in ,

Donald Trump Ancam Pajak Impor 100 Persen untuk Obat yang Tidak Diproduksi di AS

Foto: Dok. The White House

Donald Trump Ancam Pajak Impor 100 Persen untuk Obat yang Tidak Diproduksi di AS

Pajak.com, Washington D.C.  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menggebrak kebijakan perdagangan dengan mengumumkan tarif impor baru yang menyasar industri farmasi. Mulai 1 Oktober 2025, obat bermerek dan berpaten yang tidak diproduksi di AS akan dikenai pajak impor hingga 100 persen. Namun, kebijakan ini dikecualikan bagi perusahaan yang sedang membangun fasilitas manufaktur farmasi di dalam negeri.

“Kami akan memberlakukan tarif 100 persen untuk setiap produk farmasi bermerek atau berpaten, kecuali perusahaan sedang membangun pabrik manufaktur farmasi di Amerika,” tulis Trump di platform Truth Social, dikutip Pajak.com, Sabtu (27/9/2025).

Trump menyatakan, tarif tersebut berlaku pada semua produk farmasi impor, kecuali perusahaan sudah memulai pembangunan pabrik di AS, baik yang masih dalam tahap peletakan batu pertama maupun yang sudah berjalan.

“Karena itu, tidak akan ada tarif untuk produk farmasi ini jika pembangunan telah dimulai,” kata Trump.

Ancaman tarif ini merupakan kelanjutan dari sikap keras Trump terhadap impor obat-obatan. Sebelumnya, pada Agustus 2025, ia sempat memperingatkan bahwa pajak impor farmasi bisa melonjak hingga 250 persen. Ia menyebut, tarif awal akan dimulai dari angka rendah, lalu meningkat bertahap hingga 150 persen dan pada akhirnya bisa mencapai 250 persen dalam waktu setahun hingga setahun setengah.

Baca Juga  GNV Consulting Kupas PMK 112/2025: Penggunaan “Tax Treaty” Kini Lebih Ketat

Industri farmasi India disebut-sebut bakal menjadi pihak yang paling terpukul. Analisis Bloomberg mencatat, sekitar 65 persen resep pil kontrasepsi di AS pada 2024 diproduksi oleh perusahaan India seperti Glenmark Pharmaceuticals Ltd dan Lupin Ltd. Selain itu, lebih dari 50 persen obat tekanan darah tinggi dan depresi di AS juga dipasok dari India. Kontribusi perusahaan asal India untuk obat kolesterol mencapai 43 persen, sementara obat asma dan penyakit paru obstruktif kronis (COPD) sebesar 27 persen.

Menurut data IQVIA, pasokan obat dari India telah menghemat biaya sistem kesehatan AS hingga 220 miliar dolar AS pada 2022. Bahkan, empat dari sepuluh resep obat di AS tahun lalu dipenuhi oleh merek India. Tak hanya itu, sejumlah produsen besar seperti Sun Pharmaceutical Industries Ltd dan Gland Pharma Ltd bergantung pada pasar AS untuk lebih dari sepertiga pendapatannya.

Baca Juga  Aturan Baru P3B: Praktisi Soroti Tantangan Perluasan Pengujian “Beneficial Owner” bagi Wajib Pajak

Di luar farmasi, Trump juga mengumumkan tarif baru untuk sejumlah produk impor lain, yaitu 50 persen untuk kabinet dapur dan vanity kamar mandi, 30 persen untuk furnitur berlapis kain, serta 25 persen untuk truk berat. Trump beralasan tarif tersebut dibutuhkan untuk melindungi produsen dalam negeri sekaligus memperkuat keamanan nasional.

“Produsen truk besar seperti Peterbilt, Kenworth, Freightliner, dan Mack Trucks harus dilindungi dari serbuan luar,” katanya.

Kebijakan tarif baru ini menuai peringatan dari para ekonom karena berpotensi meningkatkan harga barang, menekan lapangan kerja, dan memperburuk inflasi. Bahkan, Kepala The Fed Jerome Powell sebelumnya sudah mengingatkan bahwa kenaikan harga barang akibat tarif menjadi salah satu penyebab utama inflasi di AS tahun ini.

AS pada 2024 mengimpor produk farmasi dan medis senilai hampir 233 miliar dolar AS. Jika tarif impor benar-benar diterapkan, harga obat-obatan di AS berpotensi melonjak dua kali lipat. Kondisi ini bisa mengguncang masyarakat karena biaya kesehatan meningkat, termasuk anggaran Medicare dan Medicaid.

Baca Juga  Aturan Baru P3B: Praktisi Soroti Tantangan Perluasan Pengujian “Beneficial Owner” bagi Wajib Pajak

Meski demikian, Gedung Putih mengklaim ancaman tarif sebelumnya telah mendorong sejumlah perusahaan farmasi global seperti Johnson & Johnson, AstraZeneca, Roche, Bristol Myers Squibb, dan Eli Lilly untuk mengumumkan investasi baru di fasilitas produksi AS. Namun, Kamar Dagang Kanada memperingatkan bahwa kebijakan tersebut bisa menimbulkan konsekuensi serius bagi pasien.

“Kenaikan harga segera, tekanan pada sistem asuransi, kekurangan pasokan di rumah sakit, hingga risiko pasien menunda atau tidak membeli obat penting,” jelas Wakil Presiden Strategi dan Rantai Pasok Kamar Dagang Kanada Pascal Chan.

Tarif impor yang diumumkan Trump menambah ketidakpastian bagi perekonomian AS, yang saat ini menghadapi pasar tenaga kerja yang melemah dan inflasi yang tinggi. Namun, Trump tetap bersikeras tarif adalah kunci untuk mendorong investasi pabrik di dalam negeri. “Tidak ada inflasi. Kami mengalami kesuksesan luar biasa,” tegasnya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *