in ,

Penjualan SBN Laris Dibeli Investor Rp 10 Triliun

Penjualan SBN Laris Dibeli Investor
FOTO: IST

Penjualan SBN Laris Dibeli Investor Rp 10 Triliun

Pajak.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, penjualan sukuk ritel atau Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 10 triliun yang diterbitkan pemerintah, laris dibeli investor dalam beberapa menit saja. Ia menilai, potensi ini perlu didorong bersama oleh seluruh pemangku kepentingan.

Berdasarkan data yang dihimpun Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), SBN seri ST009 yang ditawarkan pemerintah pada periode 11-30 November 2022 lalu, telah dibeli oleh 35.397 investor, sebanyak 13.412 investor diantaranya merupakan investor baru. Instrumen investasi untuk pembiayaan negara ini dapat dibeli secara eceran mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 100 juta.

“DJPPR di Kemenkeu mencatat, penjualan sukuk ritel kita sebesar Rp 10 triliun, habis hanya dalam beberapa menit (setelah) diterbitkan. Anak buah saya mengatakan, lebih susah beli sukuk ritel dari pada tiket Blackpink. Untung saya tahu Blackpink itu apa,” kata Sri Mulyani dalam Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2022, di Gedung BEI, yang juga disiarkan secara virtual, dikutip Pajak.com (2/1).

Menurutnya, 35 ribu investor SBN menggambarkan banyaknya potensi pada instrumen investasi ritel yang harus didorong bersama, baik pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), hingga manajer investasi.

“Ini generasi muda juga yang nanti akan terus jadi pelaku bursa, baik di bursa saham, SBN, maupun surat berharga Indonesia lainnya. Saya sangat menghargai inovasi dari instrumen maupun teknologi untuk mendorong masyarakat semakin banyak (berinvestasi),” ungkap Sri Mulyani.

Baca Juga  8 Tips Aman Transaksi Kartu Kredit On-line

Ia pun mengapresiasi seluruh pemangku kepentingan yang berada di ekosistem pasar modal Indonesia, karena telah melewati tahun 2022 dengan baik, mulai dari investor, manajer investasi, sampai seluruh jajaran di BEI. Tahun 2022 merupakan fase yang sangat menantang setelah badai pandemi, negara lain justu tengah menghadapi pelemahan ekonomi akibat kondisi geopolitik Rusia dan Ukraina.

Amerika Serikat (AS), Jepang, Republik Rakyat Tiongkok merevisi pertumbuhan ekonomi sangat signifikan. Maka, Sri Mulyani memastikan, Pemerintah Indonesia akan berupaya mengeluarkan kebijakan yang tepat untuk dapat mendorong pertumbuhan investasi di BEI.

“Sekarang, jumlah yang sudah IPO (initial public offering) 825 perusahaan. Saya selalu meng-encourage kapan nembus 1.000. Tadi yang di pipeline masih 40 berapa, saya rasa harus di- encourage terus,” sebutnya.

Sri Mulyani menegaskan, pemerintah akan terus berupaya untuk menjaga momentum pemulihan dengan sangat kuat dan tetap tangguh, sehingga pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dan berkelanjutan. Dalam Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023, pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksi mencapai 5,3 persen.

“Tentu kita tidak boleh complacent, tidak boleh terlena. Optimisme tahun 2023 adalah bagus karena kita telah melewati tahun yang sungguh tidak biasa luar biasa kompleks, namun kita tidak underestimating 2023 akan menimbulkan another battle ground yang harus kita sikapi dengan kewaspadaan. Optimisme dan kewaspadaan adalah campuran yang terbaik dari sikap kita untuk memasuki tahun 2023,” ungkap Sri Mulyani.

Baca Juga  Jokowi dan Menlu Tiongkok Tingkatkan Hubungan Bilateral

Optimisme juga timbul karena Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) akan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap sektor keuangan, termasuk pasar modal. UU P2SK akan memperkuat tata kelola dan peningkatan kepercayaan publik menjadi salah satu fokus tujuan undang-undang ini.

“Karena kita sudah semakin menyadari bahwa investor apalagi generasi muda, mereka akan sangat sangat termotivasi. Mereka juga memiliki keinginan tahu yang tinggi dan semangat untuk berinvestasi, namun mereka juga perlu untuk dijaga kepercayaan dengan kredibilitas peraturan dan tata kelola kita,” kata Sri Mulyani.

Dengan begitu, ia berharap, di tahun mendatang UU P2SK akan semakin memperkuat pasar modal Indonesia.

“Saya berharap untuk tahun 2023 kita akan bersama-sama menyosialisasikan UU P2SK ini sehingga makin dipahami oleh seluruh masyarakat dan juga pelaku pasar di dalam rangka untuk memperkuat dan membangun sektor keuangan yang makin tangguh, makin resilien, makin bisa dipercaya dan menjadi tempat masyarakat Indonesia dan bahkan dunia untuk berinvestasi di Indonesia,” ujar Sri Mulyani.

Baca Juga  Butuh Rp 3.461 Triliun untuk Tangani Perubahan Iklim

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyebutkan, kapitalisasi pasar di BEI pada 28 Desember 2022 mencapai Rp 9.509 triliun atau naik 15,2 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2021, yakni Rp 8.256 triliun. Sementara, jumlah investor pasar modal tercatat sebesar 10,3 juta sepanjang 2022.

“Aktivitas perdagangan turut membukukan kenaikan yang signifikan dibandingkan akhir tahun lalu. Rata-rata RNTH (nilai transaksi harian) tercatat Rp 14,7 triliun atau naik 10 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu, yakni Rp 13,4 triliun,” ujar Iman.

Selanjutnya, frekuensi transaksi harian juga telah mencapai angka 1,31 juta kali transaksi atau naik 1,1 persen dibandingkan akhir tahun 2021. Kinerja ini merupakan nilai tertinggi jika dibandingkan dengan bursa di Kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sepanjang empat tahun terakhir.

“Pertumbuhan juga tecermin pada rata-rata volume transaksi harian yang telah mencapai 23,9 miliar saham atau naik 16 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Meningkatnya partisipasi investor di pasar modal Indonesia tentunya menjadi perhatian BEI untuk terus meningkatkan aktivitas sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. BEI telah melakukan lebih dari 11.000 kegiatan edukasi dengan jumlah peserta mencapai 1,8 juta orang sepanjang tahun 2022,” ungkap Iman.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *