in ,

Joe Biden Kenakan Pajak Tinggi Perusahaan Migas

Joe Biden Kenakan Pajak Tinggi Perusahaan Migas
FOTO: IST

Joe Biden Kenakan Pajak Tinggi Perusahaan Migas

Pajak.com, Amerika Serikat – Presiden Amerika Serikat (AS) Joseph Robinette Biden atau Joe Biden menegaskan, Pemerintah AS akan kenakan pajak tinggi bagi perusahaan minyak dan gas (migas) yang memperoleh laba besar akibat dampak konflik geopolitik Ukraina dan Rusia.

Seperti diketahui, saat ini harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di AS juga telah mengalami kenaikan yang bermuara pada inflasi. Harga rata-rata di stasiun pengisian bakan bakar di sana mencapai 5 dollar AS sejak Juni 2022 atau mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Di sisi lain, biaya gas alam juga meningkat karena mobilisasi Eropa untuk mengimbangi impor yang hilang dari Rusia.

“Rekor keuntungan perusahaan minyak hari ini bukan karena mereka melakukan sesuatu yang baru atau inovatif. Keuntungan mereka adalah rejeki nomplok perang, rejeki nomplok dari konflik brutal yang melanda Ukraina dan melukai puluhan juta orang di seluruh dunia. Jika bisnis tidak bertindak menurunkan harga, mereka (perusahaan minyak dan gas) akan membayar pajak yang lebih tinggi atas kelebihan keuntungan mereka dan menghadapi pembatasan lain. Para pejabat akan bekerja dengan kongres untuk menyelidiki masalah ini,” jelas Biden dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com (2/11).

Baca Juga  Undang–Undang Harmonisasi Perpajakan, Membantu bukan Menyusahkan

Ia menekankan, perusahaan migas memiliki tanggung jawab untuk bertindak di luar kepentingan pribadi pemegang saham eksekutif. Perusahaan migas yang memperoleh laba besar di tengah kondisi perang, harus membantu konsumen dengan meningkatkan produksi dan kapasitas penyulingan untuk menurunkan harga.

“Pengecualian (pengenaan pajak tinggi) dapat diberikan bagi perusahaan minyak yang menginvestasikan keuntungan untuk menurunkan biaya konsumen dan meningkatkan produksi,” kata Biden.

Sebelumnya, pada akun Twitter pribadinya, Biden juga telah menegaskan, bahwa sudah waktunya bagi perusahaan raksasa minyak untuk membantu menurunkan harga bagi konsumen di tengah laba yang didapatkan sepanjang tahun 2022.

“Perusahaan menggunakan rekor keuntungan ini untuk membayar pemegang saham kaya mereka, alih-alih berinvestasi dalam produksi dan menurunkan biaya untuk orang Amerika Serikat. Ini tidak dapat diterima,” tulis Biden, (29/10).

Baca Juga  Cara Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan di Jabar

Ia mengatakan, masyarakat AS saat ini harus menghadapi inflasi yang terus meningkat akibat lonjakan harga migas akibar konflik geopolitik Rusia dan Ukraina sejak sekitar Februari 2022.

“Sudah waktunya bagi perusahaan-perusahaan ini untuk menghentikan pencatutan perang, sedikit membantu orang Amerika Serikat tapi masih mendapat hasil sangat baik,” ujar Biden.

Penegasan Biden dibanyak kesempatan itu terlontar beberapa hari setelah perusahaan ExxonMobil dan Chevron melaporkan pendapatan besar sepanjang 2022. Kedua perusahaan menegaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah setelah serangan Rusia ke Ukraina.

Pada kuartal III-2022, ExxonMobil mencetak laba hampir tiga kali lipat menjadi 19,7 miliar dollar. Capaian ini merupakan rekor pendapatan terbesar perusahaan. Sementara itu, keuntungan Chevron melonjak 84 persen menjadi 11,2 miliar dollar AS.

Baca Juga  Jenis-jenis Pajak yang Bisa Kita Temui di Kehidupan Sehari-hari

Chief Executive Officer (CEO) ExxonMobil Daren Woods menuturkan, keuntungan yang diperoleh perusahaan diberikan kembali untuk membayar dividen yang sejatinya dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

“Pendapatan dan arus kas diuntungkan dari peningkatan produksi, realisasi yang lebih tinggi, dan pengendalian biaya yang ketat. Hasil peningkatan laba yang kuat mencerminkan fokus kami pada fundamental dan investasi yang kami lakukan beberapa tahun lalu dan bertahan melalui pandemi,” tambah Woods.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings