in ,

BRI: Mitigasi Risiko dan Strategi Tantangan Ekonomi 

BRI: Mitigasi Risiko
FOTO: IST

BRI: Mitigasi Risiko dan Strategi Tantangan Ekonomi 

Pajak.com, Jakarta – Tantangan kondisi perekonomian saat ini terbesar datang dari eksternal, terutama inflasi yang sangat tinggi dan direspons oleh berbagai bank sentral dengan cara meningkatkan suku bunga. Tantangan lain juga datang dari konflik Ukraina dan Rusia yang memicu dan mengakibatkan adanya krisis pangan dan energi.

Melihat hal tersebut, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sunarso mengungkapkan bahwa untuk menghadapi situasi ekonomi saat ini karena tantangan-tantangan tersebut, pihaknya telah memetakan kondisi melalui empat matriks yang menjadi dasar antisipasi atau mitigasi risiko.

Pertama adalah ekonomi pulih, inflasi naik dan kualitas kredit memburuk. Pada kondisi tersebut, mitigasi yang dilakukan BRI diantaranya mempercepat proses write-offs agar recovery rate yang lebih tinggi, serta mempertahankan coverage ratio yang besar.

“Oleh karenanya BRI menyediakan coverage ratio terhadap NPL yang mencapai 266 persen, angka tersebut lebih dari cukup. Maka jika terjadi pemburukan situasi, BRI aman, dan nasabah juga aman. Kemudian tumbuh secara selektif, dengan pemantuan kualitas pinjaman yang intensif,” ungkapnya dalam keterangan resmi, dikutip Pajak.com pada Kamis (27/10).

Baca Juga  Cara Aman Investasi Emas Bagi Pemula

Kedua, seiring kondisi ekonomi membaik dengan inflasi terkendali dibarengi kualitas kredit membaik. Maka, langkah yang diambil adalah mempercepat proses write-offs supaya mendapat recovery rate yang lebih tinggi. Namun menurunkan coverage ratio, mengurangi bantalan untuk tumbuh. Kemudian melakukan enhance risk-based pricing model untuk meningkatkan daya saing produk dan kemudian Loan Portofolio Guideline (LPG) yang dikendorkan sehingga kredit dapat dipacu untuk lebihi cepat tumbuh.

Ketiga, kondisi ekonomi tetap stagnan namun inflasi tetap terkendali dengan kualitas kredit membaik. Maka, strategi yang diambil adalah tumbuh secara selektif dengan melonggarkan sedikit LPG menjadi moderat. Hal ini mempertahankan coverage ratio yang tinggi untuk bantalan dan melakukan simulasi stress-test untuk memastikan bisnis BRI aman.

Baca Juga  Pemanfaatan Teknologi Digital Dalam Berwakaf

Keempat, apabila yang paling buruk adalah ekonomi tetap stagnan dengan inflasi yang naik serta kualitas pinjaman memburuk.

“Maka strategi kami tumbuh secara terbatas, pengaturan LPG yang lebih ketat, mempertahankan coverage ratio yang tinggi. Itulah kira-kira 4 matriks kemungkinan kondisi ekonomi yang mungkin terjadi kedepan,” tambahnya.

Selain itu, Sunarso juga menyampaikan bahwa pihaknya optimistis dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan fokus kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sekaligus dapat menciptakan lapangan kerja ditengah tantangan ekonomi global.

Seperti diketahui, kondisi perekonomian global dan nasional masih dibayangi tantangan, bahkan dihadapkan dengan ancaman resesi. Oleh karena itu, BRI akan terus berperan aktif menciptakan kinerja positif melalui tiga strategi yang menjadi syarat utama pertumbuhan. Pertama, sumber pertumbuhannya jelas dan dipersiapkan untuk saat ini dan jangka panjang.

Baca Juga  Potensi Jaringan Ritel Modern Berbasis Pesantren

“Sebagai sumber pertumbuhan baru, BRI sendiri sudah masuk ke segmen ultra mikro melalui Holding Ultra Mikro yang resmi terbentuk sejak September 2021 bersama PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) atas inisiasi Kementerian BUMN,” ujarnya.

Kedua, adanya kecukupan modal. Dimana Sunarso menyebutkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal yang dimiliki BRI mencapai 25 persen.

“Cukup untuk tumbuh selama 4 tahun ke depan, maka labanya berapapun, tidak ada alasan untuk menahan laba menjadi modal. Jadi layak dibagikan, karena itu cukup,” katanya.

Ketiga adalah likuiditas yang melimpah, dimana saat ini rasio LDR nasional masih berada dilevel 82 persen.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings