in ,

KSSK Sepakati Stabilitas Keuangan dalam Kondisi Normal

Ketiga, kenaikan harga komoditas dunia yang mendorong kinerja ekspor Indonesia. Kinerja ekspor dan impor juga mengalami lonjakan tajam, masing-masing tumbuh 31,78 persen dan 31,22 persen.

Keempat, konsumsi pemerintah tumbuh tinggi 8,06 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, konsumsi masyarakat—yang mencakup sekitar 55 persen dari total produk domestik bruto (PDB)—mampu tumbuh 5,93 persen. Hal ini dikarenakan faktor base effect momentum Ramadan dan Idulfitri, berbagai kebijakan pemerintah dalam mendukung daya beli masyarakat melalui program bantuan sosial, diskon tarif listrik, relaksasi PPnBM kendaraan bermotor, relaksasi pajak pertambahan nilai (PPN) perumahan.

Kelima, sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sekitar 20 persen terhadap PDB nasional berperan sebagai mesin pertumbuhan, tumbuh 6,58 persen. Kemudian sektor perdagangan tumbuh 9,44 persen dan konstruksi 4,42 persen.

Baca Juga  THR Tak Dibayarkan Perusahaan, Begini Cara Melaporkannya ke Kemenaker

Kendati demikian, dunia masih perlu mewaspadai ancaman penyebaran COVID-19 varian delta. Berbagai negara kini mengalami kenaikan kasus positif, termasuk Indonesia.

“Varian Delta telah mendorong diberlakukannya pembatasan mobilitas PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) yang diperkirakan mengurangi aktivitas ekonomi, khususnya konsumsi, investasi, dan ekspor. Secara sektoral, PPKM juga akan berdampak pada sektor-sektor yang bergantung pada mobilitas masyarakat, seperti perdagangan, transportasi, serta hotel dan restoran. Oleh karena itu, ancamana varian delta menjadi downside risk bagi outlook pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2021,” jelas Sri Mulyani.

Ditulis oleh

Baca Juga  Airlangga Tegaskan Rencana Aksi Kelapa Sawit Berkelanjutan

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *