in ,

Tren Pengalihan Aset Deposito ke SBN saat Pandemi

Ia juga menganalisis, pulihnya sebuah perekonomian biasanya akan lebih memberikan potensi kinerja yang lebih baik di instrumen saham. Sebagai contoh, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil naik hingga hampir tiga kali lipat selama periode pemulihan ekonomi dari tahun 2009-2013 pasca-krisis finansial global 2008. Potensi kembalinya dana investor asing ke pasar ekuitas domestik juga berpotensi menjadi katalis bagi IHSG.

“Hal yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana pemerintah dan bersama warga dapat bekerja sama untuk menanggulangi pandemi korona ini. Sehingga, SBN pun masih dapat menjadi pilihan instrumen investasi yang menarik bagi profil investor yang ingin mencari fitur pendapatan tetap (fixed income) mengingat yield yang lebih pasti,” kata Erik.

Baca Juga  Dapat KUR Rp 260 Triliun, BRI Lakukan Beberapa Strategi

Sebelumnya, Asisten Gubernur – Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agun juga mengungkapkan, bahwa terjadi pergeseran tren investasi dari deposito ke SBN. Dana pihak ketiga (DPK) sektor rumah tangga memang mengalami perlambatan, terutama deposito rumah tangga.

“Artinya mereka geser portofolio dari deposito ke aset-aset high return. Lalu dana itu ditampung di tabungan karena sangat fleksibel untuk melakukan investasi,” kata Juda.

Ia memandang, fenomena ini turut terjadi seiring dengan munculnya berbagai fintek yang bergerak di pasar modal. Fintek berhasil memberikan kemudahan dalam berinvestasi secara ritel, misalnya SBN. Ditambah lagi adanya penurunan suku bunga deposito.

“Mereka mencari instrumen dengan return lebih tinggi. Harapannya dengan investasi dengan imbal hasil yang lebih tinggi, ketika ekonomi dan mobilitas bergerak, kekayaan mereka naik dan bisa meningkatkan konsumsi,” kata Juda.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *