in ,

Sewakan Tanah atau Bangunan Kena PPh Final, Ini Tarif dan Contoh Penghitungannya 

Sewakan Tanah atau Bangunan Kena PPh Final
FOTO: IST

Sewakan Tanah atau Bangunan Kena PPh Final, Ini Tarif dan Contoh Penghitungannya 

Pajak.com, Jakarta – Undang-undang perpajakan mengenakan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat 2 (PPh final) kepada penyewa tanah atau bangunan. Jika sewakan tanah atau bangunan kena PPh Final, berapa tarif dan penghitungannya? Pajak.com akan mengulasnya untuk Anda.

Tarif dan cara penyetoran PPh final bagi penyewa tanah atau bangunan

  • Melakukan pemotongan PPh final sebesar 10 persen dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan;
  • Membuat bukti potong PPh final melalui DJPOnline;
  • Melakukan penyetoran PPh final yang telah dipotong tersebut dengan terlebih dahulu membuat kode billing (kode akun pajak 411128-403);
  • Penyetoran dilakukan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Misalnya: pemotongan PPh final dilakukan pada 10 Juni 2024, maka penyetoran pajaknya paling lambat dilakukan pada tanggal 10 Juli 2024; dan
  • Melakukan pelaporan PPh final melalui pajak.go.id atau melalui application service provider (ASP)/Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi Perpajakan (PJAP).
Baca Juga  Kanwil DJP Jatim III Resmikan 2 “Tax Center” Baru sebagai Pusat Edukasi dan Pelayanan Perpajakan 

Selain itu, apabila Anda pemilik tanah/bangunan, yang harus anda lakukan adalah:

  • Jika bertransaksi dengan orang oribadi, maka Anda harus melakukan penyetoran sendiri PPh atas penghasilan yang diperoleh sebesar 10 persen dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan;
  • Melakukan penyetoran PPh final dengan terlebih dahulu membuat kode billing (kode akun 411128-403);
  • Penyetoran dilakukan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya; dan
  • Melakukan pelaporan PPh final dengan menggunakan aplikasi e-SPT/e-Filing melalui djponline.pajak.go.id/PJAP paling lama tanggal 20 bulan berikutnya.
Contoh penghitungan PPh final atas penyewaan tanah atau bangunan

Ibra memiliki ruko di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk berjualan bakso. Karena ia ingin memindahkan usahanya ke Jakarta, ia menyewakan ruko tersebut kepada Rahayu. Kemudian, Rahayu menyewa ruko tersebut yang digunakan sebagai kedai kopi dengan harga Rp 40 juta per tahun dan membayar uang perawatan sebesar Rp 2 juta.

Baca Juga  Kurs Pajak 17 – 23 Juli 2024

Dari transaksi itu, Ibra memperoleh penghasilan dari sewa bangunan. Maka, kewajiban perpajakannya adalah sebagai berikut:

PPh final terutang = 10% x (Rp 40 juta + Rp 2 juta) = Rp 4,2 juta.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *