in ,

“Big Four” Kantor Akuntan Publik KPMG PHK 700 Karyawan

KPMG PHK 700 Karyawan
FOTO : IST

“Big Four” Kantor Akuntan Publik KPMG PHK 700 Karyawan

Pajak.com, Amerika Serikat – Financial Times merilis, kantor akuntan publik (KAP) ternama dunia, Klynveld Peat Marwick Goerdeler International Limited (KPMG), melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada hampir 2 persen tenaga kerjanya di Amerika Serikat (AS) atau sekitar 700 karyawan. Keputusan ini membuat KPMG menjadi big four KAP pertama yang melakukan PHK.

Seperti diketahui, big four KAP disematkan kepada KPMG, Ernst and Young (EY), Deloitte, dan PricewaterhouseCoopers. Keempat perusahaan ini juga disebut sebagai worldwide company karena mempunyai partner lokal/pekerja di pelbagai negara, termasuk Indonesia. Pascapandemi, big four KAP itu dikabarkan melakukan perekrutan secara besar-besaran. Contohnya, jumlah karyawan KPMG di AS naik lebih dari 2.000 menjadi 35.266 pada akhir 2021.

“Bisnis dan prospek kami tetap kuat. Namun, kami telah mengalami ketidakpastian berkepanjangan yang memengaruhi bagian tertentu dari bisnis Penasihat kami yang mendorong pertumbuhan besar dalam beberapa tahun terakhir,” kata juru bicara KPMG dikutip Pajak.com, (17/2).

Fenomena PHK ini dipicu oleh gejolak ekonomi global yang diyakini sangat menekan konsumen, sehingga tingkat permintaan di beberapa unit bisnis mengalami penurunan. Implikasinya, perusahaan keuangan mengalami penurunan performa yang berdampak pada pemangkasan karyawan. Hal ini juga tecermin pula pada kondisi perbankan di dunia.

Baca Juga  Anggaran Makan Bergizi Gratis Rp 71 T, Sri Mulyani Pastikan Sudah Perhitungkan Defisit APBN 

Pada November 2022, Barclays, bank universal multinasional yang berpusat di London, memangkas sekitar 200 posisi, baik di divisi perbankan maupun perdagangannya. Sementara, Citigroup Inc dilaporkan telah menghentikan sekitar 50 pekerjanya. Menurut laporan yang dimuat Bloomberg, perusahaan bank investasi dan jasa keuangan asal AS dan berkantor pusat di New York City ini memangkas peran perbankan di tengah aktivitas penerbitan ekuitas dan utang yang merosot.

Salah satu bank terbesar di Jerman, Deutsche Bank, juga berencana memisahkan puluhan staf dari daftar gajinya. Langkah ini berdampak pada organisasinya, karena akan mengancam nasib penasihat bank investasi serta sebagian besar bankir junior.

Hal senada juga menimpa Credit Suisse. Bank investasi dan jasa keuangan global yang didirikan dan berkantor pusat di Swiss ini mengumumkan pengurangan jumlah profesional dari 52.000 karyawan menjadi sekitar 43.000 orang. Credit Suisse memiliki rencana untuk memisahkan bank investasinya menjadi firma penasihat investasi dan pasar modal.

Baca Juga  Catat Tanggalnya! “Talkshow” Kopi dan Kompetisi Manual Brew di AOE 2024

Ada pula salah satu bank investasi terbesar di AS, Goldman Sachs, yang dikabarkan melakukan PHK sekitar 8 persen. Keputusan ini diambil perusahaan untuk menghadapi kondisi ekonomi global yang diproyeksi semakin menantang pada tahun ini.

“Kami terus melihat hambatan pada jalur pengeluaran kami, terutama dalam waktu dekat. Kami telah menjalankan rencana mitigasi pengeluaran tertentu, tetapi akan membutuhkan waktu. Pada akhirnya, kami akan tetap gesit dan kami akan mengukur perusahaan untuk mencerminkan peluang yang ditetapkan,” ungkap CEO Goldman David Solomon, (19/12).

Dalam beberapa bulan terakhir, banyak perusahaan teknologi juga melakukan PHK ribuan karyawan. Pada tahun 2022, diprediksi ada 120 ribu orang yang telah diberhentikan dari perusahaan teknologi ternama dunia, seperti Meta, Amazon, dan Netflix.

Pakar dari Universitas Stanford Jeffrey Pfeffer justru menilai, banyak perusahaan teknologi besar yang melakukan PHK terhadap karyawannya karena hanya mengikuti tren. Di sisi lain, ia mengakui adanya resesi pada bidang teknologi.

Baca Juga  Defisit APBN 2024 Diproyeksi Bertambah Rp 86,9 T dari PDB, Sri Mulyani Beberkan Penyebabnya

“PHK di industri teknologi pada dasarnya adalah sebuah contoh dari penularan sosial (social contagion). Apakah ada resesi teknologi?, ya. Apakah ada bubble dalam hal valuasi?, tentu saja. Apakah Meta merekrut terlalu banyak?, boleh jadi. Tetapi apakah itu alasan mereka memberhentikan karyawan?, tentu saja tidak. Meta punya banyak uang. Perusahaan-perusahaan itu semua profit. Mereka mem-PHK hanya karena perusahaan lain melakukannya,” ungkap Pfeffer, dikutip dari situs resmi Stanford University.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *