in ,

Insentif Pajak Masih Jadi Magnet, KEK Industropolis Batang Raih Investasi Rp456,76 Miliar

Foto: Pemkab Batang

Insentif Pajak Masih Jadi Magnet, KEK Industropolis Batang Raih Investasi Rp456,76 Miliar

Pajak.com, Batang – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang meraih investasi sebesar Rp456,76 miliar dari enam perusahaan. Menurut Direktur Utama KEK Industropolis Batang Ngurah Wirawan, insentif pajak masih menjadi salah satu magnet utama para investor.

Adapun komitmen investasi enam perusahaan ini secara resmi dituangkan dalam penandatanganan Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI) dan Tanah Komersial (PPTK), di Ballroom Gedung Pengelola KEK Industropolis Batang, Kabupaten Batang.

Wirawan meyakini bahwa kehadiran enam investor baru di KEK Industropolis Batang menegaskan kepercayaan investor untuk berekspansi di Indonesia. Enam investor tersebut adalah PT WKI, PT Novatex Industry Indonesia, PT Woodpark Mebel Indonesia, PT Isni Teknologi Konstruksi Indonesia, PT San Bao Canyin, dan PT Cinlong Culinary Indonesia.

“Langkah enam perusahaan ini diharapkan dapat meningkatkan foreign direct investment (FDI) dan membuka lapangan kerja baru di wilayah Batang dan sekitarnya,” ujar Wirawan dalam keterangan tertulis, dikutip Pajak.com (4/11/25).

Baca Juga  PER-11/2025 Permudah Perusahaan KEK dan Pelaku Kripto, TaxPrime Ungkap Alasannya!

Secara simultan, masuknya para investor juga akan menjadi embrio awal pengembangan jangka panjang KEK Industropolis Batang sebagai sentra ekonomi yang menciptakan ekosistem bisnis dan rekreasi terintegrasi.

“KEK Industropolis Batang tidak hanya berfokus pada industri manufaktur, tetapi juga akan dikembangkan menjadi destinasi wisata dan kuliner terpadu. Dua tenant komersial pertama yang bergabung di sektor food and beverage (F&B) adalah PT San Bao Canyin dan PT Cinlong Culinary Indonesia,” ungkap Wirawan.

Untuk diketahui, PT San Bao Canyin akan membangun fasilitas di atas lahan seluas 2.002 meter persegi dengan luas bangunan 493,5 meter persegi dan nilai investasi Rp4,3 miliar. Pembangunan tersebut dimulai pada November 2025 dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada Februari 2026.

Sementara itu, PT Cinlong Culinary Indonesia berinvestasi sebesar Rp717 juta dengan luas lahan 598 meter persegi. Pembangunan dijadwalkan mulai Desember 2025 dan beroperasi pada Juni 2026.

“Dari sektor industri, PT WKI berinvestasi Rp120 miliar di atas lahan seluas 16.440 meter persegi. Pembangunan dimulai pada April 2026 dan ditargetkan beroperasi Juni 2027. PT WKI dikenal sebagai produsen global sol luar (outsole) dan sol tengah (midsole) sepatu untuk berbagai merek ternama, seperti Nike, Adidas, Puma, Crocs, New Balance, dan Asics,” urai Wirawan.

Perusahaan asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tersebut juga memiliki fasilitas produksi di Myanmar, Thailand, dan Tangerang. Perusahaan ini diperkirakan akan menyerap hingga 1.000 tenaga kerja.

Baca Juga  Fasilitas Insentif Pajak Bisa Merugikan? TaxPrime Beri Kisi-kisi Ini ke Perusahaan dan Investor

Kemudian, PT Novatex Industry Indonesia yang merupakan perusahaan tekstil penghasil benang ramah lingkungan (eco-yarn) menanamkan investasi sebesar Rp102 miliar di lahan seluas 2,4 hektare. Perusahaan ini ditargetkan beroperasi pada 2026 dengan kapasitas produksi 4.000 ton per tahun, di mana 95 persen hasil produksinya berorientasi ekspor.

Investor lainnya, yakni PT Woodpark Mebel Indonesia yang merupakan anak perusahaan Mitragreen Industry Pte Ltd (Singapura). Perusahaan tersebut membangun pabrik furnitur dengan nilai investasi Rp225 miliar. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada April 2027 ini memproduksi furnitur untuk pasar Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Asia Tenggara.

Menurut Wirawan, pemilihan KEK Industropolis Batang sebagai lokasi ekspansi didasarkan pada kedekatan dengan bandara dan pelabuhan; akses tol; dukungan infrastruktur yang kuat; dan insentif pajak, khususnya tax holiday.

“Dengan tambahan enam tenant baru ini, KEK Industropolis Batang semakin memperkuat posisinya sebagai kawasan investasi strategis yang mengintegrasikan sektor industri, komersial, dan pariwisata dalam satu ekosistem berkelanjutan,” pungkasnya.

 

 

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *