in ,

IHSG Ditutup 8.644,26 dengan Kapitalisasi Pasar Rp15.810 Triliun, OJK: Pasar Modal Indonesia Resiliensi di 2025!

Foto: OJK

IHSG Ditutup 8.644,26 dengan Kapitalisasi Pasar Rp15.810 Triliun, OJK: Pasar Modal Indonesia Resiliensi di 2025!

Pajak.com, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kinerja pasar modal Indonesia yang menunjukkan resiliensi, solid, dan berintegritas sepanjang tahun 2025 di tengah ketidakpastian kebijakan moneter, tensi geopolitik, tekanan, dan sentimen perdagangan. Resiliensi tersebut tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup pada level 8.644,26 dengan kapitalisasi pasar menembus Rp15.810 triliun pada (30/12/25).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menuturkan bahwa pertumbuhan kapitalisasi pasar sepanjang tahun 2025 terjadi seiring peningkatan aktivitas transaksi, penghimpunan dana, serta lonjakan jumlah investor domestik khususnya kalangan generasi muda.

Menurutnya, kinerja positif tersebut merupakan hasil kolaborasi erat OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), industri, dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal indonesia.

“Pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat. Berbagai tantangan telah menguji ketangguhan dan ketahanan kita dalam mendorong pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan memperkokoh fondasi Pasar modal Indonesia ke depan. Capaian ini tentu tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil dari kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” ujar Inarno dalam keterangan tertulis, dikutip Pajak.com (31/12/25).

Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK Eddy Manindo Harahap pun membeberkan kinerja pasar modal hingga 19 Desember 2025. Ia menyebutkan, IHSG tumbuh 22,10 persen ytd dan ditutup pada level 8.644,26, dengan kapitalisasi pasar menembus Rp15.810 triliun atau tumbuh 28,16 persen ytd.

“Capaian ini melampaui target Roadmap Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dengan rasio market cap terhadap PDB 2024 sebesar 71,41 persen. Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga menguat 12,10 persen ytd ke level 440,19,” ungkap Eddy.

Industri pengelolaan investasi mencatat dana kelolaan Rp1.039 triliun atau tumbuh 24,16 persen ytd. Penghimpunan dana mencapai Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum, termasuk 18 emiten baru saham dan 2 emiten EBUS, melampaui target Rp220 triliun. Sementara penghimpunan dana Securities Crowdfunding (SCF) tercatat Rp1,80 triliun secara akumulatif dari 968 penerbit.

Dari sisi perdagangan karbon, volume transaksi akumulatif sejak 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025 mencapai 1,6 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai Rp80,75 miliar, diikuti partisipasi 150 perusahaan dan ketersediaan unit karbon 2,67 juta ton CO2 ekuivalen.

Pertumbuhan investor ritel juga mencatatkan rekor baru. Jumlah SID bertambah 5,34 juta investor baru, sehingga total mencapai 20,2 juta SID, dengan 79 persen didominasi generasi di bawah 40 tahun, menegaskan momentum inklusi dan pendalaman basis investor domestik.

Dalam rangka menjaga integritas pasar, sepanjang 2025 OJK telah melakukan 219 pemeriksaan teknis dan 155 pemeriksaan khusus pada dugaan pelanggaran, dengan 116 kasus terkait transaksi saham. OJK menjatuhkan 120 sanksi administratif kasus pelanggaran, 1.180 sanksi keterlambatan laporan, dan 65 sanksi non-kasus lainnya dengan sanksi berupa enam pencabutan izin, enam perintah tertulis, dan 329 peringatan tertulis, dengan total denda administratif Rp123,3 miliar.

OJK menerbitkan 10 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) dan enam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK)/Peraturan Anggota Dewan Komisioner (PADK), diantaranya POJK 1/2025 tentang Derivatif Keuangan berbasis Efek sebagai milestone pengawasan derivatif dengan underlying Efek; POJK 9/2025 tentang Dematerialisasi Efek Ekuitas dan Aset Tidak Diklaim; serta POJK 15/2025 terkait pemeringkatan Reksa Dana dan Manajer Investasi berbasis rating/ranking.

Secara simultan, OJK meluncurkan buku Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan pada 15 Juli 2025 sebagai rujukan industri dan publik dalam memperkuat ekosistem ekonomi hijau.

Kemudian, mengintegrasikan layanan yang dilakukan melalui penyatuan SPRINT OJK dan Sistem Pendaftaran Efek secara Elektronik Kustodian Sentral Efek Indonesia (SPEK KSEI) untuk pendaftaran reksa dana, mewujudkan proses perizinan yang lebih cepat, akurat, dan terpusat.

Memasuki 2026, OJK menetapkan empat agenda strategis yaitu pendalaman pasar (penguatan supply, demand, dan infrastruktur pengawasan), peningkatan integritas pasar (efektivitas sanksi dan kualitas emiten), penguatan kelembagaan perusahaan efek dan manajer investasi (ketahanan siber dan pengendalian internal), serta pengembangan keuangan berkelanjutan (perluasan pengguna jasa bursa karbon dan roadmap keberlanjutan 2026–2030).

OJK bersama SRO pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah, industri, dan masyarakat guna mendukung program strategis nasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *