in ,

Ketersediaan Listrik Kawasan Perbatasan NTT-Timor Leste

Jatmiko mengungkapkan, untuk memberikan ketersediaan listrik di daerah perbatasan membutuhkan upaya yang keras. PLN harus menambah kapasitas pembangkit dengan mendatangkan 1 unit mesin 160 kilo Watt (kW) dan 1 unit trafo dari kota Kupang dengan waktu tempuh selama 7 jam perjalanan. Ia menceritakan, daerah Oepoli terletak di Kecamatan Amfoang Timur yang terkenal dengan medan yang terjal dan sulit dijangkau karena harus melewati banyak sungai dan anak sungai. Hingga kini PLN terus berupaya agar seluruh wilayah NTT dapat menyala 24 jam sehingga mendorong peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat.

PLN berkomitmen, pembangunan infrastruktur kelistrikan terus dilakukan oleh PLN Unit Induk NTT. Sebelumnya, di PLBN Motaain telah dilakukan perluasan jaringan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) untuk penyambungan listrik ke PLBN dengan daya sebesar 555 kVA dari Penyulang Atapupu Atambua. PLN juga memperluas jaringan SUTM di PLBN Mini dengan daya sebesar 240 kVA. Perluasan jaringan serupa juga dilakukan PLN untuk PLBN Motamasin dengan daya sebesar 555 kVA.

Baca Juga  ”Womenpreneurs” Perkuat Ekosistem Bisnis Kewirausahaan

Untuk mencukupi kebutuhan masyarakat, PLN terus mengupayakan peningkatan rasio elektrifikasi di daerah perbatasan Indonesia – Timor Leste. Antara lain dengan melakukan ekspansi jaringan baik jaringan tegangan menengah maupun jaringan tegangan rendah.

Selain itu, PLN membangun beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal, sehingga ketersediaan listrik di daerah perbatasan tercukupi. Untuk yang satu ini, PLN bekerja sama dengan PT Global Karya Mandiri sebagai Independent Power Producer (IPP) dalam membangun PLTS Fotovoltaik 1 MWp di Atambua, Kabupaten Belu. PLN juga membangun dua pembangkit listrik skala kecil di daerah Oepoli dan Naekake.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0