in ,

PDB Global Turun Bila Tak Selesaikan Masalah Gender

“Tingkat inklusi keuangan perempuan di Indonesia lebih tinggi 5 persen daripada laki-laki. Akan tetapi, meskipun inklusi keuangan perempuan hampir sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki, tapi akses finansial terhadap perempuan yang ingin melakukan usaha masih berada di bawah,” ujar Sri Mulyani.

Ia menilai, saat ini masih adanya bias diantara para peminjam modal, sehingga peran perempuan terhadap perekonomian belum optimal. Padahal, bila semua pihak berinvestasi pada perempuan, berarti Indonesia telah menanamkan modal pada masa depan bangsa.

“Itulah mengapa kami masih memiliki pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesetaraan gender untuk akses finansial. Upaya mencapai kesetaraan akses keuangan harus dimulai dari akar, yakni kaum perempuan harus mendapat akses pendidikan yang setara dengan laki-laki. Dengan adanya literasi keuangan yang baik, kaum perempuan akan menciptakan peluang ekonomi bagi Indonesia,” jelas Sri Mulyani.

Baca Juga  KBI Bangun SDM Menuju “Digital Corporation”

Ia menekankan, akses pendidikan bagi kaum perempuan tidak hanya meningkatkan martabat perempuan, namun memiliki implikasi yang sangat penting pada pola asuh anak dan keluarga. Maka dari itu, perempuan merupakan titik awal kemajuan bangsa.

“Perempuan yang juga aktif sebagai pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dan pekerja sektor informal menjadi yang paling terdampak selama krisis pandemi COVID-19. Selain mengurus persoalan rumah tangga, mereka juga harus mempertahankan bisnis mereka dari badai krisis dan ancaman putus kerja,” ungkap Sri Mulyani.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

GIPHY App Key not set. Please check settings

Loading…

0