pendukung lainnya,” jelas Harya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0